KORAN PRIORITAS.com — Budi Jojo: Dari Jurnalisme Investigasi hingga Strategi Komunikasi Pemerintah
Lebih dari tiga dekade berkecimpung di dunia jurnalistik membuat Stephanus Slamet Budi Rahardjo akrab dengan perubahan wajah media Indonesia. Dikenal sebagai Budi Jojo, ia melewati perjalanan dari ruang redaksi, jurnalisme investigasi, pengelolaan media, literasi siber, penulisan biografi, hingga strategi komunikasi pemerintah.
Nama lengkapnya Stephanus Slamet Budi Rahardjo.
Di lingkungan media, ia lebih dikenal sebagai Budi Jojo atau S.S. Budi Raharjo. Sebagian kolega juga mengenalnya sebagai Budi Matra, merujuk pada kedekatannya dengan Majalah MATRA, atau Jojo Eksekutif karena kiprahnya bersama Majalah EKSEKUTIF.
Perjalanan panjang tersebut memperlihatkan satu benang merah: komunikasi dan informasi.
Budi Jojo tumbuh dari tradisi jurnalistik yang menempatkan verifikasi, ketekunan mencari fakta, dan kemampuan bercerita sebagai fondasi pekerjaan wartawan. Pengalaman itu kemudian berkembang ketika ia memasuki dunia pengelolaan media, organisasi pers, komunikasi digital, hingga strategi komunikasi kelembagaan.
Ditempa di Ruang Redaksi
Karier jurnalistik Budi Jojo bermula ketika ia menjadi pemagang di Majalah SWA Sembada. Ia kemudian tumbuh dalam lingkungan manajemen Majalah TEMPO, sebuah periode yang turut membentuk cara pandangnya terhadap profesi wartawan.
Dalam perjalanan tersebut, ia berkesempatan belajar dan bekerja di lingkungan yang mempertemukannya dengan sejumlah nama senior dalam dunia jurnalistik, seni, dan media, antara lain Fikrie Jufri, Goenawan Muhamad, iN. Riantiarno, Kemala Atmojo, Arif Bargot Siregar, Usamah Hisyam, Firmiani Darsjaf, Dedet R. Moerad, Wibowo Soemadji, dan Bens Leo.
Fondasi jurnalistik itu diperkuat melalui pendidikan khusus investigative reporting lewat program beasiswa yang melibatkan Ford Foundation, LP3Y, dan Institut Studi Arus Informasi (ISAI).
Jurnalisme investigasi memberikan warna tersendiri pada perjalanan profesionalnya. Bagi Budi, sebuah berita bukan sekadar apa yang terlihat di permukaan.
Wartawan harus mampu memahami konteks, mencari dokumen, menemui sumber yang tepat, melakukan verifikasi, dan menemukan cerita di balik sebuah peristiwa.
Tradisi itulah yang kemudian dibawanya ketika berkarya di Majalah MATRA.
Majalah yang dikenal dengan tulisan profil, gaya hidup, serta kisah di balik kehidupan para tokoh tersebut menjadi salah satu bagian penting perjalanan kariernya. Kedekatannya dengan MATRA bahkan membuat nama “Budi Matra” melekat di kalangan tertentu.
Ia kemudian dipercaya menjadi Pemimpin Redaksi Majalah MATRA dan Matranews.id.
Pada sisi lain, Budi Jojo juga bergerak di media bisnis. Ia memimpin Majalah EKSEKUTIF dan Eksekutif.com sebagai CEO. Media yang telah hadir sejak 1979 tersebut berkembang mengikuti perubahan zaman, dari tradisi majalah cetak menuju ekosistem media digital.
Pengalamannya tidak berhenti pada media cetak dan portal berita.
Budi pernah mengembangkan konsep TV Magazine melalui Q Channel dan TV Swara. Program berbentuk feature dan berita tersebut didistribusikan melalui jaringan televisi lokal dan satelit. Dalam proyek itu ia menjalankan beberapa peran sekaligus: pemimpin redaksi, direktur program, hingga presenter.
Ia juga terlibat dalam pengembangan sejumlah media digital seperti HarianKami.com, BeritaSenator.com, dan Tiras.id.
Dengan demikian, perjalanan Budi Jojo praktis melintasi tiga generasi media: cetak, televisi, dan digital.
Ketika Media Berpindah ke Dunia Digital
Datangnya internet mengubah hampir seluruh pola kerja industri pers.
Kecepatan menjadi tuntutan. Distribusi berita tidak lagi bergantung pada percetakan dan jaringan distribusi fisik. Media sosial kemudian membuat setiap orang dapat menjadi produsen sekaligus penyebar informasi.
Budi Jojo melihat perubahan itu bukan hanya sebagai persoalan teknologi, tetapi juga tantangan terhadap kualitas jurnalistik.
Ia kemudian terlibat dalam pengorganisasian media digital dan pernah dipercaya memimpin Asosiasi Media Digital Indonesia (AMDI). Ia juga aktif dalam Forum Pimpinan Media Digital Indonesia.
Perhatian tersebut berkembang ke persoalan keamanan ruang digital.
Melalui berbagai aktivitas literasi digital dan keterlibatannya dengan komunitas keamanan siber, termasuk Indonesia Cyber Security Forum, Budi menaruh perhatian pada persoalan hoaks, disinformasi, perlindungan data, serta pentingnya masyarakat memahami risiko dunia digital.
Baginya, persoalan media digital bukan semata-mata siapa yang paling cepat menyampaikan informasi.
Pertanyaan yang lebih penting justru: siapa yang dapat dipercaya?
Di tengah banjir informasi, kredibilitas menjadi modal utama sebuah media.
Dari Kampanye Anti-Narkoba hingga Desa
Ada bagian lain dalam perjalanan Budi Jojo yang tidak selalu bersinggungan langsung dengan industri media: gerakan pencegahan penyalahgunaan narkotika.
Keterlibatannya berlangsung sejak periode Bakolak Inpres No. 6 Tahun 1971, kemudian melalui berbagai aktivitas sosial dan organisasi seperti LSM Bersama dan RIDMA Foundation.
Melalui jalur tersebut, ia terlibat dalam komunikasi dan edukasi mengenai bahaya narkotika kepada masyarakat.
Ia juga pernah bertugas dalam lingkungan Badan Narkotika Nasional Provinsi (BNNP) DKI Jakarta serta terlibat dalam pengelolaan Majalah BNN.
Salah satu pendekatan komunikasi yang pernah dikembangkannya adalah gagasan “Desa Cegah Narkoba”.
Konsepnya sederhana: informasi mengenai bahaya narkoba harus sampai ke masyarakat dengan bahasa yang mudah dipahami. Salah satu medianya bahkan berupa koran dinding di tingkat desa.
Pendekatan itu memperlihatkan prinsip komunikasi yang terus muncul dalam perjalanan Budi: pesan yang baik bukan pesan yang terdengar paling canggih, melainkan pesan yang dipahami oleh orang yang menerimanya.
Mengajarkan bahwa Menulis Itu Gampang
Setelah puluhan tahun bekerja sebagai wartawan dan pengelola media, Budi Jojo mulai membagikan pengalamannya melalui pelatihan penulisan.
Ia mengembangkan konsep Media Coach dengan tagline “Menulis Itu Gampang”.
Pelatihan tersebut tidak hanya diperuntukkan bagi wartawan muda. Aparatur sipil negara, pegawai BUMN, praktisi humas, dan kalangan profesional juga menjadi peserta.
Fokusnya terutama pada kemampuan menemukan sudut pandang tulisan, menyusun informasi, membuat feature, serta mengubah data dan kegiatan kelembagaan menjadi cerita yang menarik dibaca.
Sejumlah institusi pernah menjadi bagian dari perjalanan pelatihan tersebut, antara lain Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat, Kedutaan Besar Kerajaan Belanda, dan PT Telkom Indonesia.
Budi juga memasuki wilayah penulisan biografi.
Menulis biografi baginya memiliki kedekatan dengan jurnalisme investigatif. Penulis harus mewawancarai banyak orang, membuka arsip, mencocokkan ingatan dengan dokumen, kemudian menyusun perjalanan seseorang dalam konteks zamannya.
Di antara karya yang pernah ditanganinya adalah penulisan mengenai mantan Kasum ABRI Letnan Jenderal TNI Soeyono dan mantan Kepala Staf TNI Angkatan Laut Laksamana TNI Ade Supandi.
Masuk ke Strategi Komunikasi Pemerintah
Perjalanan panjang memahami media, opini publik, dan perubahan perilaku masyarakat kemudian membawa Budi Jojo ke wilayah komunikasi pemerintahan.
Ia dipercaya menjadi Tenaga Ahli Madya pada Deputi I Badan Komunikasi Pemerintah (Bakom RI) yang menangani bidang strategi dan komunikasi.
Di sini posisi Budi berubah.
Jika selama menjadi wartawan ia berada pada sisi yang mengajukan pertanyaan kepada institusi, kini pengalaman tersebut digunakan untuk membantu institusi memahami bagaimana masyarakat dan media akan membaca sebuah kebijakan.
Pengalaman sebagai wartawan justru menjadi modal.
Seorang jurnalis terbiasa mencari celah informasi yang belum terjawab. Ia memahami pertanyaan yang kemungkinan akan muncul. Ia juga mengetahui bagaimana sebuah kalimat dapat berubah menjadi judul berita, bagaimana isu kecil dapat berkembang menjadi kontroversi, serta bagaimana kekosongan informasi dapat diisi oleh spekulasi.
Dalam komunikasi pemerintah, kemampuan membaca risiko seperti itu menjadi penting.
Pekerjaan komunikasi tidak cukup hanya menghasilkan siaran pers. Di belakangnya terdapat pemetaan isu, analisis risiko reputasi, penyusunan narasi, koordinasi pesan, antisipasi pertanyaan publik, hingga mitigasi ketika sebuah isu berkembang menjadi krisis.
Di titik itulah pengalaman puluhan tahun di ruang redaksi menemukan fungsi yang berbeda.
Bukan untuk mengendalikan pemberitaan, melainkan membantu kebijakan pemerintah diterangkan kepada masyarakat secara jelas, terukur, transparan, dan dapat dipertanggungjawabkan.
Wartawan yang Beradaptasi
Perjalanan Stephanus Slamet Budi Rahardjo pada akhirnya juga merupakan cerita tentang perubahan industri media Indonesia.
Ia memulai perjalanan ketika majalah dan surat kabar masih menjadi kekuatan utama pembentuk opini. Ia mengalami zaman televisi berkembang, menyaksikan internet mengubah distribusi berita, lalu memasuki periode ketika media sosial dan kecerdasan buatan mengubah kembali cara masyarakat memperoleh informasi.
Teknologinya berubah.
Platformnya berganti.
Namun prinsip dasarnya tidak banyak berubah: informasi membutuhkan kredibilitas.
Lebih dari 35 tahun perjalanan profesional membuat Budi Jojo berada pada persimpangan beberapa dunia sekaligus—jurnalisme, bisnis media, organisasi pers, literasi siber, pendidikan penulisan, advokasi sosial, dan komunikasi pemerintah.
Pengalaman itu pula yang menjelaskan mengapa perjalanan seorang wartawan tidak selalu berakhir di ruang redaksi.
Ada saatnya kemampuan membaca fakta, memahami manusia, mengurai persoalan, dan menyusun narasi dibutuhkan di tempat lain.
Bagi Budi Jojo, ruang itu kini berada dalam strategi komunikasi publik.
Dan mungkin justru di situlah bekal paling lama dari seorang wartawan tetap berguna: mendengar sebelum berbicara, memeriksa sebelum menyimpulkan, dan memahami sebelum menjelaskan.










