Purbaya Dicopot, Keluarga Justru Lega: Akhirnya Bapak Bisa Tidur Nyenyak

oleh -0 views
oleh

KORAN PRIORITAS.comPurbaya Dicopot, Keluarga Justru Lega: “Akhirnya Bapak Bisa Tidur Nyenyak”

Pencopotan Purbaya Yudhi Sadewa dari kursi Menteri Keuangan pada 14 September 2026 semula merupakan berita politik dan ekonomi. Namun beberapa jam setelah Presiden Prabowo Subianto menggantinya dengan Suahasil Nazara, cerita bergeser ke ruang yang lebih personal: keluarga Purbaya.

Istri dan anak Purbaya sama-sama buka suara. Bukan tentang angka defisit, penerimaan pajak, atau postur APBN. Mereka berbicara tentang hal yang lebih sederhana: tidur, kelelahan, tekanan pekerjaan, dan kehidupan Purbaya setelah tidak lagi menjadi menteri.

Yudo Achilles Sadewa, putra Purbaya, bahkan menyambut perubahan itu dengan nada yang terdengar seperti kelegaan.

“Akhirnya bapak bisa tidur nyenyak, guys.”

Dalam video yang beredar di media sosial, Yudo mengatakan ayahnya kini kembali menjadi trader.

“Jadi trader lagi bapak, nggak jadi menteri lagi, guys. Balik jadi trader.”

Kalimat pendek itu kemudian menjadi pintu masuk bagi pertanyaan yang lebih besar: seberat apa sebenarnya satu tahun Purbaya berada di kursi bendahara negara?

Dari kursi menteri ke meja trading

Purbaya menjadi Menteri Keuangan pada 8 September 2025, menggantikan Sri Mulyani Indrawati. Tepat setahun kemudian, ia harus meninggalkan kursi tersebut.

Pada 14 September 2026, Prabowo melantik Suahasil Nazara sebagai Menteri Keuangan baru. Kementerian Keuangan mengonfirmasi bahwa serah terima jabatan dilakukan setelah pergantian tersebut, dengan Purbaya menyerahkan laporan kinerjanya kepada penggantinya.

Purbaya tidak pergi dengan banyak penjelasan mengenai alasan politik di balik pergantian itu. Dalam wawancara setelah serah terima jabatan, ia justru mengakui bahwa dirinya sempat sulit tidur.

“Semalam masih susah tidur, masih sebal juga,” kata Purbaya kepada wartawan.

Ia kemudian menambahkan bahwa dirinya manusia, bukan robot. Setelah sertijab, ia berharap dapat kembali tidur dengan tenang.

Di titik ini, ucapan Yudo sehari sebelumnya memperoleh konteks baru.

Ucapan sang anak bahwa ayahnya akhirnya bisa tidur nyenyak bukan sekadar lelucon keluarga. Setidaknya, pernyataan Purbaya sendiri menunjukkan bahwa pergantian itu memang berdampak secara emosional kepadanya.

Istri bicara tentang tekanan

Ida Yulidina, istri Purbaya, juga ikut menjadi perhatian setelah mengunggah sejumlah pernyataan di media sosial.

Sejumlah media melaporkan bahwa Ida menggambarkan suaminya sebagai orang yang menghadapi tekanan berat selama menjadi Menteri Keuangan. Ia menyebut Purbaya sering kelelahan dan mengalami kesulitan tidur karena pekerjaan yang berlangsung tanpa henti.

Pernyataan Ida tersebut menjadi viral setelah pencopotan Purbaya. Namun, penting dicatat: cerita mengenai tekanan mental itu berasal dari pernyataan pribadi keluarga, bukan hasil pemeriksaan independen mengenai kondisi psikologis Purbaya.

Ida juga pernah melontarkan kritik keras terhadap keadaan negara. Dalam unggahan yang kembali beredar setelah suaminya dicopot, ia menyinggung sulitnya memperbaiki negara dan mempertentangkan keberadaan orang jujur dengan orang yang dianggap tidak jujur.

Kalimat itu kemudian dipotong, dikutip, dan disebarkan ulang di berbagai platform.

Di media sosial, satu kalimat dapat hidup lebih lama daripada konteks yang melahirkannya.

“Gaji menteri kecil”

Yudo bahkan membawa persoalan itu ke wilayah yang lebih sensitif: uang.

Dalam unggahan lain, ia mengatakan bahwa menjadi trader lebih menguntungkan dibanding menjadi menteri. Ia menyebut pendapatan trader bisa mencapai miliaran rupiah per bulan dan menggambarkan pekerjaan menteri sebagai pekerjaan dengan bayaran kecil tetapi berlangsung nonstop.

Ia juga menyinggung soal bawahan yang disebutnya korup. Pernyataan mengenai korupsi tersebut merupakan tudingan yang disampaikan Yudo di media sosial dan tidak dapat diperlakukan sebagai temuan hukum atau kesimpulan mengenai seluruh jajaran Kementerian Keuangan.

Di sinilah candaan keluarga berubah menjadi persoalan publik.

Sebab jabatan Menteri Keuangan bukan pekerjaan swasta biasa. Ia mengendalikan kebijakan fiskal, penerimaan negara, belanja pemerintah, utang, perpajakan dan pengelolaan APBN.

Karena itu, kalimat “gaji kecil, kerja nonstop” menjadi menarik bukan karena nominalnya semata, melainkan karena memperlihatkan bagaimana sebuah keluarga melihat kehidupan seorang pejabat dari sisi yang tidak terlihat dalam konferensi pers.

Ada cerita lain di balik pencopotan

Pergantian Purbaya juga tidak berhenti pada cerita keluarga.

Reuters melaporkan bahwa pencopotan tersebut berlangsung setelah muncul ketegangan antara Purbaya dan sejumlah pejabat tinggi Kementerian Keuangan, termasuk Direktur Jenderal Bea dan Cukai Djaka Budhi Utama. Laporan itu menyebut adanya perselisihan terkait perubahan atau mutasi pejabat di lingkungan kementerian.

Menurut laporan Reuters, persoalan tersebut ikut menyeret hubungan antara Purbaya, pejabat di lingkungan pajak dan bea cukai, serta Istana.

Purbaya sendiri sebelumnya mengatakan kepada Reuters bahwa dirinya kecewa dengan pencopotan itu, meskipun ia mengaku sudah menduga kemungkinan tersebut karena adanya perbedaan pandangan dengan sejumlah pejabat. Ia juga menyatakan bahwa dirinya dan Presiden Prabowo tetap memiliki keselarasan dalam sejumlah kebijakan.

Dengan demikian, ada dua cerita yang berjalan bersamaan.

Cerita pertama adalah cerita resmi: pergantian menteri dan pelantikan pengganti.

Cerita kedua adalah cerita di balik meja: perbedaan kebijakan, hubungan antarpejabat, mutasi birokrasi, dan ketegangan yang menyertai satu tahun kepemimpinan Purbaya.

Keluarga kemudian menghadirkan cerita ketiga: bagaimana semua itu dirasakan di rumah.

Setelah APBN, kini pasar

Menariknya, sebelum menjadi Menteri Keuangan, Purbaya bukan orang baru dalam dunia ekonomi. Ia pernah menjadi Ketua Dewan Komisioner Lembaga Penjamin Simpanan dan memiliki latar belakang ekonomi serta pengalaman panjang di pemerintahan.

Kini, setelah keluar dari kabinet, Yudo mengatakan ayahnya kembali ke dunia trading.

Kalimat itu terdengar sederhana. Tetapi bagi seorang mantan Menteri Keuangan, “kembali menjadi trader” berarti kembali ke dunia yang jauh berbeda dari meja kabinet.

Di kementerian, setiap keputusan berhubungan dengan kepentingan negara.

Di pasar, keputusan terutama berhadapan dengan risiko pribadi.

Barangkali itu pula yang membuat ucapan Yudo tentang tidur menjadi menarik.

Selama menjadi menteri, Purbaya harus memikirkan APBN.

Setelah tidak menjadi menteri, menurut keluarganya, ia bisa kembali memikirkan pasar.

Kursi kosong, cerita belum selesai

Suahasil Nazara kini menempati kursi yang ditinggalkan Purbaya. Dalam serah terima jabatan, Purbaya menyerahkan laporan kinerja selama satu tahun kepada penerusnya.

Pergantian itu sekaligus membuka babak baru bagi Kementerian Keuangan.

Namun publik masih memiliki banyak pertanyaan: apa sesungguhnya yang menjadi alasan utama pergantian Purbaya? Seberapa besar konflik internal birokrasi memengaruhi keputusan tersebut? Dan bagaimana kebijakan fiskal akan berubah setelah Suahasil mengambil alih?

Jawabannya belum seluruhnya tersedia.

Yang tersedia justru potongan-potongan cerita: keputusan Presiden, pergantian pejabat, pengakuan Purbaya bahwa ia sempat sulit tidur, pernyataan istrinya tentang tekanan yang dialami suaminya, dan ucapan sang anak bahwa kini “Bapak bisa tidur nyenyak”.

Ironisnya, setelah setahun menjadi salah satu orang paling berkuasa dalam urusan keuangan negara, warisan pertama Purbaya setelah meninggalkan kabinet bukanlah sebuah pidato panjang.

Melainkan satu kalimat dari anaknya: “Akhirnya bapak bisa tidur nyenyak.”

Dan dari kalimat sesederhana itu, publik justru kembali bertanya: seberapa berat sebenarnya satu tahun Purbaya di kursi Menteri Keuangan?