Pemutaran Film Dokumenter Sang Penjaga Seni Tradisi Cianjur

oleh
oleh

KORAN PRIORITAS.com — Menjaga Ngaos, Mamaos, dan Maenpo: Kisah Penjaga Seni Tradisi Cianjur Diabadikan dalam Film Dokumenter

CIANJUR – Di tengah derasnya arus budaya digital dan media sosial, seni tradisi menghadapi tantangan untuk tetap hidup di tengah generasi muda.

Di Cianjur, upaya menjaga warisan budaya itu kini diabadikan melalui sebuah film dokumenter berjudul Yayasan Pancaniti: Sang Penjaga Seni Tradisi Cianjur.

Film garapan sutradara Irawan Cokin tersebut diputar di Pendopo Cianjur, Gedung Bale Prayoga, Sekretariat Daerah Kabupaten Cianjur, Jumat, 23 Oktober 2026.

Pemutaran film ini menjadi ruang pertemuan antara pemerintah daerah, pelaku seni, pendidik, dan masyarakat untuk melihat kembali pentingnya merawat identitas kebudayaan lokal.

Hadir dalam pemutaran tersebut Asisten Daerah I Bidang Pemerintahan dan Kesejahteraan Rakyat Kabupaten Cianjur, Arief Purnawan, Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata, Kepala Dinas Pendidikan, Ketua Dewan Kesenian Cianjur, Ketua PGRI, sejumlah kepala dinas terkait, serta staf Bupati bidang pendidikan dan kebudayaan.

Film produksi Workshop Film Cianjur bersama Yayasan Pancaniti ini mengangkat perjalanan Dedi Mulyana, Ketua Yayasan Pancaniti, dalam mempertahankan seni tradisi Cianjur. Perjuangannya berpusat pada tiga pilar kebudayaan daerah yang dikenal dengan sebutan ngaos, mamaos, dan maenpo.

Ketiganya bukan sekadar warisan kesenian. Di dalamnya terkandung nilai spiritualitas, kehalusan rasa, dan keteguhan karakter masyarakat Cianjur.

Dan, di tengah perubahan zaman, pewarisan nilai-nilai tersebut membutuhkan lebih dari sekadar seremoni kebudayaan.

Melalui dokumenter ini, kamera mengikuti kiprah Yayasan Pancaniti dan Sanggar Seni Sekar Panghegar dalam melatih tari serta musik tradisional.

Para pengurus dan seniman menjadi saksi bahwa kesenian lokal masih memiliki ruang untuk tumbuh, sepanjang ada pihak yang bersedia menjaga sekaligus mewariskannya.

Usai menyaksikan film, Arief Purnawan memberikan apresiasi kepada sutradara dan seluruh tim produksi. Ia menyebut dokumenter tersebut sebagai karya penting dalam upaya mempertahankan nilai-nilai budaya Kabupaten Cianjur.

“Ini adalah karya besar anak bangsa dalam melestarikan nilai-nilai budaya di Kabupaten Cianjur. Visualnya jelas, musiknya enak, sehingga menggugah kita semua untuk menyaksikan,” kata Arief.

Menurut dia, film tersebut tidak semestinya berhenti sebagai produk sinematografi atau dokumentasi kegiatan kebudayaan.

Lebih jauh, karya itu diharapkan mampu membangkitkan semangat masyarakat, terutama generasi muda, untuk kembali mengenal dan mempelajari akar budayanya.

Arief bahkan mengusulkan agar film dokumenter tersebut diputar di sekolah-sekolah di Kabupaten Cianjur.

Dengan demikian, pelajar tidak hanya mengenal kebudayaan daerah melalui buku pelajaran, tetapi juga menyaksikan langsung kisah orang-orang yang bekerja mempertahankannya.

“Ke depan, kami ingin film ini bisa diputar di masing-masing sekolah, sehingga menjadi referensi nilai-nilai budaya Cianjur yang harus kita lestarikan bersama,” ujarnya.

Bagi Arief, dokumenter memiliki kekuatan tersendiri sebagai medium pendidikan. Cerita, gambar, dan musik dapat menghadirkan pengalaman yang lebih dekat dengan kehidupan generasi muda.

Arief mengingatkan bahwa apresiasi terhadap kebudayaan tidak cukup diwujudkan dengan menonton. Anak-anak muda perlu didorong untuk terlibat langsung dalam aktivitas kesenian.

“Harapan saya, generasi muda tidak hanya melihat, tetapi juga mau belajar seni, seperti kacapi dan tari, untuk pelestarian budaya kita. Salah satu pendorongnya adalah film ini,” kata Arief.

Pandangan serupa disampaikan Muhammad Nur Hidayat, S.Sos., M.M., yang menjadi pemateri dalam diskusi setelah pemutaran film.

Menurut dia, dokumenter tentang Yayasan Pancaniti memiliki nilai edukasi penting, terutama bagi anak-anak yang semakin jauh dari pengenalan kebudayaan asli daerahnya.

Nur Hidayat menilai, mengenalkan kebudayaan lokal sejak dini merupakan bagian dari membangun karakter generasi mendatang.

Anak-anak perlu mengetahui bahwa daerahnya memiliki kekayaan seni, tradisi, dan nilai-nilai luhur yang tidak kalah penting dibandingkan pengetahuan modern.

“Dengan adanya film dokumenter ini, anak-anak akan tahu bahwa kita memiliki budaya yang tinggi. Saya berharap film ini bisa ditonton lebih banyak anak muda, supaya mereka lebih mengenal budayanya,” ujar Nur Hidayat.

Ia juga berharap nilai-nilai kebudayaan tersebut tidak berhenti sebagai pengetahuan, melainkan diterapkan dalam kehidupan sehari-hari.

Di tengah derasnya pengaruh budaya global, menurut dia, pemahaman terhadap akar tradisi justru dapat menjadi modal penting bagi generasi muda untuk menghadapi masa depan.

Kebudayaan lokal memberikan identitas sekaligus pijakan dalam menyerap perubahan.

Pemutaran Yayasan Pancaniti: Sang Penjaga Seni Tradisi Cianjur pada akhirnya menghadirkan pertanyaan yang lebih besar: siapa yang akan meneruskan warisan budaya ketika para penjaganya tak lagi muda?

Film ini menawarkan satu jawaban melalui sosok Dedi Mulyana dan Yayasan Pancaniti.

Pelestarian bukan hanya soal menyimpan peninggalan masa lalu, melainkan memastikan tradisi tetap dipelajari, dipraktikkan, dan menemukan tempat dalam kehidupan generasi berikutnya.

Sebab, ngaos, mamaos, dan maenpo tidak akan bertahan hanya karena pernah menjadi kebanggaan masyarakat Cianjur. Ketiganya akan tetap hidup jika ada generasi yang bersedia mempelajari dan meneruskannya.

Tentang Film

Yayasan Pancaniti: Sang Penjaga Seni Tradisi Cianjur merupakan film dokumenter yang mengisahkan kiprah Yayasan Pancaniti melalui Sanggar Seni Sekar Panghegar dalam menjaga kesenian tradisional Cianjur.

Judul: Yayasan Pancaniti: Sang Penjaga Seni Tradisi Cianjur

Sutradara: Irawan Cokin

Produksi: Workshop Film Cianjur dan Yayasan Pancaniti

Tokoh utama: Dedi Mulyana

Lokasi pemutaran: Pendopo Cianjur, Gedung Bale Prayoga, Sekretariat Daerah Kabupaten Cianjur

Tanggal pemutaran: Jumat, 23 Oktober 2026

Pemateri diskusi: Muhammad Nur Hidayat, S.Sos., M.M.