KORAN PRIORITAS.com — KETIKA KORUPSI MENJADI EKOSISTEM. Bagian III — Ketika Benalu Menguasai Pohon
Mengapa Ekonomi Tumbuh, tetapi Kita Sulit Naik Kelas
Oleh: Laksamana Sukardi

Catatan: sebelum membaca Bagian III, harap membaca Bagian I dan Bagian II terlebih dahulu
Pada Bagian II kita mengikuti perjalanan Pupuk dan Benalu.
Pupuk menjadi kaya dengan menciptakan nilai.
Benalu menjadi kaya dengan mengambil rente.
Pupuk membangun perusahaan, melatih pekerja, membeli mesin, mengembangkan teknologi, membayar pajak, dan menciptakan kemampuan untuk menghasilkan nilai berikutnya.
Benalu membangun jaringan.
Tetapi bagaimana kalau Benalu tidak hanya satu?
Bagaimana kalau mereka tumbuh menjadi kelompok yang menguasai pintu-pintu ekonomi?
Proyek berganti.
Konsesi berganti.
Pejabat berganti.
Sektornya berganti.
Tetapi ketika kita mengikuti siapa yang membuka pintu, siapa yang menghubungkan kepentingan, dan siapa yang menikmati rente, kita menemukan orang atau kelompok yang sama.
Dia lagi.
Proyek berikutnya.
Dia lagi.
Konsesi berikutnya.
Dia lagi.
Pada titik itu Benalu bukan lagi sekadar makelar.
Ia telah menjadi penjaga pintu ekonomi (economic gatekeeper).
Dan di sinilah persoalan korupsi berubah menjadi persoalan pembangunan.
Ketika Rente Menghasilkan Rente
Pupuk mempunyai mesin pertumbuhannya sendiri.
Produktivitas menghasilkan keuntungan.
Keuntungan menjadi investasi.
Investasi menghasilkan teknologi dan kemampuan baru.
Kemampuan baru meningkatkan produktivitas.
Benalu juga mempunyai mesin.
Tetapi mesinnya berbeda.
Akses menghasilkan rente.
Rente menghasilkan kekayaan.
Kekayaan memperkuat akses.
Akses yang semakin kuat menghasilkan rente berikutnya.
Akses → rente → kekayaan → akses yang lebih besar.
Keduanya sama-sama dapat menjadi kaya.
Tetapi yang mereka tinggalkan berbeda.
Pupuk memperbesar kemampuan ekonomi.
Benalu memperbesar kemampuan menguasai ekonomi.
Dan ketika Benalu semakin terkonsentrasi, rente pun terkonsentrasi.
Kekayaan mengikuti.
Kesempatan mengikuti.
Inilah kerusakan berikutnya dari ekonomi koruptif.
Bukan hanya ekonomi menjadi kurang produktif.
Tangga untuk naik juga semakin dikuasai oleh mereka yang sudah berada di atas.
*
Kelas Menengah dan Tangga yang Semakin Sempit
Kelas menengah adalah bagian yang sangat penting dari sebuah masyarakat.
Mereka adalah pekerja terampil.
Profesional.
Pengusaha kecil.
Pembayar pajak.
Penabung.
Pemilik rumah.
Orang tua yang bekerja keras agar anaknya memperoleh pendidikan lebih baik.
Kelas menengah adalah bukti bahwa sebuah bangsa mempunyai tangga mobilitas sosial.
Orang yang lahir miskin dapat naik.
Anaknya dapat memperoleh pendidikan.
Mendirikan usaha.
Membeli rumah.
Dan hidup lebih baik daripada orang tuanya.
Tetapi ekonomi Benalu mempersempit tangga itu.
Bukan karena semua orang kaya adalah Benalu.
Sama sekali tidak.
Kekayaan yang diperoleh melalui inovasi, produktivitas, kompetisi, dan keberanian mengambil risiko justru dibutuhkan sebuah negara.
Masalahnya muncul ketika kesempatan memperoleh kekayaan semakin ditentukan oleh akses kepada kekuasaan.
Mereka yang sudah mempunyai akses memperoleh proyek berikutnya.
Konsesi berikutnya.
Izin berikutnya.
Kesempatan berikutnya.
Sementara mereka yang berada di luar harus bekerja semakin keras hanya untuk masuk.
Di situlah ketimpangan kesempatan (inequality of opportunity) menjadi lebih berbahaya daripada sekadar perbedaan pendapatan.
Masyarakat dapat menerima seseorang menjadi jauh lebih kaya apabila mereka percaya permainan berlangsung adil.
Yang sulit diterima adalah perasaan:
“Seberapa keras pun saya bekerja, pintunya sudah dikuasai orang lain.”
Ketika perasaan itu menyebar, yang hilang bukan hanya kesempatan.
Yang hilang adalah harapan.
Dan ketika harapan untuk naik kelas hilang, persoalan ekonomi dapat berubah menjadi risiko sosial.
*
Coba Lihat ke Dalam Rumah Kita Sendiri
Tetapi adakah bukti sederhana bahwa pertumbuhan ekonomi kita belum menghasilkan kemampuan produktif yang sebanding?
Kita tidak perlu menjadi ekonom untuk mulai memikirkannya.
Cukup lihat ke dalam rumah kita sendiri.
Televisi.
Lemari es.
Mesin cuci.
Pendingin udara.
Microwave.
Oven.
Telepon genggam.
Komputer.
Kemudian lihat ke garasi dan jalan raya.
Sepeda motor.
Mobil.
Sebagian barang tersebut memang dibuat atau dirakit di Indonesia. Pabriknya nyata dan banyak pekerjanya orang Indonesia.
Tetapi lihat merek yang mendominasi kehidupan sehari-hari kita.
Hampir semuanya merek asing.
Jepang.
Korea.
China.
Amerika.
Eropa.
Indonesia telah menjadi pasar yang luar biasa besar.
Lebih dari 280 juta manusia.
Kita membeli jutaan kendaraan.
Ratusan juta telepon genggam digunakan masyarakat.
Rumah tangga kita semakin dipenuhi barang modern.
Dan ekonomi Indonesia telah tumbuh selama puluhan tahun.
Karena itu pertanyaan yang seharusnya mengusik kita sangat sederhana:
Di mana merek Indonesia?
Di mana mobil Indonesia yang digunakan jutaan orang?
Sepeda motor Indonesia?
Telepon genggam Indonesia?
Komputer Indonesia?
Televisi Indonesia?
Lemari es Indonesia?
Mesin cuci Indonesia?
Microwave Indonesia?
Oven Indonesia?
Dan ketika dunia memasuki zaman kecerdasan buatan, kendaraan listrik, robotika, dan ekonomi digital:
di mana chip dan semikonduktor Indonesia?
Tentu Indonesia mempunyai perusahaan, merek, insinyur, dan produk teknologi sendiri.
Persoalannya bukan bahwa kita sama sekali tidak mampu membuat.
Persoalannya adalah skala kemampuan yang berhasil kita bangun setelah puluhan tahun pertumbuhan dan dengan pasar sebesar Indonesia.
Kita telah menjadi pasar yang besar.
Tetapi kita belum menjadi pencipta yang sama besarnya.
Mengapa Mengimpor Lebih Mudah daripada Menciptakan?
Di sinilah Pupuk dan Benalu kembali membantu kita memahami persoalan.
Menciptakan sebuah produk membutuhkan waktu.
Membuat mobil membutuhkan insinyur.
Membuat telepon genggam membutuhkan teknologi.
Membangun industri semikonduktor membutuhkan riset, modal, laboratorium, manusia terampil, dan ekosistem pemasok.
Ada kegagalan.
Ada risiko.
Mungkin perlu sepuluh atau dua puluh tahun sebelum berhasil.
Benalu menawarkan jalan yang jauh lebih pendek.
Barangnya sudah tersedia di luar negeri.
Mereknya sudah dikenal.
Pasarnya sudah ada di Indonesia.
Tinggal impor.
Dan kalau mempunyai akses kepada izin, pengadaan, distribusi, atau keputusan pemerintah, keuntungan dapat diperoleh jauh lebih cepat.
Mengapa membuat kalau lebih mudah mengimpor?
Impor sendiri tentu bukan sesuatu yang buruk.
Tidak ada negara modern yang harus membuat semua barang sendiri.
Perdagangan internasional justru memungkinkan negara melakukan spesialisasi.
Masalahnya muncul ketika menjadi penghubung impor dan menguasai akses lebih menguntungkan daripada membangun kemampuan untuk menciptakan sesuatu.
Karena sistem insentif akhirnya menentukan perilaku.
Kalau keuntungan terbesar diperoleh dari inovasi, manusia mengejar inovasi.
Kalau keuntungan terbesar diperoleh dari produktivitas, modal mengejar produktivitas.
Tetapi kalau keuntungan terbesar diperoleh dari akses—
modal dan talenta akan mengejar akses.
Itulah ekonomi Benalu.
Kita Membeli Barangnya. Mereka Memperoleh Pengalamannya.
Ada konsekuensi yang lebih dalam.
Setiap kali sebuah perusahaan membuat satu juta lemari es, mobil, telepon genggam, atau komputer, mereka tidak hanya memperoleh uang.
Mereka belajar.
Insinyurnya belajar.
Pabriknya belajar.
Pemasoknya belajar.
Teknologinya berkembang.
Biayanya turun.
Produk generasi berikutnya menjadi lebih baik.
Perusahaan menjadi semakin kuat.
Kemampuan membuat satu produk menjadi dasar untuk menciptakan produk berikutnya.
Kita membeli barangnya.
Mereka memperoleh pengalaman untuk membuat generasi berikutnya.
Lalu generasi berikutnya kembali dijual kepada kita.
Kita membeli lagi.
Mereka belajar lagi.
Kalau berlangsung selama puluhan tahun, jaraknya semakin lebar.
Rumah kita semakin modern.
Mobil kita semakin canggih.
Telepon kita semakin pintar.
Tetapi pertanyaan yang jarang kita ajukan adalah:
Siapa yang menjadi semakin pintar karena membuat semua barang itu?
Sebuah bangsa tidak menjadi maju hanya karena rakyatnya mampu membeli barang-barang negara maju.
Sebuah bangsa menjadi maju ketika semakin banyak rakyat dan perusahaannya mampu menciptakan sesuatu yang ingin dibeli dunia.
Indonesia Tumbuh. Tetapi Mengapa Belum Naik Kelas?
Di sinilah kita harus melihat fakta dengan jernih.
Indonesia bukan negara yang gagal tumbuh.
Kita telah mencapai kemajuan besar.
Bank Dunia mencatat Indonesia berada dalam kelompok negara berpendapatan menengah-atas sejak 2023. Tingkat kemiskinan juga turun sangat besar dibandingkan awal abad ini.
Itu pencapaian nyata.
Tetapi Indonesia belum menjadi negara berpendapatan tinggi.
Pertumbuhan ekonomi dalam beberapa tahun terakhir relatif stabil sekitar 5 persen. Namun Bank Dunia juga menunjukkan bahwa produktivitas Indonesia menghadapi berbagai hambatan, termasuk konsentrasi pasar, regulasi, terbatasnya penyebaran pengetahuan dan keterampilan, serta banyaknya pekerjaan baru yang masih berada pada kegiatan dengan produktivitas rendah.
Pertumbuhan produktivitas Indonesia juga melemah dibandingkan periode sebelumnya.
Di sinilah angka pertumbuhan harus dibaca dengan cara berbeda.
Persoalannya bukan:
“Apakah Indonesia tumbuh?”
Kita tumbuh.
Pertanyaannya:
“Apakah pertumbuhan itu cukup banyak menghasilkan kemampuan baru untuk membawa kita naik kelas?”
Di sinilah jawabannya belum memuaskan.
Negara Lain Menunjukkan bahwa Naik Kelas Itu Mungkin
Pengalaman dunia menunjukkan betapa sulitnya perjalanan tersebut.
Menurut Bank Dunia, sejak 1990 hanya sebagian kecil negara berpendapatan menengah yang berhasil menjadi negara berpendapatan tinggi.
Korea Selatan merupakan salah satu contoh penting.
Korea tidak hanya membuat masyarakatnya semakin mampu membeli mobil, televisi, dan telepon.
Korea belajar membuatnya.
Kemudian memperbaikinya.
Kemudian mengekspornya.
Kemudian menciptakan teknologi generasi berikutnya.
Transformasinya bergerak dari investasi menuju peningkatan produktivitas, industrialisasi, teknologi, dan inovasi.
Dalam bahasa Pupuk dan Benalu:
mereka terus memperbesar kemampuan Pupuk.
Polandia menempuh jalan berbeda, tetapi memberikan pelajaran serupa.
Bank Dunia mencatat Polandia berhasil bergerak dari kelompok pendapatan menengah menuju pendapatan tinggi dalam waktu kurang dari 15 tahun melalui kombinasi investasi, integrasi pasar, peningkatan produktivitas, institusi, inovasi, dan pertumbuhan yang relatif inklusif.
Kita tidak perlu meniru Korea.
Tidak perlu meniru Polandia.
Sejarah dan kondisi Indonesia berbeda.
Tetapi keduanya mengajarkan sesuatu yang sangat penting:
negara tidak naik kelas hanya karena ekonominya bertambah besar.
Negara naik kelas karena kemampuannya bertambah besar.
*
Pertumbuhan atau Transformasi?
Bayangkan dua kendaraan.
Yang satu bergerak 100 kilometer per jam menuju tujuan.
Yang lain bergerak 120 kilometer per jam tetapi berputar-putar.
Mana yang lebih cepat sampai?
Begitu pula pembangunan.
Pertumbuhan lima, enam, bahkan delapan persen tidak otomatis membuat sebuah negara maju.
Pertanyaan yang menentukan adalah:
Apa yang dibangun selama pertumbuhan itu berlangsung?
Apakah kita membangun teknologi?
Industri?
Keterampilan?
Ilmu pengetahuan?
Perusahaan produktif?
Institusi yang kuat?
Apakah setiap putaran pertumbuhan membuat putaran berikutnya semakin mudah?
Kalau ya, kita sedang membangun ekonomi Pupuk.
Tetapi kalau pertumbuhan memperbesar rente, konsentrasi akses, konsumsi tanpa kemampuan, dan keuntungan dari kedekatan dengan kekuasaan, kita sedang memberi makan Benalu.
Ekonomi tetap dapat tumbuh.
Tetapi transformasi tertinggal.
*
Salah Alokasi Masa Depan
Inilah mengapa korupsi jauh lebih mahal daripada uang yang dicuri.
Setiap rupiah yang masuk ke dalam rente adalah rupiah yang mempunyai penggunaan lain.
Ia dapat menjadi sekolah.
Laboratorium.
Mesin.
Riset.
Teknologi.
Pelatihan.
Infrastruktur.
Modal bagi perusahaan produktif.
Ketika pilihan-pilihan itu hilang secara sistematis, kita tidak hanya mengalami salah alokasi sumber daya (misallocation of resources).
Kita mengalami:
salah alokasi masa depan (misallocation of the future).
Yang hilang bukan hanya uang hari ini.
Yang hilang adalah sesuatu yang belum sempat lahir.
Perusahaan.
Teknologi.
Pekerjaan.
Pengetahuan.
Dan kesempatan.
Korupsi tidak hanya mengambil kekayaan yang sudah kita miliki.
Korupsi mengambil sebagian kekayaan yang seharusnya dapat kita ciptakan.
*
Pohon yang Dipenuhi Benalu
Sekarang mari kita kembali kepada pohon kita.
Satu Benalu mungkin tidak membunuhnya.
Pohon masih tumbuh.
Masih berdaun.
Masih menghasilkan buah.
Dari luar bahkan terlihat sehat.
Tetapi jika Benalu semakin banyak, semakin besar sari makanan yang diambil dari pohon.
Pada awalnya kita mungkin tidak menyadarinya.
Pohonnya masih tumbuh.
Tetapi tidak sekuat yang seharusnya.
Buahnya masih ada.
Tetapi tidak sebanyak yang seharusnya.
Dan yang lebih buruk:
buahnya semakin banyak dinikmati oleh mereka yang berada di sekitar Benalu.
Inilah yang harus kita renungkan sebagai bangsa.
Indonesia tidak kekurangan pasar.
Tidak kekurangan sumber daya alam.
Tidak kekurangan manusia cerdas.
Dan tidak kekurangan pertumbuhan.
Yang kita perlukan adalah memastikan bahwa pertumbuhan itu semakin banyak menjadi Pupuk.
Pertumbuhan yang menciptakan kemampuan.
Pertumbuhan yang melahirkan perusahaan.
Pertumbuhan yang menghasilkan teknologi.
Pertumbuhan yang memperbesar kelas menengah.
Pertumbuhan yang membuka tangga bagi mereka yang berada di bawah.
Pertumbuhan yang membuat anak seorang keluarga sederhana mempunyai kesempatan menjadi insinyur, ilmuwan, pengusaha, atau pencipta teknologi.
Karena pada akhirnya, pembangunan bukan hanya persoalan angka PDB.
Ia adalah persoalan kemampuan dan kesempatan.
Apakah pohonnya semakin kuat?
Apakah akarnya semakin dalam?
Apakah buahnya semakin banyak?
Dan:
apakah semakin banyak orang mempunyai kesempatan untuk memetiknya?
Kita sudah terlalu lama bertanya:
“Berapa persen ekonomi kita tumbuh?”
Mungkin sudah waktunya kita mengajukan pertanyaan yang lebih penting:
“Pertumbuhan itu sedang memberi makan Pupuk—atau justru membesarkan Benalu?”
Karena Indonesia tidak akan menjadi negara maju hanya dengan menjadi pasar yang semakin besar.
Indonesia harus menjadi bangsa yang semakin mampu menciptakan.
Dan pada akhirnya, itulah perbedaan antara sekadar tumbuh—
dan benar-benar naik kelas.*










