Koran Prioritas.com — Ketika Teknologi Memakan Anak Kandungnya Sendiri
Ada yang berubah dari cara manusia bekerja.
Dulu, orang harus keluar rumah untuk mencari informasi. Sekarang, cukup membuka ponsel.
Dulu, mencari nomor telepon sebuah toko bisa menghabiskan waktu. Harus membuka buku tebal berwarna kuning. Membolak-balik halaman. Mencari berdasarkan abjad.
Sekarang? Ketik di Google. Selesai.
Dulu, membeli tiket harus antre di loket. Kadang antreannya lebih panjang daripada perjalanan yang hendak ditempuh.
Sekarang, beli tiket bisa sambil rebahan. Bahkan ketika sedang di kamar mandi.
Kemajuan memang membuat hidup lebih mudah. Tetapi ada satu pertanyaan yang sering luput kita ajukan: kalau semuanya menjadi lebih mudah, siapa yang kehilangan pekerjaan?
Teknologi memang seperti dua sisi mata uang. Satu sisi menawarkan kemudahan. Sisi lainnya membawa ancaman.
Yang menarik, teknologi tidak selalu datang untuk menghancurkan pesaingnya. Kadang-kadang, ia justru mematikan bisnis yang dahulu dianggap paling dibutuhkan manusia.
Mari kita tengok satu per satu.
Pager: Dulu Dicari, Kini Nyaris Dilupakan
Masih ingat pager?
Bagi generasi yang tumbuh pada awal 1990-an, benda kecil itu bukan sekadar alat komunikasi. Ia juga bisa menjadi simbol kesibukan. Bahkan, bagi sebagian orang, simbol status.
Ukurannya tidak lebih besar daripada kotak rokok. Cara kerjanya sederhana.
Seseorang menghubungi operator. Menyebutkan nomor pager yang dituju. Pesan kemudian diteruskan kepada pemilik pager.
Kalau pesannya berupa nomor telepon, penerima harus mencari telepon untuk menelepon balik.
Bayangkan.
Untuk membalas pesan, seseorang harus mencari telepon. Untuk mengetahui isi pesan, ia harus membawa alat lain. Komunikasi memang sudah bergerak maju, tetapi belum bisa disebut praktis.
Namun, pada zamannya, pager adalah teknologi yang mengagumkan.
Banyak orang mengandalkannya. Terutama mereka yang pekerjaannya menuntut kesiapsiagaan: dokter, petugas lapangan, dan kalangan profesional lainnya.
Di Indonesia, pernah ada sejumlah penyedia layanan pager, seperti Starko, Starpage, NusaPage, dan Multipage.
Lalu telepon seluler datang. SMS menyusul. Setelah itu, aplikasi percakapan berkembang.
Pager pun kehilangan panggungnya.
Bukan karena pager tiba-tiba menjadi barang jelek. Bukan pula karena orang lupa cara menggunakannya.
Masalahnya sederhana: ada teknologi baru yang menawarkan fungsi serupa dengan cara yang jauh lebih praktis.
Begitulah hukum persaingan teknologi. Kadang-kadang, sebuah produk tidak kalah karena buruk. Ia kalah karena ada sesuatu yang lebih baik.
Yellow Pages: Ketika Buku Tebal Dikalahkan Satu Kotak Pencarian
Berikutnya, Yellow Pages.
Buku tebal berwarna kuning itu pernah menjadi semacam ensiklopedia bisnis. Mau mencari nomor telepon apotek? Buka Yellow Pages.
Mencari bengkel? Ada.
Mencari restoran, kantor, perusahaan, atau penyedia jasa tertentu? Tinggal mencari berdasarkan kategori.
Bagi masyarakat, buku itu membantu menemukan informasi. Bagi perusahaan, Yellow Pages merupakan sarana promosi yang relatif terjangkau.
Ada hubungan yang saling menguntungkan.
Masyarakat memperoleh informasi. Perusahaan memperoleh calon pelanggan. Penerbit memperoleh pendapatan dari iklan.
Sebuah ekosistem bisnis terbentuk. Lalu internet datang dan mengubah semuanya.
Informasi yang dahulu membutuhkan ratusan halaman kini bisa ditemukan melalui satu kotak pencarian.
Bahkan, kita tidak perlu lagi menghafal nomor telepon layanan informasi. Mesin pencari sudah menyediakan jalan pintas.
Mau mencari apotek yang buka 24 jam? Bisa.
Mau mengetahui lokasi bengkel terdekat? Bisa.
Mau membandingkan harga sebelum membeli sesuatu? Bisa juga.
Buku yang dahulu dianggap penting itu perlahan kehilangan relevansinya.
Di sinilah pelajaran menariknya. Yellow Pages bukan sekadar kehilangan pembaca. Ia kehilangan fungsi utamanya.
Sebab, dalam bisnis informasi, yang dijual bukanlah kertas. Yang dijual adalah kemudahan menemukan sesuatu.
Ketika kemudahan itu bisa diberikan dengan cara lain, bentuk lama pun kehilangan daya tawarnya.
Akuntan: Mesin Tidak Lelah, tetapi Apakah Bisa Menggantikan Manusia?
Sekarang kita masuk ke wilayah yang lebih serius.
Akuntansi. Bertahun-tahun, seseorang belajar menghitung, mencatat transaksi, menyusun laporan keuangan, dan memastikan angka-angka tersaji dengan benar.
Pekerjaan itu membutuhkan ketelitian. Salah memasukkan satu angka saja bisa membuat laporan bermasalah.
Dulu, banyak proses dikerjakan secara manual. Dokumen menumpuk. Tabel harus diperiksa berulang kali. Rekonsiliasi transaksi membutuhkan waktu.
Sekarang, perangkat lunak akuntansi mampu melakukan banyak pekerjaan tersebut secara otomatis.
Transaksi dapat dicatat. Laporan dapat disusun. Pengeluaran bisa dikelompokkan. Bahkan, sistem tertentu dapat mendeteksi transaksi yang tidak biasa.
Pekerjaan yang dahulu membutuhkan berjam-jam bisa diselesaikan dalam hitungan menit.
Apakah itu berarti akuntan akan kehilangan pekerjaan?
Belum tentu. Yang lebih mungkin terjadi adalah perubahan jenis pekerjaan.
Tugas rutin yang berulang semakin mudah diotomatisasi. Sementara itu, pekerjaan yang memerlukan penilaian profesional, pemahaman bisnis, pemeriksaan risiko, dan tanggung jawab atas keputusan tetap membutuhkan manusia.
Mesin bisa menghitung.
Tetapi memahami mengapa sebuah transaksi mencurigakan, bagaimana risiko memengaruhi perusahaan, atau apa yang harus dilakukan ketika laporan menunjukkan masalah merupakan persoalan yang lebih kompleks.
Tentu saja, kecerdasan buatan juga terus berkembang. Karena itu, tidak ada alasan bagi profesi akuntan untuk merasa sepenuhnya aman.
Namun, ada satu hal yang perlu dibedakan: profesi yang berubah tidak selalu berarti profesi yang punah.
Yang terancam mungkin bukan akuntannya, melainkan akuntan yang hanya mengandalkan pekerjaan rutin dan tidak mau memperbarui keterampilannya.
Loket Tiket: Senyum yang Tidak Lagi Kita Temui
Pernah membeli tiket kereta api atau pesawat melalui loket?
Ada petugas di balik kaca. Ada uang yang diserahkan. Ada tiket yang dicetak. Ada percakapan singkat yang kadang terasa menyenangkan, kadang juga melelahkan karena antrean panjang.
Kini, sebagian besar proses itu bisa dilakukan melalui aplikasi atau situs pemesanan.
Pilih jadwal. Isi data. Bayar. Tiket elektronik pun terbit.
Tidak perlu mengantre. Tidak perlu mencetak tiket dalam banyak layanan. Bahkan, pembelian bisa dilakukan jauh sebelum berangkat.
Bagi penumpang, ini kemajuan.
Bagi perusahaan, digitalisasi dapat mengurangi beban pekerjaan administratif dan meningkatkan efisiensi.
Tetapi bagi sebagian pekerja loket, perubahan tersebut berarti berkurangnya kebutuhan tenaga kerja.
Di sinilah wajah lain kemajuan teknologi terlihat.
Sebuah inovasi bisa memberikan manfaat kepada jutaan orang, sementara pada saat yang sama mengurangi peluang kerja bagi sebagian orang lainnya.
Kita tidak bisa menolak kemajuan hanya karena ada pekerjaan yang berubah. Namun, kita juga tidak boleh menutup mata terhadap manusia yang terdampak olehnya.
Sebab, efisiensi bagi perusahaan belum tentu berarti kemudahan bagi pekerja yang kehilangan penghasilan.
Media: Ketika Semua Orang Bisa Menjadi Wartawan
Nah, bagian ini menarik. Dahulu, menjadi wartawan bukan perkara mudah.
Ada perusahaan pers. Ada redaksi. Ada editor. Ada proses verifikasi. Ada tanggung jawab hukum dan etik.
Seseorang harus belajar mencari informasi, melakukan wawancara, memeriksa fakta, menyusun berita, dan memahami prinsip-prinsip jurnalistik.
Sekarang, siapa pun bisa merekam peristiwa dengan ponsel. Melihat kecelakaan, tinggal merekam. Menemukan kejadian menarik, tinggal memotret.
Mendapatkan informasi, tinggal mengunggahnya ke media sosial. Dalam hitungan menit, sebuah peristiwa lokal bisa menjadi perhatian nasional.
Teknologi telah membuka pintu yang dahulu sulit ditembus.
Masyarakat bukan lagi sekadar konsumen informasi. Mereka juga bisa menjadi pemasok informasi. Namun, ada persoalan yang tidak bisa diselesaikan hanya dengan kamera dan koneksi internet.
Merekam peristiwa tidak sama dengan melakukan jurnalistik.
Mengunggah informasi tidak sama dengan memverifikasi berita.
Menjadi yang pertama bukan berarti menjadi yang paling benar.
Di sinilah peran wartawan profesional semestinya semakin penting. Bukan semata-mata karena mereka memiliki akses ke peristiwa, melainkan karena mereka harus mampu memeriksa informasi, menguji keterangan, mencari konteks, dan mempertanggungjawabkan pemberitaan.
Sayangnya, industri media sendiri sedang menghadapi perubahan besar.
Media cetak kehilangan sebagian pembacanya. Pendapatan iklan bergeser ke platform digital. Media daring berlomba-lomba menarik perhatian pembaca.
Kecepatan menjadi tuntutan. Klik menjadi ukuran. Jumlah penonton menjadi rebutan.
Akibatnya, ada godaan untuk menerbitkan berita secepat mungkin, bahkan ketika verifikasi belum memadai.
Di tengah banjir informasi, yang langka justru bukan berita.
Yang langka adalah kepercayaan.
Ironis, bukan?
Ketika teknologi membuat informasi semakin mudah diproduksi, masyarakat justru semakin membutuhkan pihak yang bisa dipercaya untuk memeriksanya.
Tidak Ada Profesi yang Benar-Benar Kebal
Pager pernah berjaya. Yellow Pages pernah menjadi andalan. Loket tiket pernah menjadi bagian penting dari perjalanan. Pekerjaan akuntansi terus berubah. Industri media pun sedang mencari bentuk baru.
Semua itu menunjukkan satu hal: teknologi bukan sekadar mengubah alat yang kita gunakan. Ia juga mengubah cara bisnis menghasilkan uang, cara perusahaan bekerja, dan cara manusia memperoleh penghasilan.
Hari ini, kecerdasan buatan menambah babak baru.
Mesin bisa membantu menulis. Perangkat lunak bisa menganalisis dokumen. Sistem otomatis bisa melayani pelanggan. Robot dapat mengerjakan sejumlah tugas yang dahulu hanya bisa dilakukan manusia.
Lalu, pekerjaan apa yang akan bertahan?
Pertanyaan itu sebenarnya kurang tepat.
Sebab, yang perlu kita tanyakan bukan hanya pekerjaan mana yang akan hilang, melainkan keterampilan apa yang masih dibutuhkan ketika pekerjaan tersebut berubah.
Seorang pegawai administrasi mungkin perlu belajar mengelola sistem digital.
Wartawan perlu semakin kuat dalam verifikasi dan analisis. Akuntan perlu menguasai teknologi sekaligus mempertajam penilaian profesional.
Pekerja layanan pelanggan perlu mengembangkan kemampuan menangani persoalan yang tidak bisa diselesaikan dengan jawaban otomatis.
Teknologi memang bisa menggantikan sebagian tugas manusia. Tetapi manusia juga bisa memanfaatkan teknologi untuk melakukan pekerjaan yang sebelumnya sulit dikerjakan.
Persoalannya adalah kesiapan.
Perubahan teknologi sering berlangsung lebih cepat daripada kemampuan manusia untuk menyesuaikan diri. Perusahaan mungkin bisa membeli perangkat lunak baru dalam sehari. Namun, pekerja membutuhkan waktu untuk belajar, beradaptasi, dan menemukan posisi baru.
Karena itu, tanggung jawab menghadapi perubahan tidak semestinya dibebankan kepada pekerja seorang diri. Perusahaan, lembaga pendidikan, dan pemerintah juga perlu memastikan bahwa peningkatan produktivitas tidak meninggalkan terlalu banyak orang di belakang.
Sebab, kemajuan yang hanya menguntungkan mereka yang sudah siap bukanlah cerita kemajuan yang utuh.
Jangan Sampai Kita Menjadi Yellow Pages Berikutnya
Coba lihat pekerjaan Anda sendiri.
Bagian mana yang setiap hari Anda kerjakan secara berulang? Bagian mana yang sebenarnya bisa dilakukan mesin? Dan bagian mana yang membutuhkan pengalaman, kreativitas, pertimbangan, atau sentuhan manusia?
Pertanyaan itu penting dijawab sekarang, bukan ketika perusahaan sudah mengumumkan penggunaan sistem baru.
Tidak perlu langsung takut kepada teknologi.
Tetapi jangan pula menganggap pekerjaan yang selama ini kita lakukan akan selalu dibutuhkan dengan cara yang sama.
Pager tidak pernah membayangkan bahwa suatu hari orang bisa berkirim pesan tanpa harus membawa perangkat khusus.
Yellow Pages tidak pernah membayangkan bahwa orang akan menemukan alamat bisnis tanpa membuka halaman demi halaman.
Petugas loket mungkin juga tidak menyangka bahwa suatu hari penumpang bisa membeli tiket tanpa bertemu siapa pun.
Dunia berubah. Kadang-kadang perlahan, kadang-kadang begitu cepat hingga kita baru menyadarinya setelah semuanya berbeda.
Dan mungkin, itulah pelajaran terbesar dari kemajuan teknologi.
Bukan bahwa mesin akan mengambil semua pekerjaan manusia. Melainkan bahwa pekerjaan yang tidak mau berubah bisa kehilangan tempatnya sendiri.
Jadi, sebelum bertanya pekerjaan siapa yang akan digantikan kecerdasan buatan, ada baiknya kita bertanya kepada diri sendiri:
Kalau besok pekerjaan saya bisa dilakukan dengan cara yang lebih cepat, lebih murah, dan lebih mudah, apa alasan orang masih membutuhkan saya?
Pertanyaan itu mungkin tidak nyaman. Tetapi lebih baik menjawabnya sekarang daripada terlambat.
Sebab, dalam sejarah teknologi, yang paling menyakitkan bukanlah ketika sebuah pekerjaan menghilang.
Melainkan ketika kita baru menyadari bahwa pekerjaan itu sudah tidak dibutuhkan lagi.







