Abaikan Risiko Kesehatan, Umat Hindu India Berendam di Sungai Beracun

  • Bagikan


Setiap festival Chhath Puja, yang biasanya berlangsung Oktober, dan atau November, umat Hindu di India biasanya berbondong-bondong mengunjungi Sungai Yamuna.

Mereka berendam dan berdoa di sungai itu sebagai bagian dari ritual keagamaan untuk menghormati dan meminta perlindungan Dewa Matahari, dan saudara perempuannya, Dewi Chhathi atau Chhathi Maiya, yang juga dikenal dengan nama Usha.

Shilpi Poddar, warga New Delhi, tidak pernah melewatkan kegiatan penting itu setiap tahunnya. Tahun ini, ia berdoa agar pandemi segera berlalu sehingga ia dan keluarganya bisa mendapatkan kebahagiaan.”Saya berdoa kepada Dewi Chhathi, memohon agar tahun depan menjadi tahun yang penuh kesuksesan. Saya memintanya untuk kebahagiaan keluarga saya dan dunia,” jelasnya.

Seorang perempuan berdoa di tepi sungai Yamuna di New Delhi, pada pagi yang berkabut, 8 November 2021. (REUTERS/Anushree)

Seorang perempuan berdoa di tepi sungai Yamuna di New Delhi, pada pagi yang berkabut, 8 November 2021. (REUTERS/Anushree)

Ranjit Kumar, warga New Delhi lainnya, juga tidak pernah melewatkan kegiatan itu. Namun, pada tahun ini, ia sedikit mengeluh. “Sangat sulit untuk merayakan Chhath. Air sungai itu sangat kotor, penuh dengan bahan kimia beracun. Sangat sulit,” komentarnya.

Keluhan juga disampaikan seorang warga New Delhi yang hanya memperkenalkan dirinya dengan nama Neha.

“Sungai ini jelas lebih tercemar dibandingkan dengan tahun lalu. Airnya sangat kotor, tetapi ini adalah festival kami, jadi kami akan merayakannya, terlepas dari keadaannya. Namun, pemerintah daerah dan pemerintah seharusnya memikirkannya. Pemerintah Delhi telah membatasi perayaan di dekat sungai ini, jadi kami datang ke sisi yang lain ini,” kata Neha.

Pemerintah New Delhi memang membatasi perayaan festival itu di sungai tersebut setelah munculnya protes dan keluhan dari para aktivis lingkungan dan kesehatan. Tapi, tetap saja orang-orang datang untuk merayakan Festival Chhath Puja di sana. Mereka lebih mengutamakan keyakinan agama mereka ketimbang ancaman kesehatan.

Yamuna yang panjangnya diperkirakan 1.376 kilometer adalah salah satu sungai paling suci bagi umat Hindu. Meski tercatat sebagai yang paling tercemar di dunia. sungai itu menyediakan lebih dari separuh kebutuhan air New Delhi, dan menimbulkan risiko kesehatan yang serius bagi warganya.

Bentangan luas Sungai Yamuna kerap ditutupi dengan busa putih beracun akibat akumulasi polutan yang dikeluarkan pabrik-pabrik yang mengelilingi New Delhi.

Saat Festival Chhath Puja berlangsung, ratusan penganut ajaran Hindu berdiri setinggi lutut di airnya yang berbusa dan beracun. Beberapa di antara mereka bahkan membenamkan seluruh tubuh mereka ke dalam air.

Para perempuan mandi di air sungai Yamuna yang tercemar di New Delhi, pada pagi yang berkabut, 8 November 2021. (REUTERS/Anushree Fadnavis)

Para perempuan mandi di air sungai Yamuna yang tercemar di New Delhi, pada pagi yang berkabut, 8 November 2021. (REUTERS/Anushree Fadnavis)

Pihak berwenang sebetulnya telah menggelar berbagai usaha untuk mengatasi pencemaran di sungai itu. Mereka, misalnya, mengerahkan sejumlah perahu bermotor dalam upaya membersihkan busa-busa beracun. Mereka juga mendirikan barikade dari batang-batang bambu untuk menjauhkan busa-busa itu dari tepi sungai.

Namun, banyak aktivis lingkungan dan kesehatan mengeluhkan bahwa tindakan-tindakan yang digelar pemerintah kurang memadai. Mereka mengatakan, perangkat hukum yang sudah ada, yang terkait dengan pencemaran lingkungan, belum sepenuhnya ditegakkan. Masih banyak pabrik yang membuang limbah ke sungai itu namun tidak dikenai sanksi atau hukuman yang setimpal.

New Delhi yang jumlah penduduknya lebih dari 20 juta orang adalah salah satu kota paling tercemar di dunia. Pada musim dingin, kondisi ibu kota India itu bahkan lebih parah. Kota itu kerap diselimuti kabut beracun yang mengaburkan langit dan tingkat polusinya bisa mencapai level yang membahayakan kesehatan.

Tingkat polusi udara di kota itu melonjak pada musim itu karena para petani di kawasan-kawasan pertanian di dekatnya sering membersihkan lahan-lahan mereka dengan membakarnya untuk persiapan musim panen berikutnya. [ab/uh]



Source link

  • Bagikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *