Laut Cina Selatan Diklaim Beberapa Negara

oleh -46 views

“Kehadiran kapal perang TNI AL ini menjadi pengawal perbatasan melindungi ketahanan nasional,” ujarKadispenal Laksamana Pertama TNI Julius Widjojono.

Lebih lanjut, Julius menjelaskan visi KSAL Laksamana Yudo Margono, bahwa Tentara NasionaI Indonesia Angkatan Laut  harus terus menjadi profesional, modern, dan tangguh.

“Untuk mewujudkan Indonesia yang berdaulat, mandiri dan berkepribadian berdasarkan gotong royong,” kata Kadispenal.

Kehadiran kapal perang Republik Indonesia (KRI) di seluruh perairan Yurisdiksi Nasional Indonesia terutama di lokasi-lokasi strategis seperti Selat Malaka menegaskan eksistensi TNI Angkatan Laut (AL) di Selat Malaka.

Julius  mengatakan hal tersebut merupakan instruksi  pimpinan AL  sebagai bagian dari strategi pertahanan.

Masih menurut jubir TNI AL,  Kasal meminta armada TNI AL untuk yang terdepan menjaga kedaulatan RI. Dimana pun kawasan teritori Indonesia ini menjadi pengawal perbatasan melindungi ketahanan nasional.

Tentara NasionaI Indonesia Angkatan Laut  harus terus menjadi profesional, modern, dan tangguh.  Visi Kasal Laksamana Yudo Margono: TNI AL untuk mewujudkan Indonesia yang berdaulat, mandiri dan berkepribadian berdasarkan gotong royong.

“Indikasi pentingnya jalur laut kepulauan Indonesia,” ucap Julius menanggapi Angkatan Laut Amerika Serikat (AS) yang sedang melakukan operasi dan latihan di Laut China Selatan.

Saat ini pergerakan dan aktifitasnya dipantaini u oleh KRI yang sedang melaksanakan operasi di Selat Malaka.

Kapal dari TNI AL terus memonitor pergerakan tiga kapal perang AS.  Kapal USS Princeton -CG-59, USS Nimitz (CVN-68) dan USS Sterett (DDG-104).  Mereka berada di perairan internasional timur Sumatera

“Di tengah makin memuncaknya konflik LCS. Di sinilah urgensi modernisasi Alutsista sangat penting untuk percepatan,” kata  Julius mengingatkan.

Adapun Unsur KRI tersebut antara lain KRI Todak-631, KRI Halasan-630, KRI Krait-827, KRI Pari-849 dan KRI Sikuda-863, serta Pesawat Udara Patmar Cassa P-8203 saat melintas di sepanjang Selat Malaka.

Kapal Induk AS  ke LCS.

Laut Cina Selatan jadi rebutan beberapa negara.  Masih dalam ranah konflik yang belum berujung.

Tidak hanya Amerika Serikat, namun  Inggris ikut memainkan peran.  Saling klaim wilayah yang tumpang tindih di Laut China Selatan.

Yang  pertama adalah Negara China, Taiwan, Filipina, Vietnam, Malaysia, dan Brunei menggunakan versi sejarah yang berbeda-beda untuk mendukung pernyataan kedaulatan mereka.

China mengklaim bagian terbesar, mempertahankan haknya atas hampir 90 persen Laut China Selatan, menduduki semua Kepulauan Paracel dan sembilan terumbu karang di Spratley, termasuk Fiery Cross Reef dan Johnson South Reef.

China mendasarkan klaimnya pada apa yang disebut “sembilan garis putus-putus ” yang membentang hampir 2.000 kilometer dari daratan China hingga beberapa ratus kilometer dari Filipina, Malaysia, dan Vietnam.

Sementara garis ini baru pertama kali muncul di peta resmi pada tahun 1948, China menyatakan bahwa itu adalah konfirmasi hak China, bukan penciptaan klaim baru―memperdebatkan kedaulatan berdasarkan penemuan dan penggunaan historis.

Dengan sejarah bersama mereka, klaim luas Taiwan atas wilayah tersebut mencerminkan klaim China.

Penggunaan historis juga digunakan untuk mendukung argumen teritorial baik Vietnam dan Filipina, dengan keduanya menempati sejumlah fitur―seperti terumbu karang atau pulau-pulau yang sebagian besar tidak berpenghuni―di Laut China Selatan.

Laut China Selatan adalah jalur tercepat dari Samudra Pasifik ke Samudra Hindia, dan merupakan tempat bagi beberapa jalur pelayaran tersibuk di dunia.

Lebih dari setengah kapal tanker minyak dunia, dan bahan mentah lainnya―seperti batu bara dan bijih besi dari Australia―melewati jalur perairan yang diperebutkan ini, dengan total perdagangan tahunan yang melalui area ini diperkirakan bernilai lebih dari 4 triliun dolar Australia.

Laut China Selatan juga menghubungkan Asia Timur dengan India, Asia Barat, Eropa, dan Afrika.  Laut China Selatan tidak hanya penting untuk rute pengiriman.

Di Laut China Selatan ada banyak cadangan minyak dan gas yang belum tereksploitasi―Laut China Selatan juga merupakan tempat bagi sumber penangkapan ikan yang melimpah.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *