Koran Prioritas.com — Public Relations di Pemerintah, Oleh SS Budi Raharjo MM (Konsultan Komunikasi & Mitigasi Risiko)
***
Saya sering bertanya-tanya. Mengapa sebuah kebijakan yang sebenarnya baik bisa ditolak masyarakat?
Padahal niatnya baik. Tujuannya baik. Bahkan manfaatnya mungkin besar.
Jawabannya sering sederhana: masyarakat tidak memahami apa yang sedang dikerjakan pemerintah.
Atau lebih tepatnya, pemerintah gagal menjelaskan.
Di sinilah pentingnya public relations.
Banyak orang masih menganggap public relations hanya urusan pencitraan. Seolah tugasnya sekadar membuat pemerintah terlihat baik. Memoles. Mengemas. Menutupi kekurangan.
Padahal public relations yang baik justru bekerja sebaliknya. Ia menjelaskan kenyataan apa adanya. Ia menjembatani pemerintah dengan masyarakat. Ia membantu publik memahami mengapa sebuah keputusan diambil dan apa konsekuensinya.
Karena dalam pemerintahan, tidak ada kebijakan yang bisa menyenangkan semua orang.
Menaikkan pajak dikritik. Tidak menaikkan pajak juga dikritik. Subsidi dianggap membebani anggaran. Mengurangi subsidi dianggap tidak berpihak kepada rakyat.
Apa pun keputusan pemerintah, selalu ada yang setuju dan ada yang menolak.
Karena itu pemerintah tidak cukup hanya bekerja. Pemerintah harus mampu menjelaskan pekerjaannya.
Saya teringat sebuah ungkapan lama dalam dunia komunikasi.
“Persepsi sering kali lebih cepat bergerak daripada fakta.”
Hari ini ungkapan itu terasa semakin relevan.
Dulu, informasi bergerak pelan. Pemerintah masih punya waktu untuk menyusun penjelasan. Media massa menjadi saluran utama.
Sekarang situasinya berbeda.
Sebuah video berdurasi 30 detik bisa lebih berpengaruh daripada laporan resmi setebal 300 halaman.
Sebuah unggahan media sosial bisa menciptakan opini nasional hanya dalam hitungan jam. Bahkan kadang dalam hitungan menit.
Di era digital, pemerintah tidak lagi menjadi satu-satunya sumber informasi.
Semua orang bisa menjadi penyebar informasi. Semua orang bisa menjadi komentator. Semua orang bisa menjadi media.
Itulah sebabnya fungsi public relations pemerintah menjadi semakin penting.
Bukan untuk mengendalikan percakapan. Itu sudah tidak mungkin. Yang bisa dilakukan adalah hadir dalam percakapan tersebut.
Mendengar. Menjelaskan. Merespons. Dan bila perlu, mengakui kesalahan.
Yang terakhir ini sering paling sulit dilakukan. Padahal publik sebenarnya cukup dewasa.
Masyarakat bisa menerima bahwa pemerintah tidak selalu benar.
Yang sulit diterima adalah ketika pemerintah menolak mengakui kekeliruan yang sudah terlihat jelas.
Dalam dunia komunikasi krisis, ada satu pelajaran penting.
Kesalahan pertama biasanya tidak mematikan. Tetapi kesalahan kedua sering lebih berbahaya.
Kesalahan pertama adalah masalah yang terjadi. Kesalahan kedua adalah cara menjelaskan masalah itu.
Banyak krisis besar justru membesar karena komunikasi yang buruk. Bukan karena masalah awalnya. Karena itu, seorang juru bicara pemerintah sesungguhnya memikul tugas yang tidak ringan.
Ia harus mampu menerjemahkan bahasa birokrasi menjadi bahasa yang dimengerti masyarakat. Ia harus menjelaskan kebijakan yang rumit dengan kalimat yang sederhana. Ia harus menjawab pertanyaan sulit tanpa kehilangan substansi.
Dan ia harus melakukannya hampir setiap hari. Kadang ketika suasana tenang. Kadang ketika situasi sedang panas. Kadang ketika informasi yang tersedia belum lengkap.
Saya selalu percaya bahwa komunikasi pemerintah yang baik tidak boleh hanya berbicara saat keadaan baik.
Justru ketika keadaan sulit, komunikasi menjadi lebih penting. Ketika ekonomi melambat. Ketika harga naik. Ketika bencana terjadi. Ketika muncul kritik.
Pada saat-saat itulah masyarakat ingin mendengar penjelasan dari pemerintah.
Bukan slogan. Bukan pencitraan. Tetapi penjelasan yang jujur.
Karena kejujuran adalah fondasi utama kepercayaan. Dan kepercayaan adalah modal terbesar sebuah pemerintahan.
Lebih besar daripada anggaran. Lebih besar daripada teknologi. Bahkan lebih besar daripada kekuasaan itu sendiri.
Kekuasaan bisa diperoleh melalui pemilihan umum. Tetapi kepercayaan harus dibangun setiap hari. Sedikit demi sedikit.
Melalui tindakan yang konsisten. Melalui komunikasi yang terbuka. Melalui keberanian mengatakan yang benar, meskipun tidak selalu menyenangkan.
Setiap presiden memiliki gaya komunikasi yang berbeda.
Setiap zaman memiliki tantangan yang berbeda. Namun satu hal tetap sama. Pemerintah membutuhkan hubungan yang sehat dengan masyarakat.
Dan hubungan yang sehat hanya bisa lahir dari komunikasi yang sehat.
Pada akhirnya, public relations pemerintah bukanlah soal membuat pemerintah tampak hebat.
Bukan pula soal memenangkan perdebatan di ruang publik. Tugas yang lebih besar adalah menjaga agar jembatan antara pemerintah dan rakyat tetap berdiri.
Sebab ketika jembatan itu runtuh, informasi tidak lagi dipercaya. Penjelasan tidak lagi didengar. Dan kebijakan yang baik sekalipun akan sulit diterima.
Di situlah sesungguhnya public relations menemukan makna terbesarnya. Bukan sebagai alat pencitraan. Melainkan sebagai penjaga kepercayaan.
Dan dalam pemerintahan, tidak ada aset yang lebih berharga daripada kepercayaan rakyat.







