
Koran Prioritas.com — Megawati Hadiri Pementasan Teater Indonesia-Uzbekistan: Jembatan Diplomasi Budaya dan Sejarah
Presiden Kelima RI sekaligus Ketua Umum DPP PDI Perjuangan, Megawati Soekarnoputri, menghadiri pertunjukan teater kolaborasi seni musik Indonesia dan Uzbekistan di Gedung Kesenian Jakarta, Selasa malam (15/4).
Pementasan bertajuk “Imam Al-Bukhari dan Soekarno” ini menjadi simbol kuat persahabatan historis dan spiritual antara kedua bangsa.
Kegiatan ini merupakan puncak dari rangkaian acara yang digelar sepanjang hari, diawali dengan Forum Bisnis Indonesia-Uzbekistan di Hotel Four Seasons pada pagi hari.
Forum tersebut turut dihadiri oleh Wakil Gubernur Jawa Timur Emil Dardak, Duta Besar Uzbekistan untuk Indonesia Oybek Eshonov, serta Duta Besar Indonesia untuk Uzbekistan, Prof. Siti Ruhaini.
Pada sore harinya, pentas teater dihadiri sejumlah tokoh nasional dari lintas bidang—politik, diplomasi, hingga kebudayaan. Terlihat hadir Menteri Kebudayaan Dr. Fadli Zon, Gubernur DKI Jakarta Pramono Anung, Wakil Gubernur Jakarta Rano Karno, serta Dubes Uzbekistan Oybek Eshonov.
Keluarga besar Megawati turut meramaikan acara tersebut, di antaranya: putranya yang juga Ketua DPP PDIP M. Prananda Prabowo, Ketua DPR RI Puan Maharani, serta adik-adiknya Sukmawati Soekarnoputri dan Guruh Soekarnoputra.
Hadir pula elite PDIP seperti Ganjar Pranowo, Djarot Saiful Hidayat, Bintang Puspayoga, Ronny Talapessy, serta tokoh budaya Butet Kartaredjasa dan Ketua BPIP Yudian Wahyudi. Dari kalangan intelektual, cucu pahlawan Ir. Djuanda, Ismeth Wibowo, juga tampak dalam acara sebagai pengamat internasional.
Sejarah sebagai Fondasi Peradaban
Dalam pidatonya, Megawati menekankan pentingnya memahami sejarah sebagai fondasi peradaban bangsa. Ia mengingatkan kembali pesan Proklamator RI Ir. Soekarno tentang prinsip JASMERAH – “Jangan Sekali-kali Melupakan Sejarah.”
“Sebab, jika suatu bangsa telah lupa akan sejarahnya di masa lampau, maka suatu saat bangsa tersebut akan tergelincir dan jatuh,” ujar Megawati di hadapan para undangan.
Ia juga menyebut Uzbekistan sebagai bagian penting dalam sejarah spiritual Indonesia, terutama karena keberadaan makam Imam Al-Bukhari—ulama besar perawi hadis Nabi Muhammad SAW—yang pernah diziarahi Bung Karno dalam kunjungan ke Uni Soviet pada 1956.
Megawati mengenang kembali kisah tersebut, ketika Bung Karno secara khusus meminta kepada Presiden Soviet Nikita Khrushchev untuk menemukan dan memugar makam Imam Al-Bukhari.
“Kalaupun harus naik kereta api sendiri, saya akan tetap pergi,” tutur Megawati, mengutip keteguhan ayahandanya.
Setelah upaya keras, makam sang ulama akhirnya ditemukan di Desa Hartang, sekitar 25 km dari kota Samarkand, Uzbekistan. Pemugaran pun dilakukan, dan kini situs tersebut menjadi destinasi ziarah spiritual umat Islam dari seluruh dunia.
Diplomasi Budaya dalam Pementasan Teater
Pertunjukan ini disutradarai oleh Ahmad Fauzi dari Indonesia dan Valikhon Umarov dari Uzbekistan—melambangkan eratnya kolaborasi kedua bangsa dalam seni dan diplomasi budaya.
Bagi Megawati, kolaborasi ini bukan sekadar pertunjukan seni, tetapi juga pengingat akan pentingnya sejarah sebagai jembatan masa depan.
“Dari langkah kecil itu, lahirlah perubahan besar. Imam Bukhari pun kembali hadir dalam kesadaran umat, bukan hanya sebagai tokoh agama, tetapi sebagai simbol pengetahuan, moralitas, dan kebesaran peradaban Islam,” ungkapnya.
Ia juga mengutip peribahasa Asia Tengah yang penuh makna: “Jika hati kita dekat, jarak bukanlah penghalang.”
Uzbekistan Tak Lupa Jasa Bung Karno
Menteri Kebudayaan Dr. Fadli Zon menyampaikan bahwa Megawati belum lama ini telah melakukan ziarah langsung ke kompleks makam Imam Al-Bukhari yang kini tengah direnovasi. Menurut Fadli, Uzbekistan akan menambahkan elemen khusus berupa memorabilia Bung Karno di area makam sebagai bentuk penghormatan.
“Ini bentuk penghormatan Uzbekistan terhadap jasa beliau dalam memuliakan peninggalan Islam di Asia Tengah,” ujar Fadli.
Fadli menegaskan, Uzbekistan tak pernah melupakan jasa Bung Karno. “Ini adalah bentuk diplomasi budaya yang luar biasa penting untuk terus kita rawat.”
Pementasan “Imam Al-Bukhari dan Soekarno” bukan hanya menjadi pertunjukan seni, tapi juga simbol dari warisan sejarah dan spiritual yang menghubungkan dua bangsa dalam satu jalinan nilai dan semangat yang sama: merawat sejarah, menjunjung martabat peradaban.














