Pengantin Baru dan Potensi Serangan Baru

oleh -23 views


Polisi mengonfirmasi kedua pelaku bom bunuh diri di depan halaman gereja Katedral di Jalan Kartini, Makassar, Sulawesi Selatan, hari Minggu (28/3), sebagai pasangan suami istri yang baru saja menikah enam bulan lalu. Polisi baru menyebut inisial identitas keduanya sebagai L dan YSF.

“Betul pelaku adalah pasangan suami istri yang baru menikah enam bulan,” ujar Kadivhumas Polri Irjen Pol. Argo Yuwono dalam konferensi pers virtual hari Senin (29/3).

Di Makassar, Kapolri Jendral Pol. Listyo Sigit Prabowo kembali mengukuhkan hal ini.

“L dan YSF beberapa bulan lalu, tepatnya enam bulan lalu, dinikahkan oleh Rifaldi, yang juga telah ditangkap Januari lalu,” ujarnya. Ditambahkannya, L telah meninggalkan surat wasiat untuk orang tuanya, “yang isinya mengatakan yang bersangkutan berpamitan dan siap mati syahid.”

Kapolri Jenderal Pol. Listyo Sigit Prabowo memberikan keterangan pers usai meninjau lokasi ledakan di Makassar, Sulawesi Selatan. (Courtesy: Mabes Polri)

Kapolri Jenderal Pol. Listyo Sigit Prabowo memberikan keterangan pers usai meninjau lokasi ledakan di Makassar, Sulawesi Selatan. (Courtesy: Mabes Polri)

Pelaku Serangan Bunuh Diri Bagian Kelompok JAD di Filipina

Sebagaimana yang diindikasikan tiga pengamat intelijen dan terorisme yang diwawancarai VOA sebelumnya, polisi mengatakan pelaku adalah bagian dari kelompok Jamaah Ansharut Daulah JAD. Bahkan Argo Yuwono secara lebih rinci menyebut pelaku sebagai bagian dari kelompok JAD yang melakukan pemboman gereja Katedral Our Lady of Mount Carmel di Jolo, Filipina, pada Januari 2019, yang menewaskan 20 orang dan melukai 102 lainnya.

Berdasarkan keterangan polisi diketahui L dan YSF berboncengan sepeda motor dan mencoba memasuki kawasan gereja ketika berakhirnya Misa Minggu Palma. Seorang penjaga keamanan gereja mencegah mereka dan tak lama kemudian ledakan terjadi. Sedikitnya 20 orang luka-luka terkena pecahan bom, sementara kedua tersangka pelaku tewas seketika.

Polisi Temukan Lima Bom Aktif

Polisi dan Densus 88 Anti-Teror bergerak cepat. Hanya beberapa jam setelah ledakan bom bunuh diri di Makassar, empat orang ditangkap di Bima, Nusa Tenggara Barat. Disusul penangkapan empat orang lainnya di Condet dan Bekasi, Jakarta, dalam operasi yang dipimpin langsung oleh Kapolda Metro Jaya Irjen Pol. Fadil Imran hari Senin (29/3).

Polisi juga menemukan sejumlah barang bukti, termasuk lima bom aktif berdaya ledak tingi dan sangat mudah terbakar, yang sudah dirakit dalam bentuk kaleng; termasuk campuran bahan peledak yang dapat digunakan untuk membuat 70 bom pipa.

Polisi menunjukkan tas plastik berisi barang bukti yang dikumpulkan dari lokasi ledakan di Gereja Katedral, Makassar, Senin (29/3).

Polisi menunjukkan tas plastik berisi barang bukti yang dikumpulkan dari lokasi ledakan di Gereja Katedral, Makassar, Senin (29/3).

Ideologi Takfiri & Potensi Serangan Baru

Berbicara dengan beberapa pengamat terorisme, diketahui bahwa serangan bom bunuh diri di Makassar tidak saja menunjukkan masih kuatnya rekrutmen dan militansi di kalangan kelompok-kelompok radikal seperti JAD, tetapi juga pembalasan yang dilakukan terhadap penangkapan sejumlah tersangka teroris oleh aparat beberapa minggu terakhir ini.

Pakar terorisme Al Chaidar. (Foto: Dok Pribadi)

Pakar terorisme Al Chaidar. (Foto: Dok Pribadi)

Diwawancarai melalui telpon Senin malam (29/3) pengamat terorisme di Universitas Mailikussaleh Aceh, Al Chaidar, mengatakan, “Militansi memang sulit dijelaskan secara sosiologis karena ini merupakan fenomena psikologis dan antropologis. Militansi itu yang membuat mereka bertahan dan resilien. Interpretasi mereka terhadap agama yang sederhana, membuat mereka melihat dunia ini hitam putih dan memandang musuh-musuh Tuhan sebagai sesuatu yang harus dihancurkan dengan kekerasan.”

Cara pandang agama yang menekankan pada hukum agama yang keras, yang berkembang menjadi kecenderungan untuk senantiasa merasa benar, mengeluarkan atau menghukum orang yang dinilai berbeda atau salah dikenal sebagai takfiri. Pengamat Timur Tengah dan terorisme di Universitas Indonesia Muhammad Syauqillah mengatakan selama ideologi takfiri masih ada maka teroris akan tetap ada. Seringkali kelompok teror ini ingin melakukan aksi dan mencari glorifikasi menjelang atau pada saat bulan suci Ramadhan “karena diyakini sebagai simbol kemenangan,” sebagaimana sejumlah perang yang dilakukan umat Islam ketika Nabi Muhammad SAW masih hidup, ujarnya.

Oleh karena itu Stanislaus Riyanta, pengamat terorisme lain di Universitas Indonesia mengatakan “sangat mungkin, bahkan bisa jadi aksi ini menjadi trigger (pemicu.red) aksi-aksi lain.”

Al Chaidar juga menyampaikan hal serupa. “Bukan mustahil mereka akan melakukan serangan lain, bahkan terhadap gereja-gereja yang pernah diserang di Surabaya dan Makassar,” terlebih mengingat jaringan JAD kini tersebut di 19 propinsi.

Upaya Deradikalisasi Butuh Waktu Panjang

Ketiga pengamat ini menilai operasi pemberantasan terorisme tidak cukup hanya dengan penangkapan besar-besaran, tapi harus disertai upaya deradikalisasi untuk membentuk masifnya ideologi Wahabi Takfiri.

Densus 88 Anti-Teror memang telah menangkap ratusan terduga teroris sejak awal tahun ini di berbagai lokasi di Indonesia, antara lain di Makassar, Sulawesi Selatan; Pontianak, Kubu Raya dan Singkawang di Kalimatan Barat, Aceh, Sumatera Utara, Sumatera Barat, Jakarta dan Tangerang. Namun upaya deradikalisasi memang belum menunjukkan hasil.

Densus 88 Anti-Teror telah menangkap ratusan terduga teroris sejak awal tahun ini (foto: dok).

Densus 88 Anti-Teror telah menangkap ratusan terduga teroris sejak awal tahun ini (foto: dok).

“Jika aparat bisa langsung sigap menangkap semua jaringan maka potensi serangan lanjutan bisa direduksi. Namun perlu kekuatan besar untuk melawan radikalisme terorisme, dan kekuatan itu sebenarnya dimiliki masyarakat,” ujar Stanislaus Riyanta.

Ironisnya, tambahnya, “yang denial (mengingkari atau menolak.red) upaya pemberantasan ini di masyarakat juga kuat. Mereka misalnya merasa langkah pemerintah – misalnya membubarkan HTI (Hizbut Tahrir Indonesia) dan FPI (Front Pembela Islam) – sebagai memusuhi agama.”

Kunjungi Lokasi Ledakan, Menag: Tak Ada Agama Ajarkan Kekerasan & Teror

Menteri Agama Yaqut Cholil Qoumas mengakui memerangi teror dan radikalisme tidak mudah.

“Kita butuh kerjasama semua pihak – media, aparat keamanan – agar tragedi kemanusiaan ini tidak terulang lagi,” ujar Gus Yaqut, panggilan akrab beliau, ketika mengunjungi Gereja Katedral di Makassar, hari Senin (29/3).

Menteri Agama Yaqut Cholil Qoumas didampingi Uskup Agung Makassar Mgr. John Liku Ada' menguatkan warga agar tidak takut beribadah, pasca ledakan bom di Gereja Katedral di Makassar, Sulawesi Selatan. (Foto: Kemenag RI)

Menteri Agama Yaqut Cholil Qoumas didampingi Uskup Agung Makassar Mgr. John Liku Ada’ menguatkan warga agar tidak takut beribadah, pasca ledakan bom di Gereja Katedral di Makassar, Sulawesi Selatan. (Foto: Kemenag RI)

Yaqut mendesak seluruh pemuka agama untuk terus berdakwah dengan jalan yang damai dan menjunjung nilai-nilai kemanusiaan. “Tidak ada agama yang mengajarkan kekerasan dan teror,” tegasnya.

Didampingi Uskup Agung Makassar Mgr. John Liku Ada’, Yaqut mendorong umat Kristiani di Makassar untuk tetap beribadah seperti biasa tanpa rasa takut.

“Beribadahlah seperti biasa, jangan ketakutan. Kita akan lawan, hadapi kelompok-kelompok yang melakukan teror itu,” ujarnya. [em/jm]



Source link

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *