Menlu Serahkan Empat Orang Eks Sandera Abu Sayyaf

oleh -45 views


Menteri Luar Negeri Retno Marsudi pada Senin (5/4) menyerahkan empat anak buah kapal yang pernah disandera oleh kelompok Abu Sayyaf di Filipina Selatan kepada pihak keluarga.

Dalam acara serah terima yang dilakukan di kantor Kementerian Luar Negeri di Jakarta, Retno mengatakan keempat warga Indonesia asal Wakatobi, Sulawesi Tenggara, yaitu Arsyad, Arizal, Riswanto, dan Khairuddin disekap oleh milisi Abu Sayyaf selama 427 hari. Mereka diculik pada 15 Januari 2020.

Retno menyampaikan rasa terima kasih kepada semua pihak di dalam negeri, termasuk Tentara Nasional Indonesia dan Badan Intelijen Negara (BIN), dan militer Filipina yang berjasa dalam upaya pembebasan keempat sandera tersebut.

Dia menambahkan sejak 2016 hingga sekarang terdapat 44 warga Indonesia yang menjadi korban penyanderaan Abu Sayyaf.

“Dengan pembebasan ini, maka tidak ada WNI yang saat ini menjadi korban penyanderaan. Ke depan, kita harus memperkuat aspek pencegahan, meningkat pengamanan di perairan Sabah oleh otoritas Malaysia dan tentunya dengan kerjasama dari otoritas kita dan juga otoritas Filipina,” kata Retno.

Retno meminta nelayan Indonesia yang bekerja di kapal Malaysia untuk terus meningkatkan kehati-hatian.

Polisi Filipina bersenjata mengawal warga negara Indonesia, Muhamad Sofyan ketika mereka meninggalkan rumah sakit di kota Jolo, Provinsi Sulu, di selatan pulau Mindanao pada 17 Agustus 2016, setelah dia melarikan diri dari para penculiknya, kelompok ekstr

Polisi Filipina bersenjata mengawal warga negara Indonesia, Muhamad Sofyan ketika mereka meninggalkan rumah sakit di kota Jolo, Provinsi Sulu, di selatan pulau Mindanao pada 17 Agustus 2016, setelah dia melarikan diri dari para penculiknya, kelompok ekstr

Pemerintah juga akan lebih intensif berkomunikasi dengan para pemilik kapal di Malaysia yang mempekerjakan awak asal Indonesia dan bertekad meningkatkan pembangunan ekonomi di daerah-daerah yang menjadi basis nelayan.

Pada kesempatan yang sama, Zulimin Sima, perwakilan keluarga eks korban penyanderaan Abu Sayyaf, mengatakan berterima kasih kepada semua pihak, termasuk Menteri Luar negeri Retno Marsudi dan TNI, atas keberhasilannya memulangkan keempat orang tersebut.

“Sekarang kami tidak bisa mengucapkan (kata-kata)…(cuma) dengan aliran air mata. Hanya itu yang bisa saya ucapkan,” ucap Zulimin.

Kepada wartawan, salah satu mantan sandera Abu Sayyaf, Arizal, merasa sangat bersyukur karena dapat berkumpul kembali bersama keluarga. Dia mengenang saat-saat ketika disandera Abu Sayyaf.

“Kesehariannya memang sengsara di sana. Kadang kita nggak makan dua hari, tiga hari. Takut kena bom atau apa. Memang sengsara betul kehidupan di sana, nggak ada enak. Kehidupan nggak terjamin, takut kenapa-kenapa di sana,” tutur Arizal.

Namun Arizal mengakui selama dalam penyekapan Abu Sayyaf mereka tidak pernah disiksa.

Sulu Terkenal Sebagai Sarang Perompak

Peneliti perbatasan dari Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) Sandy Raharjo menjelaskan dari sisi sejarah, daerah sekitar Kepulauan Sulu memang terkenal sebagai sarang perompak. Selain itu, sejak lama sudah ada kegiatan lintas batas yang melibatkan warga dari ketiga negara, yakni Indonesia, Malaysia, dan Filipina.

Hanya saja tidak pernah ada kejadian penculikan warga Indonesia oleh perompak yang beroperasi di perairan Kepulauan Sulu karena adanya kedekatan budaya, ras, dan agama.

Juru bicara Abu Sayyaf Abu Sabaya, di latar depan, terlihat bersama kelompok ekstremis bersenjata. Pasukan Filipina menangkap seorang komandan pemberontak Abu Sayyaf yang disalahkan atas penculikan uang tebusan selama bertahun-tahun dan pada hari Minggu, 21 Maret 2021. (Foto: AP)

Juru bicara Abu Sayyaf Abu Sabaya, di latar depan, terlihat bersama kelompok ekstremis bersenjata. Pasukan Filipina menangkap seorang komandan pemberontak Abu Sayyaf yang disalahkan atas penculikan uang tebusan selama bertahun-tahun dan pada hari Minggu, 21 Maret 2021. (Foto: AP)

Sandy menambahkan penculikan terhadap warga Indonesia oleh Abu Sayyaf mulai marak setelah pemerintah Indonesia dan pemilik kapal memberi uang tebusan untuk membebaskan warga Indonesia yang tidak sengaja ditangkap Abu Sayyaf sekitar tahun 2016.

Karena pemberian uang tebusan tersebut, menurut Sandy, Abu Sayyaf kerap mengulangi tindakan menyandera warga Indonesia yang bekerja sebagai nelayan atau anak buah kapal ketika kapal mereka berlayar di sekitar Kepulauan Sulu.

“Akhirnya kemudian pola itu, dari titik dibayar uang tebusan, jadi semacam pemicu untuk melakukan kasus yang berulang lagi. kalau misalnya kita bisa menangkap WNI itu, kemungkinan besar mereka tetap akan membayar kita. Titik itu yang kemudian jadi krusial, kenapa terus menerus penculikan terhadap warga negara kita, teruatama para ABK yang bekerja di kapal-kapal banyak beroperasi di sekitar Laut Sulawesi itu,” ujar Sandy.

Menurutnya faktor kemiskinan, ketertinggalan pembangunan, politik identitas dan tidak adanya pengakuan membuat Abu Sayyaf dan kelompok perompak itu masih terus bercokol. Jika pemerintah Filipina mau mengakui, menghormati, dan mengakomodasi politik identitas warga Muslim di Filipina Selatan, sambil sekaligus memperbaiki kondisi perekonomian masyarakat, peneliti LIPI ini menilai masalah Abu Sayyaf dapat diselesaikan. [fw/em]



Source link

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *