Catatan Bersama Remy Sylado (5)

oleh -57 views

Menanti Doktor Kehormatan dan Bintang Jasa

 

Ini salah satu puisi karya Remy Sylado yang yang menunjukan betapa hebatnya Remy mengolah imajinasi:

Kesetiakawanan Asia-Afrika

Mei Hwa perawan 16 tahun
Farouk perjaka 16 tahun
Mei Hwa masuk kamar jam 24.00
Farouk masuk kamar jam 24.00.
Mei Hwa bukan blouse
Farouk buka hemd
Mei Hwa buka rok
Farouk buka celana
Mei Hwa bhka BH
Farouk buka singlet
Mei Hwa buka celana dalam
Farouk buka celana dalam
Mei Hwa telanjang bulat
Farouk telanjang bulat
Mei Hwa pakai daster
Farouk pakai kamerjas
Mei Hwa naik ranjang
Farouk naik ranjang
Lantas mereka tidurlah
Mei Hwa di Taipeh
Farouk di Kairo

Remy Sylado terlahir di Makasar,Makassar, 12 Juli 1945.  Berarti tahun 2020 ini sudah mencapai usia 75 tahun.

Nama sangat lengkapnya Jubah Anak Perang Imanuel Panda Abdiel Tambayong. Nama resminya Jopiie Tambayong. Dari marganya Tambahong orang sudah faham dari mana suku aslinya.

Selain nama Remy Sylado, dia masih punya banyak nama samaran atau alias lainnya. Nama panggilannya publik-nya yang sudah sangat populer di masyarakat memang  Remy Sylado.

Nama itu diambil dari gabungan nada musik 23761.  Kenapa dia memakai nama itu, banyak versi. Ada media yang mengutip  keterangan  Remy, katanya, itulah untuk pertama kalinya dia mencium wanita. Tapi ada beberapa versi lainnya.

Remy sendiri kalau sekarang ditanya soal ini, cuma senyam-senyum tak banyak bicara.

Nama samarannya, antara lain,
Dova Zila, Alif Danya Munsyi, Juliana C. Panda,
Dan Jubal Anak Perang Imanuel.

Formalnya Remy beragama Kristen Katolik. Dia pernah masuk sekolah seminari. Kendari begitu Remy fasih, bicara dan menulis bahasa Arab, termasuk memiliki kemampuan membaca Al Al Quran.

Tak ketinggalan Remy pun dapat membaca tulisan Arab Gundul.

Hebatnya lagi, dan ini tak banyak yang faham sampai kini, Remy telah khatam Al Qur’an di usia 14 tahun. Sampai kiwari dia masih hafal Al Quran, termasuk letak-latak dan nomer suratnya!

Sejak belajar tulis menulis bahasa Arab, Remy hatinya telah terpincut dengan keindahan dan seluk beluk kaligrafi.

Dia terpesona dengan varian keindahan di kaligrafi. Tentu sebagai orang yang menguasai bahasa Arab, dia dapat menguraikan dimana letak keindahan karya-karya kaligrafi sekaligus makna dan mengapa bentuk-bentuk karya seperti itu.

Kemampuannya berbahasa Arab melahirkan kehebatan lain pada dirinya. Remy mahir menulis indah, tak hanya
dari kanan ke kiri, tapi juga dari kiri ke kanan.

Tak berlebih banyak yang menjuluki Remy sebagai seorang munsyi

Menurut kamus bahasa Indonesia, munsyi mempunyai  tiga makna:  Guru bahasa; Ahli bahasa dan Punjangga. Remy memenuhi ketiga kriteria itu. Remy bukan saja tokoh dan guru besar munsyi  tetapi juga “Raja Besar Munsyi!”

Remy Sylado memulai karier sebagai koresponden Tempo di Semarang. Selepas dari majalah Tempo, karier kepenulisannya meleset.

Dia antara lain pernah menjadi redaktur pelaksana majalah Aktual dan beberapa majalah lainnya. Remy juga kolumnis di hampi semua media terkenal di Indonesia.

Sewaktu saya menjadi anggota Dewan Pers, tanpa ragu saya memberikan kepada Remy predikat wartawan utama bersamaan dengan gelombang penerima Wartawan Utama seperti Jacob Oetama, Fikri Jufri, Sabam Sigaian dan lainnya tanpa harus melalui ujian formal lagi.

Sesuai aturan Dewan Pers, status wartawan utama dapat diberikan tanpa ujian kepada mereka yang sudah berusia 50 tahun, sudah berkarier di dunia jurnalistik minimal 20 tahun, dan reputasinya diakui baik secara nasional dan atau internasional.

Remy memenuhi semua persyaratan itu. Ketika namanya diajukan ke sidang pleno Dewan Pers saat itu untuk mempersoleh persetujuan, tak ada satu pun anggota Dewan Pers yang menolak.

Telah ratusan buku yang ditulisnya. Saya pernah bertanya kepada Remy, apalah dia punya catatan buku-buku apa saja yang pernah ditulis, dia menjawab, ada.

Beberapa saat sebelum dia, sakit saya sudah minta daftar itu, tapi sampai sekarang belum dapat. Namun satu hal yang jelas, buku yang ditulisnya sudah berbilang ratusan.

Remy menulis buku sastra, buku kajian, sampai buku teksbook kebudayaan dan kamus.

Contoh-contoh buku karyanya yang populer, di antaranya; Matahari, Orexas, Gali Lobang Gila Lobang, Siau Ling, Ca-Bau-Kan,  Kerudung Merah Kirmizi,  Kembang Jepun, Parijs van Java, Menunggu Matahari, Melbourne, Sam Po Kong.

Puisi Mbeling, Rumahku di Atas Bukit, Dramaturgi,  9 dari 10 Bahasa Indonesia adalah Asing, Drama Musikaalisasi Tarragon “Born To Win”, Diponegoro, 9 Oktober 1740, 123 Ayat tentang Seni , Drama Sejarah 1832 (Kisah Diponegoro di Pembuangan Manado)

Nyanyi  Bawang Merah, Bawang Putih, Bawang Bombay, Kamus Isme-isme, dan
Perempuan itu Bernama Arjuna.

Novel Matahari yang merupakan kisah nyata wanita Indonesia yang terlibat spionase di perang pertama Eropa dan dimuat sebagai cerita bersambung di harian Kompas, dibuatnya berdasarkan riset sampai ke ngeri kincir angin.

Tapi buku ini tentu bukan satu-satunya buku yang dia buat dengan lebih dahulu melakukan riset.

Sebagai budayawan luar biasa, sudah banyak penghargaan yang diterimanya. Beberapa yang sempat saya catat:  Khatulistiwa Literary Award, Yayasan Penghargaan Indonesia

Untuk Bidang Pelestarian Musik Etnik, Penghargaan Pemecah Rekor Karya Puisi Paling Tebal
Dari Museum Rekor Indonesia (MURI),  Piagam Apresiasi PAPRI Wakil Presiden, untuk Kritik Musik, Braga Award dari Gubernur Jawa barat, untuk Bidang Teater.

Dia juga seorang guru dan pembimbing. Tercatat Remy pernah menjadi dosen sinematografi, ratusan pelatihan musik, teater, film dan kebudayaan

Melihat rekam jejaknya yang sedemikian hebat , saya tegas berpendapat sudah wajar saatnya ada perguruan tinggi yang memberikan gelar doktor kehormatan kepada Remy.

Tak ada satupun alasan prinsipil yang menghalangi Remy untuk menerima gelar doktor kehormatan itu. Para pejabat di bidang akademis sudah sewajarnya membuka mata mereka memikirkan kemungkinan pemberitaan gelar kehormatan doktor ini.

Selain itu, saya juga tegas berpendapat, sudah teramat sangat layak Remy Sylado memperoleh tanda-tanda gelar kehormatan dari negara.

Tingkatan atau urutan gelar kehormatan apa yang patut diberikan kepada Remy, para pengambil keputusan tentu memahami hal ini.

Kita harus membiasakan memberikan tanda-tanda jasa kepada orang yang masih hidup dan yang memang kayak memperolehnya seperti seorang Remy Sylado.

Sampai kini, kendati sudah agak membaik, Remy masih berbaring lemah di tempat tidur di rumahnya.

Pandemi covid-19 membuat saya pribadi dan beberapa kawan dekatnya, belum dapat membezoek lagenda hidup ini. Kami mendoakan agar Bung Remy cepat sembuh….

***

(SELESAI).

WINA ARMADA SUKARDI, Wartawan senior, kritikus film, penyair, anggota Dewan Pers dua priode dan advokad.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *