Uji Coba Obat Suntik untuk Penyandang HIV Berlangsung di Afrika

oleh -3 views
Uji Coba Obat Suntik untuk Penyandang HIV Berlangsung di Afrika


Satu setengah juta orang di Kenya positif HIV dan satu juta di antaranya diperkirakan menerima obat antiretroviral. Namun, menurut Kementerian Kesehatan negara itu, stigma buruk terhadap pengidap penyakit ini membuat banyak orang malu mengonsumsi obat itu.

Penggunaan obat yang tidak konsisten membuat kemanjuran obat tidak seefektif yang seharusnya.

Menurut laporan Perpustakaan Umum Ilmu Pengetahuan AS (USPLS), stigma buruk masih menjadi penghalang bagi orang untuk menjalani tes di negara-negara Afrika, bahkan di mana pengobatan tersedia.

Seperangkat alat tes HIV. (Foto: AP/John Raby)

Seperangkat alat tes HIV. (Foto: AP/John Raby)

Karena fakta itu pula, sejumlah ilmuwan mengembangkan obat yang dikonsumsi dalam frekuensi yang lebih jarang sehingga bisa lebih memberikan kerahasiaan. Obat suntik tersebut saat ini sedang diujicoba Kenya, Uganda dan Afrika Selatan.

Benta Agola adalah penyandang HIV. Ia tertarik pada prospek obat-obatan seperti itu.

“Saya siap untuk menerimanya dan saya menantikannya. Saya merasa hidup saya sudah hampir seperti orang normal. Sepertinya, HIV tidak lagi menjadi ancaman bagi hidup saya,” katanya.

Agola telah hidup dengan virus itu selama 21 tahun dan menghadapi banyak tantangan dan diskriminasi karena adanya stigma buruk terhadap orang seperti dirinya.

“Kelak saya tidak harus lagi membawa-bawa obat antiretroviral dalam tas. Tidak ada yang akan tahu bahwa saya positif. Obat-obatan dengan frekuensi penggunaan yang jarang akan membuat orang bersedia memeriksakan diri dan memanfaatkannya,” tutur Agola.

Uji coba terhadap 160 pasien sedang berlangsung di Kenya di mana mereka disuntik dengan obat rilpivirine dan cabotegravir pada bulan Maret. Obat-obatan yang secara sederhana disebut ARV ini sebetulnya sudah disetujui badan-badan pengawas obat Inggris dan di AS, tetapi para dokter di Afrika mengatakan obat tersebut perlu diujicobakan terlebih dahulu di benua itu.

Wangui Kamau, pakar penyakit menular dari Rumah Sakit Nasional Kenyatta termasuk salah satu menekankan pentingnya ujicoba itu, tapi ia percaya kehadiran ARV sangat dibutuhkan.

“Obat oral antiretroviral yang digunakan selama ini harus dikonsumsi setiap hari. Ini bisa memicu perasaan jenuh terhadap obat itu, apalagi penyandang HIV sering menghadapi stigma buruk. Terkadang, mereka berhenti mengonsumsi bukan karena merasa malu, melainkan karena obat itu seakan mengingatkan mereka setiap hari bahwa mereka hidup dengan virus dalam tubuh mereka.”

Menurut WHO, lebih dari 18 juta orang menjalani pengobatan HIV seumur hidup di berbagai penjuru dunia saat ini. Organisasi itu mengatakan, sekitar jumlah yang sama belum memiliki akses sama sekali ke pengobatan itu.

Studi obat suntik antiretroviral di Afrika diperkirakan akan memakan waktu dua tahun. [ab/ka]



Source link