Prospek Cerah Pertanian Indonesia, Padi Japonica di Tangan Djoko Ardhityawan

  • Bagikan
Prospek Cerah Pertanian Indonesia, Padi Japonica di Tangan Djoko Ardhityawan


Telegraf – Luas lahan pertanian di Indonesia pada dasarnya sudah sangat mencukupi untuk menciptakan swasembada pangan, terutama beras nasional, akan tetapi teknologi pertanian kita masih tertinggal dibandingkan dengan negara tetangga kita seperti Vietnam, Thailand dan India, yang sudah mampu mengekspor beras karena surplus beras dalam negerinya.

Masalah tersebut bisa disebabkan karena kaum petani kita masih didominasi oleh generasi tua yang sudah letih untuk belajar tentang rekayasa lahan dan hanya mengandalkan pupuk non organik yang mengandung banyak residu kimia dan membuat pengolahan tanah jadi semakin mahal sehingga keuntungan dari hasil bertani semakin menipis, hal itu diungkapkan oleh Djoko Ardhityawan, seorang tenaga pendidik dan dosen sebuah perguruan tinggi.

Menurutnya, ketahanan pangan sangat mungkin tercapai bila generasi muda mau kembali ke lahan untuk menjadi pemikir, penggerak dan sekaligus inovator dalam rekayasa lahan dan budidaya pertanian pangan. Djoko juga mengatakan, bahwa saat ini sudah banyak teknologi rekayasa lahan yang bisa dipelajari melalui situs online dan kita hanya perlu memilih dan memilah yang terbaik dan sesuai dengan iklim dan kontur tanah dimasing-masing daerah.

“Istilahnya ATM, Amati, Tiru dan Modifikasi. Salah satu kendalanya adalah generasi muda malu disebut petani padahal bila kita tekun, fokus dan berinovasi keuntungan dari pertanian sangatlah menjanjikan karena kebutuhan pangan akan terus meningkat seiring jumlah penduduk yang makin banyak,” kata Djoko pada Telegraf, Rabu (05/01/2022).

Djoko Ardhityawan

Bagi Djoko ditengah kesibukannya menjadi seorang pendidik, tak lantas membuatnya menepikan hobi dalam sektor pertanian. Justru potensi tersebut yang mengantarkan ia untuk terjun langsung ke lahan persawahan untuk menanam padi jenis Japonica yang sudah dikembangkan di Indonesia sejak 2017 lalu.

Djoko memulai upaya tanam padi Japonica di Kediri. Salah satu wilayah lumbung pertanian di Jawa Timur. Tanpa diduga ia bertemu dengan seorang kawan lama di Surabaya yang kebetulan juga memiliki impian senada. Obrolan mengalir. Mereka pun akhirnya saling bertukar pikiran seputar inovasi dunia pertanian khususnya padi. Hal itu yang menjadikan mereka membangun mimpi bersama soal dunia pertanian yang ingin mereka wujudkan.

“Kami sering mengobrol tentang potensi dan inovasi pertanian,” ungkapnya.

Sementara ini ia masih fokus pada pengembangan potensi padi jenis Japonica. Djoko melihat prospek cerah dari bertanam padi jenis ini. Ia juga berupaya mengembangkan lahan di Kediri dengan pola kemitraan untuk target lahan sekitar 40 sampai 80 hektar dan akan terus dikembangkan di Malang, Mojokerto, Jember dan Banyuwangi.

“Bahkan tidak menutup kemungkinan di seluruh Indonesia untuk tahun ke depan,” imbuh Dosen Institut Kyai Haji Abdul Chalim Pacet Mojokerto tersebut.

Padi jenis Japonica memang memiliki beberapa kelebihan. Rasa nasinya sangat pulen, lebih enak dan dapat dibuat sebagai sushi serta kandungan glikemik lebih rendah dari beras jenis Indica. Sehingga beras Japonica baik dikonsumsi untuk mengurangi resiko diabetes.

Namun, kata Djoko, para petani tidak banyak yang tahu sehingga masih ragu untuk menanamnya. Padahal karakter padi Japonica sendiri tidak berbeda jauh dengan padi Indica.

“Sehingga pola tanam dan perawatannya kurang lebih sama dan tidak terlalu sulit bagi petani untuk diterapkan di Indonesia,” kata pemilik PT Amerta Tani Maju yang berdiri sejak 2021 dan bergerak di bidang pertanian, untuk penanaman, pengolahan dan pemupukan lahan. Juga bergerak di bidang pemanenan dan penjualan hasil pertanian tersebut.

Masa tanam padi jenis Japonica bahkan tidak berbeda jauh dengan padi jenis Indica yaitu sekitar 90-115 hari setelah tanam sawah. Potensi hasil panen juga tidak berbeda jauh yaitu sekitar 6-7 ton per hektar. Tetapi Djoko memilih membidik pasar lokal untuk sementara waktu.

“Sementara ini kami hanya membidik pasar lokal dulu untuk memenuhi kebutuhan dalam negeri. Kedepan bila kebutuhan dalam negeri sudah terpenuhi tentunya pasar ekspor juga akan menjadi target,” ungkapnya.

Djoko yang menceritakan terkait ketertarikannya dalam dunia pertanian sudah dimulai sejak masih kecil. Terinspirasi oleh sang ibu, yang merupakan penggemar tanaman hias.

“Saya sering membantu beliau menanam dan merawat tanamannya,” kenang Djoko.

Pada tahun 2004 di sela-sela kuliah S2, ia kerap melewati pasar bunga di sekitar Bundaran Waru dan Gunungsari Surabaya. Dari kesempatan tersebut, ia sering mampir dan berkenalan dengan pedagang bunga hias.

Tak hanya berkenalan. Djoko lalu mencoba beberapa bunga langka yang masih belum ngetren tapi menurutnya unik seperti jenis Anthurium, Aglonema dan Adenium yang masih kecil untuk ia rawat.

“Tahun 2006 Anthurium dan Aglonema booming dan waktu itu saya untung besar karena tanaman saya mendapat laba berlipat. Kegemaran bertanam tetap berlanjut sampai sekarang hanya jenis tanaman yang berbeda,” ujar Djoko yang juga pernah mengajar di beberapa universitas ternama di Surabaya.

Optimistis Pertanian Indonesia

Djoko optimistis potensi pertanian padi di Indonesia ke depan akan sangat cerah bila anak-anak muda Indonesia mau kembali ke desa menyumbangkan pemikiran dan tenaga untuk bidang pertanian.

“Karena rata-rata pertanian disini dikerjakan oleh orang-orang tua yang kurang inovasi dan sudah letih untuk belajar,” paparnya.

Menurutnya, jika generasi muda mau kembali ke desa dan memaksimalkan potensi lahan persawahan, ia yakin dengan teknologi tanam, inovasi bibit, pengembangan pupuk organik serta ketekunan, swasembada beras tidaklah sulit dicapai. Ia meyakini jika para pemuda tertarik kembali ke desa dan mengolah lahan pertanian melalui inovasi, Indonesia tidak perlu lagi mengimpor beras.

“Sangatlah banyak alternatif atau ilmu baru dalam pertanian yang bisa didapat dengan mudah lewat internet atau YouTube untuk diterapkan guna meningkatkan hasil pertanian dan secara signifikan tentunya meningkatkan penghasilan,” bebernya.

Djoko yang lulus S2 dari Universitas Negeri Surabaya tahun 2007 ini juga tengah mengembangkan pupuk organik cair untuk daerah Pungging, Mojokerto sejak tahun 2006. Namun pupuk organik itu memang tidak dijual bebas di pasaran.

“Hanya kami pakai untuk kelompok tani anggota kami saja. Untuk kedepan program pengembangan dan inovasi pupuk organik tersertifikasi sangatlah mungkin menjadi sebuah divisi dalam perusahaan kami,” ujarnya.

Food Estate Sebagai Sarana Integrasi Pangan

Untuk program pemerintah tentang food estate, Djoko berpendapat dengan melihat tujuannya, yaitu pertanian pangan terintegrasi sebetulnya pemerintah sudah secara cerdas memanfaatkan lahan luas diluar pulau Jawa, tetapi kekurangannya adalah tidak semua ahli mau berpindah keluar Jawa sehingga diperlukan tenaga-tenaga ahli muda yang siap untuk berjuang diluar jawa didukung fasilitas-fasilitas yang mencukupi seperti gaji yang tinggi, fasilitas penelitian yang mutakhir dan dukungan dana untuk penelitian dan studi banding di negara-negara dengan teknologi pertanian yang sudah maju.

“Dimasa depan food estate saya harapkan bukan cuma menjadi lumbung pangan bagi Indonesia tapi juga menjadi pusat penelitian dan pengembangan teknologi, rekayasa genetika untuk varian baru yang unggul dan menjadi acuan bagi negara-negara lain dibidang pengembangan pertanian pangan,” pungkasnya.


Photo Credit: Food and Agriculture Organization (FAO) sebut Indonesia terus mengalami peningkatan produksi padi yang cukup tinggi, yakni sebesar 54,65 juta ton pada 2020. Angka tersebut menjadikan Indonesia sebagai negara ketiga penghasil beras terbanyak di dunia. ANTARA/Yulius Satria Wijaya

 

Didik Fitrianto
Latest posts by Didik Fitrianto (see all)





Source link

  • Bagikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *