Kekeringan Buruk, UNICEF Desak Bantuan Bagi Ethiopia dan Wilayah Semenanjung Somalia

oleh -11 views
Kekeringan Buruk, UNICEF Desak Bantuan Bagi Ethiopia dan Wilayah Semenanjung Somalia


Direktur Eksekutif UNICEF Catherina Russell mendesak masyarakat internasional untuk segera meningkatkan dukungan guna mencegah bencana kemanusiaan akibat kekeringan yang melanda Ethiopia dan seluruh wilayah Semenanjung Somalia.

“Kekeringan di Ethiopia sangat menghancurkan,” ujarnya pada akhir kunjungan selama empat hari ke negara itu.

“Di wilayah Somalia, salah satu wilayah yang mengalami kekeringan paling parah, saya bertemu dengan anak-anak dan keluarga yang benar-benar telah kehilangan segalanya. Hewan ternak mereka mati dan akibatnya mereka tidak memiliki sumber pendapatan. Mereka tidak dapat memberi makan anak-anak dan kini berupaya keras menemukan makanan dan air bersih. Kita perlu menjangkau keluarga-keluarga ini sekarang juga sebelum terlambat,” tegas Russell.

Tiga musim hujan yang gagal secara berturut-turut telah membuat empat negara di wilayah Semenanjung Somalia yang juga dikenal dengan sebutan Tanduk Afrika mengalami salah satu musim kering terburuk dalam beberapa dasawarsa.

10 Juta Orang Perlu Bantuan Mendesak

Secara keseluruhan di Djibouti, Ethiopia, Kenya dan Somalia, terdapat 10 juta anak dan keluarga yang membutuhkan bantuan penyelamatan jiwa mendesak. Kekeringan telah memicu malnutrisi di kalangan anak-anak dan keluarga pada tingkat yang mengkhawatirkan. Sekitar 1,7 juta anak mengalami kekurangan gizi parah di seluruh sub-kawasan tersebut.

Di Ethiopia, tingkat penerimaan di klinik-klinik perawatan untuk mengobati malnutrisi gizi yang akut pada anak-anak balita 15 persen lebih tinggi pada Februari 2022 dibanding periode yang sama tahun lalu.

“Anak-anak terpaksa minum air yang telah terkontaminasi, dan ini membuat mereka berisiko terjangkit kolera dan penyakit mematikan lainnya. Di Somalia, ada lebih dari seribu kasus campak dengan 16 kematian,” ujar Russell.

Seorang perempuan menggunakan keledai untuk mengirim air ke wilayah yang terdampak kekeringan di Higlo Kebele, Adadle woreda, Ethiopia. (Foto: World Food Programme/Handout via Reuters/Michael Tewelde)

Seorang perempuan menggunakan keledai untuk mengirim air ke wilayah yang terdampak kekeringan di Higlo Kebele, Adadle woreda, Ethiopia. (Foto: World Food Programme/Handout via Reuters/Michael Tewelde)

Tetapi bukan hanya kekurangan gizi dan penyakit yang mengancan kehidupan anak-anak, musim kering yang parah juga telah membuat lebih dari 600.000 anak putus sekolah.

Sekolah-sekolah ditutup karena kekurangan air bersih dan banyak anak putus sekolah karena mereka harus menempuh perjalanan jauh untuk mencari makan dan air, atau menjaga anak-anak yang lebih kecil ketika pengasuh mereka berusaha mencari makanan dan air bagi keluarga dan ternak mereka.

Perkawinan Anak Melesat 51 Persen

“Bepergian jauh membuat anak-anak menghadapi banyak risiko, termasuk risiko perkawinan anak. Perkawinan anak (telah) meningkat di masa kekeringan karena orang tua menikahkan anak mereka dengan harapan akan mendapat makan dan perlindungan lebih baik, serta untuk mendapatkan mas kawin. Di beberapa daerah yang dilanda kekeringan di Ethiopia, ada peningkatan perkawinan anak hingga 51 persen,” ujar Russell lirih.

Untuk mengatasi hal itu, UNICEF menargetkan 3,4 juta orang, termasuk di antaranya 1,4 juta anak, sebagai bagian dari respons langsung badan tersebut.

Dalam kunjungannya, Russell juga melangsungkan pertemuan dengan Presiden Ethiopia Sahle-Work Zwede dan Wakil Presiden sekaligus Menteri Luar Negeri Demeke Mekonnen Hassen.

Dalam kedua pertemuan itu, Russell membahas kemitraan jangka panjang antara UNICEF dan pemerintah untuk memperkuat tanggapan lebih jauh guna mengatasi kekeringan dan menanamkan investasi dalam pembangunan ketahanan. [em/lt]



Source link