Kedatangan Vaksin Tahap ke-23, Indonesia Dapat Tambahan 3,4 Juta Dosis Vaksin dari COVAX Facility – Berita Terkini

oleh -143 views


oleh: TR/InfoPublik/DJIKP/Kemkominfo

oleh: TR/InfoPublik/DJIKP/Kemkominfo

Jakarta, 13 Juli 2021 – Setelah tadi siang kedatangan 1,4 juta dosis vaksin Sinopharm, malam ini tiba 3,4 juta dosis vaksin AstraZeneca yang berasal dari COVAX Facility. Sehingga total vaksin multilateral dari pengiriman ke-8 yang telah tiba di Indonesia sebesar 14.704.860 dosis.

“Dengan tibanya vaksin AstraZeneca sejumlah 3.476.400 dosis dari Covax Facility, Indonesia telah mengamankan vaksin sejumlah 137.611.540 dosis vaksin baik dalam bentuk bahan baku (bulk) maupun vaksin jadi,” ujar Menteri Luar Negeri Retno Marsudi, Selasa (13/7).

Dia menambahkan, dalam beberapa hari kedepan, Indonesia juga akan menerima vaksin melalui skema dose-sharing, yaitu dari AS – jalur multilateral/COVAX Facility, dan dari Jepang (jalur bilateral).

Menlu Retno menyebut, tantangan yang dihadapi COVAX adalah pasokan vaksin, yang pada akhirnya menyebabkan keterlambatan pengiriman vaksin COVAX, termasuk ke Indonesia. Hal ini juga dibahas dalam pertemuan ke-5 Covax AMC Engagement Group pada Senin (12/7/2021) yang dipimpin Menlu Retno.

“Ditengah semua tantangan tersebut, COVAX terus bekerja keras agar pasokan vaksin bagi semua negara, terutama negara berkembang dapat terus ditingkatkan,” tegasnya.

Menlu Retno berharap pasokan vaksin akan lebih baik pada bulan September, Oktober dan kedepannya. Kenaikan pasokan dari COVAX Facility juga dimungkinkan dengan telah dilakukannya kerja sama antara GAVI dengan Sinovac dan Sinopharm yang telah memperoleh Emergency Use Listing (EUL) dari WHO.

Sementara itu, mekanisme dose-sharing di COVAX Facility juga tengah didorong, dan diharapkan dapat membantu distribusi vaksin ke negara dunia. Melalui mekanisme COVAX Facility, hingga akhir 2021 telah terdapat komitmen dose-sharing sekitar 300 juta dosis.

Meskipun dunia telah memvaksinasi hampir 3,5 miliar dosis vaksin atau mendekati 44% populasi dunia, namun menurut Menlu Retno, akses terhadap vaksin dunia masih tidak merata.

Sebagai contoh, di kawasan Amerika Utara dan Eropa, dosis vaksin yang disuntikkan telah mencapai sekitar 75% populasi, bila dibandingkan dengan kawasan Afrika yang baru melakukan vaksinasi sebanyak 4,03% dan kawasan ASEAN sebanyak 16,3% dari total populasi.

Menlu Retno memperkirakan perlu adanya tambahan vaksin sekitar 350 juta dosis untuk vaksinasi setidaknya 10% populasi di setiap negara pada September 2021. Selain itu, perlu 11 milyar dosis untuk vaksinasi 70% populasi dunia pada pertengahan tahun 2022.

“Ini merupakan tantangan yang tidak kecil. Namun melalui kerja sama tantangan ini akan dapat diatasi Bersama” ujar Menlu Retno.

Dalam kesempatan itu, Menlu Retno memastikan, pemerintah akan terus bekerja keras untuk mengamankan kebutuhan vaksin untuk Indonesia. Terus patuhi protokol Kesehatan dan batasi mobilitas. “Melalui ikhtiar, kerja keras, kedisiplinan dan persatuan seluruh elemen bangsa kita akan segera dapat keluar dari pandemi ini,” harap Menlu.

Pada kesempatan yang sama, perwakilan WHO, Dr. Parienathan, sampaikan di tengah mewabahnya virus COVID-19 varian delta, menjadi sangat penting bagi mereka yang belum divaksinasi maupun yang sudah divaksinasi untuk selalu mengikuti protokol kesehatan. “Lebih penting lagi, untuk tetap di rumah sesering mungkin, jika bisa mengurangi pergerakan dengan tetap di rumah untuk beberapa minggu ke depan, kita dapat mengatasi penularan virus. Itu adalah hal terpenting yang bisa kita lakukan,” ujar Dr. Parienathan.

Kemudian, Perwakilan UNICEF Indonesia, Robert Gass menyampaikan, kedatangan vaksin ini menunjukkan komitmen pemerintah Indonesia yaitu melindungi sebanyak mungkin masyarakat dalam waktu secepat mungkin. Indonesia telah memberikan vaksinasi kepada lebih 30 juta masyarakat termasuk guru, tenaga pendidik untuk mempersiapkan pembukaan sekolah. Agar siswa bisa melakukan sekolah tatap muka ketika semua sudah siap.

“UNICEF juga senang sekali mendengar pemerintah Indonesia akan lebih agresif (memvaksinasi) menyasar masyarakat ekonomi tingkat bawah, lanjut usia, dan penyandang disabilitas untuk memastikan pemerataan vaksinasi COVID-19,” ujarnya.

***********

Tentang Komite Penanganan COVID-19 dan Pemulihan Ekonomi Nasional (KPCPEN) – Komite Penanganan COVID-19 dan Pemulihan Ekonomi Nasional (KPCPEN) dibentuk dalam rangka percepatan penanganan COVID-19 serta pemulihan perekonomian dan transformasi ekonomi nasional. Prioritas KPCPEN secara berurutan adalah: Indonesia Sehat, mewujudkan rakyat aman dari COVID-19 dan reformasi pelayanan kesehatan; Indonesia Bekerja, mewujudkan pemberdayaan dan percepatan penyerapan tenaga kerja; dan Indonesia Tumbuh, mewujudkan pemulihan dan transformasi ekonomi nasional. Dalam pelaksanaannya, KPCPEN dibantu oleh Satuan Tugas Penanganan COVID-19 dan Satuan Tugas Pemulihan dan Transformasi Ekonomi Nasional.

Tim Komunikasi Komite Penanganan COVID-19 dan Pemulihan Ekonomi Nasional

[KPCPEN/RDKS/VJY]



Source link

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

No More Posts Available.

No more pages to load.