Indonesia Bergerak –

oleh -149 views


Radhar Panca Dahana *
wap.gatra.com

Akhirnya soal itu kini menjadi jelas, jadi nyata dan terbukti faktual. Sebelumnya ia masih ditengara, sekadar rumor atau gosip, perkiraan, bahkan sebagian mengejeknya sebagai pikiran yang konspiratif. Tapi bahkan pertemuan eksekutif dan juragan top dunia di Washington beberapa hari lalu dan juga para pemimpin moneter G-8 yang akan kumpul di Korea Selatan mengakui hal itu: pelbagai krisis yang melanda dunia belakangan ini, yang membuat hipertensi politisi seluruh dunia, mengacaukan dunia bisnis global dan menyengsarakan rakyat kecil semesta, tidak lain karena ulah satu pihak ini: spekulan!

Kaum yang karena cara berpikir dan perbuatannya ini membuatnya tergolong sebagai dajal modern itu sungguh sudah dapat diidentifikasi keberadaan bahkan identitasnya. Dengan ulahnya yang semata dihela ketamakan diri, mengeksploitasi logika kapitalisme tentang kebebasan dan etos will to be rich, telah memerkosa celah perdagangan derivatif dunia untuk mempermainkan komoditas paling berharga, seperti minyak, bahan pangan, emas, juga kurs demi memperluas gudang uangnya sendiri.

Bahwa yang menjadi korban adalah pengusaha, ekonomi sebuah negara, kestabilan politik, hingga nyawa jutaan manusia, mereka tidak peduli. Dan puluhan, mungkin ratusan, pemerintahan yang ada di atas dataran bulat bumi ini kemudian terengah-engah, sebagian frustrasi, sebagian berguguran, hampir tak bisa berbuat apa-apa, kecuali memproduksi solusi-solusi yang sifatnya temporer, reaktif, bahkan konyol dan tolol.

Inilah sebenarnya (setidaknya satu di antara lima) musuh utama manusia, kita, sebagai bangsa, sebagai negara. Sebab, dengan kekuatan gigantik yang mereka (para spekulan dajal itu) miliki, mulai jaringan, modal, teknologi, hingga para pemikir/analis mephistofelesian yang berdiri di belakangnya sebagai think tank, sungguh membuat kekuatan ekonomi-politik apa pun yang (terhebat dalam sejarah peradaban dunia) jadi lumpuh, tak berdaya. Termasuk Inggris, Jerman, Jepang, bahkan Amerika Serikat.

Dapat dibayangkan, nilai kapitalisasi atau modal yang mereka miliki untuk bermain di pasar derivatif, yang memainkan semua komoditas vital di atas secara virtual melalui game di bursa efek, memiliki besaran yang buat kita unimaginable: US$ 550 milyar! Hanya untuk perbandingan, nilai itu hampir sama dengan 500 kali GDP kita, 500 tahun revenue 230 juta manusia di negeri ini! Ekuivalen dengan puluhan kali pendapatan 200 juta lebih orang Amerika Serikat (negeri terkaya sejagat) dan ratusan persen lebih besar dari penghasilan 6,5 milyar manusia di atas bumi yang rongsok ini!

Lalu, apa yang dapat diperbuat Saimin yang hanya berpenghasilan US$ 5 sehari? Bahkan, apa sebenarnya yang bisa dilakukan seorang Sri Mulyani, Boediono, bahkan seorang Jenderal (purnawirawan) Dr. H. Susilo Bambang Yudhoyono? Bahkan tokoh sekaliber Alan Greenspan pun harus menipu rakyat Amerika, juga sejarah dunia, dengan menciptakan ilusi ”gelembung” ekonomi sebagai cover atas realitas mengerikan itu. Bahkan seorang Warren Buffer, manusia terkaya di atlas dunia ini, memperlihatkan rasa giris dan berulang kali mengingatkan kegilaan kaum yang hanya segelintir itu (Buffer sendiri ada di dalamnya).

Maka, di tengah keceriwisan kita soal labirin dan kemunafikan demokrasi, selingkuh besar-besaran bangsa dalam korupsi, gontok-gontokan parpol, hingga pilkada dan pemilu yang memberi cost luar biasa pada rakyat atau kekerasan murahan kaum agamawan, masalah nyata yang tergambar di atas sungguh membuat kita semua seperti kulit kerbau lucu yang dimainkan dalang jalang sebagai wayang.

Masalah itu seperti langit gelap yang terus membuat hidup kita mendung. Padahal, ia begitu nyata, bahkan merasuk bukan saja melalui bursa berjangka atau kas negara, melainkan juga hingga ruang makan, bahkan pakaian dalam dan isi pertengkaran kita sebagai suami-istri. Namun kita alpa, kita tak menyadarinya.

Sungguh sudah tiba saatnya kita siuman. Menyadari bahwa setiap suap nasi dan watt listrik yang kita gunakan untuk menyalakan televisi ada kaitannya dengan tawa seorang pemodal yang rapat di pencakar langit New York, dengan segelas anggur di tangan dan mungkin seorang artis Hollywood di pelukan. Ada kaitan antara BLT yang macet dan kunjungan Bush ke Eropa: kita adalah juga dia yang ada di pojokan dunia sana. Adalah korban yang terlena. Adalah manusia yang sebenarnya berdaya jika ia mau terjaga, pikiran, emosi dan spiritnya.

Betapapun pahit dan getir cobaan hidup yang kita alami pada saat ini juga dialami milyaran yang lain. Sebagai bangsa yang beradab, sesungguhnya kita mudah memahami hal itu dan menghentikan kebodohan-kebodohan yang kita lakukan selama ini. Saatnya manusia Indonesia bangkit dan bergerak. Menyadari persoalan serta di mana substansi dan solusi sesungguhnya yang harus diambil.

Dan ia akan menjadi sesuatu yang berarti jika hal itu terjadi secara kolektif. Menyimpan, atau lebih baik membuang, kesempitan pikiran dan kepentingan. Bersama, dari seniman hingga politisi, dari rakyat jelata sampai petinggi, dari Paimin hingga Susilo, membawa negeri ini bergerak mengatasi dajal kapitalistik di atas. Bergerak. Sudah saatnya Indonesia bergerak.
***

*) Pekerja seni dan pemerhati budaya.



Source link

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

No More Posts Available.

No more pages to load.