Prioritas Gaya Hidup

Peru Selidiki Skandal Vaksinasi COVID-19


Penyelidikan kini sedang berlangsung terhadap skandal vaksinasi virus corona di Peru, di mana ratusan orang, kebanyakan yang memiliki koneksi, mendapat vaksinasi, meskipun mereka tidak berpartisipasi dalam uji coba vaksin Sinopharm untuk menentukan tingkat kemanjurannya.

Menteri Kesehatan Oscar Ugarte mengatakan 3.200 dosis vaksin diberikan, termasuk 1.200 yang dosis yang diberikan ke Kedutaan Besar China. Ia mengatakan para investigator sedang menyelidiki 2.000 dosis lainnya, yakni mengenai keberadaannya dan siapa yang mendapatkannya.

Sebuah kios koran di Lima menjual surat kabar yang mengangkat berita soal skandal vaksinasi awal yang melibatkan politisi dan pejabat tinggi di tengah pandemi COVID-19 pada halaman depannya, 15 Februari 2021

Sebuah kios koran di Lima menjual surat kabar yang mengangkat berita soal skandal vaksinasi awal yang melibatkan politisi dan pejabat tinggi di tengah pandemi COVID-19 pada halaman depannya, 15 Februari 2021

Kantor berita pemerintah Andina melaporkan Kongres Peru juga membentuk sebuah komisi untuk menyelidiki skandal tersebut, di tengah-tengah kemarahan publik mengenai betapa orang-orang yang memiliki hak istimewa dapat didahulukan mendapat vaksinasi daripada para pekerja layanan kesehatan garis depan.

Ketua komisi tersebut, Fernando Carbone, menjamin bersikap netral dalam penyelidikan, dengan mengancam sanksi kepada siapapun yang terlibat.

Carbone berbicara terbuka mengenai sikap tidak berkompromi setelah Dewan Medis Peru memintanya untuk menyingkir, seraya menyebut alasan hubungannya dengan mantan Menteri Kesehatan Pilar Mazetti, yang termasuk di antara penerima vaksin itu.

Petugas medis berdiri di luar Rumah Sakit umum Rebagliati, di Lima, Peru, untuk memperoleh vaksinasi Sinopharm China, 15 Februari 2021. (Foto: dok).

Petugas medis berdiri di luar Rumah Sakit umum Rebagliati, di Lima, Peru, untuk memperoleh vaksinasi Sinopharm China, 15 Februari 2021. (Foto: dok).

Menteri Luar Negeri Peru Elizabeth Astete mengundurkan diri hari Minggu setelah mengungkapkan ia telah menerima vaksin sebelum para petugas layanan kesehatan.

Kemarahan masyarakat terkait skandal itu diperburuk oleh catatan Peru sebagai salah satu negara dengan jumlah korban virus corona terbanyak di Amerika Selatan. Menurut Johns Hopkins University Coronavirus Resource Center, Peru memiliki lebih dari 1.252.000 kasus dan 44.308 kematian akibat virus itu. [uh/ab]



Source link

the authoradmin

Tinggalkan Balasan

Lewat ke baris perkakas