Prioritas Berita

Kematian Para Penari Rangda, Kajian Tradisi dan Budaya


Indonesia kaya akan budaya dan tari-tarian sakral yang umumnya hanya dipentaskan pada acara-acara khusus. Seiring waktu tari-tarian ini juga menarik minat anak-anak yang ingin mendalami dan mempelajarinya, tapi tidak jarang berakibat fatal karena melibatkan senjata tajam dan kekuatan supra natural. Hal ini menggugah keingintahuan masyarakat mengenai tari-tarian sakral dan magis ini.

Kematian seorang anak berusia 16 tahun di Bali pada awal Februari lalu ketika sedang membawakan tari Rangda, telah mengejutkan masyarakat. Beberapa insiden fatal serupa sudah pernah terjadi sebelumnya. Tarian ini adalah bagian dari tari Barong dan Rangda, salah satu jenis tari yang disakralkan.

Sugi Lanus Pakar Filologi dan Budayawan (photo Courtesy Cok Sawitri)

Sugi Lanus Pakar Filologi dan Budayawan (photo Courtesy Cok Sawitri)

Sugi Lanus, budayawan, pakar filologi, aksara Bali dan Jawa kuno mengatakan tari sakral dan tata cara pertunjukan tari sakral seperti Barong dan Rangda dituliskan di lontar-lontar kuno Bali.

“Tarian ini sebenarnya adalah tarian swing, energi kosmik ke kiri dan ke kanan, itu dirayakan sebagai tanda kutip bagian dari pada upacara pura, upaya spiritual dari orang-orang Bali mengenai bagaimana dua kekuatan kosmik yang luar biasa besar itu bertemu di tengah-tengah dan berdamai,” jelasnya.

Profesor Dr. I Made Bandem, pakar tari yang mengajar di beberapa universitas Amerika dan rektor di beberapa perguruan tinggi seni di Indonesia, mengatakan salah satu ciri tarian sakral adalah adanya trance atau keadaan tidak sadarkan diri karena kemasukan roh dan tarian-tarian ini juga bisa di jumpai di daerah Indonesia lainnya.

Dari Aceh, Sumatra, Jawa, Jawa Timur, Bali sampai ke Irian ada tari-tarian sakral, jadi tari-tarian yang digunakan untuk kepentingan upacara. Misalnya di Jawa Timur ada Reog Ponorogo, di Yogyakarta di keraton ada tari Bedoyo Ketawang, juga tarian perang-perangan hampir ada di seluruh Indonesia.

Gusti Kanjeng Ratu Alit, penanggung jawab keputren dan upacara ritual keraton Surakarta semasa ayahnya menjadi raja dan putri tertua mendiang Raja Surakarta Paku Buwono XII mengatakan tarian Bedoyo Ketawang yang diciptakan pada abad ke 15 hingga kini masih dinilai sakral.

GKR Alit, Putri Tertua Mendiang PB XII (photo Made Yoni)

GKR Alit, Putri Tertua Mendiang PB XII (photo Made Yoni)

“Kita selalu hati-hati dengan perangkat yang mengikuti Bedoyo itu, jadi Bedoyo itu tidak hanya orang sekedar menari, jadi semua itu ada sajennya, sajennya harus lengkap, kalua tidak lengkap tahu sendiri akan ada sesuatu yang terjadi, yang menari harus bersih,” jelasnya.

Sebagaimana tarian sakral lainnya, Gusti Kanjeng Ratu Alit menjelaskan tarian Bedoyo Ketawang hanya dibawakan pada acara-acara khusus keraton, termasuk penobatan raja baru. Dan untuk itu, penari harus menjalani sejumlah ritual persiapan secara matang.

Sejalan dengan perkembangan zaman dan pariwisata, sebagian tari-tari sakral mulai dikenal publik secara luas dan kepemilikan perangkat perangkat tarian berkembang pada komunitas dan pribadi, termasuk benda-benda pusaka tajam yang menyertainya. Anak-anak secara perlahan-lahan pun tertarik untuk mempelajarinya.

Cikho Cis Penari Rangda. (Foto: pribadi)

Cikho Cis Penari Rangda. (Foto: pribadi)

Cikho Cis, penari Rangda asal Ubud, mulai menekuni seni tari sejak masih belia. Ia membawakan tari Rangda untuk ritual di berbagai pura selepas SMA Chiko mengakui dalam lima tahun terakhir minat dan jumlah anak-anak yang datang kepadanya untuk mempelajari tari sakral ini sangat besar.

“Belajarkan tidak mengenal usia cuma kalau konteks tari Rangda ini tidak sembarangan, dari tariannya sudah menunjukkan sesuatu yang sakral, apalagi Rangda yang sudah melewati proses sakralisasi kalau di bawah usia 17 tahun saya sendiri tidak mengizinkan, untuk kepentingan pariwisata atau religious tetap saya tekankan kesiapan mental,” jelas Cikho.

Keterlibatan anak-anak dalam pertunjukan tari yang melibatkan benda-benda tajam, seperti keris dan alat lainnya juga menjadi perhatian Sugi Lanus yang mendukung peran komunitas dan keterlibatan Komisi Perlindungan Anak Indonesia.

Barong dalam pertunjukan pariwisata. (Foto Courtesy: Gus Santi).

Barong dalam pertunjukan pariwisata. (Foto Courtesy: Gus Santi).

Insiden terakhir pada remaja penari rangda di Bali yang bersimbah darah dan kemudian menghembuskan nafas terakhir setelah berkali-kali dihujami tusukan keris menjadi peringatan dan kajian serius bagi pihak terkait.

“Majelis pertimbangan dan pembinaan kebudayaan yang sebentar lagi akan menjadi Majelis Kebudayaan Bali dalam peraturan perda nomor 4/2020 itu ya penguatan taksu dan menjaga taksu seperti harus perlu ada semacam larangan, perhatian supaya jangan terjadi hal-hal seperti kemarin yang tidak kita inginkan,” papar Bandemi. [my/em]



Source link

the authoradmin

Tinggalkan Balasan

Lewat ke baris perkakas