Prioritas Kesehatan

Jepang Memulai Program Vaksinasi COVID-19


Jepang, Rabu (17/2) memulai program vaksinasi COVID-19-nya yang telah lama ditunggu-tunggu.

Vaksinasi pertama berlangsung di sebuah rumah sakit di Tokyo, hanya beberapa jam setelah rumah sakit itu menerima vaksin Pfizer-BioNTech. Hingga 40 ribu dokter dan juru rawat di berbagai penjuru negara itu akan menerima dosis pertama vaksin, dengan sasaran akhirnya adalah memvaksinasi 3,7 juta personel medis pada akhir Maret, diikuti oleh sekitar 36 juta warga berusia 65 tahun ke atas.

Program vaksinasi Jepang dimulai dengan lambat. Otoritas kesehatan baru secara resmi menyetujui penggunaan vaksin Pfizer-BioNTech pada hari Minggu lalu. Para pejabat meminta Pfizer agar melakukan tes-tes lanjutan terhadap vaksin itu selain tes sebelumnya yang telah dilakukan di beberapa negara lain. Taro Kono, menteri vaksin Jepang, mengatakan kepada wartawan hari Selasa bahwa tes tambahan itu dilakukan untuk meyakinkan warga Jepang mengenai keamanan vaksin tersebut.

Seorang nakes mengisi jarum suntik dengan vaksin COVID-19 Pfizer-BioNTech di Tokyo Medical Center, Tokyo, Rabu, 17 Februari 2021.

Seorang nakes mengisi jarum suntik dengan vaksin COVID-19 Pfizer-BioNTech di Tokyo Medical Center, Tokyo, Rabu, 17 Februari 2021.

Vaksinasi tidak diwajibkan di Jepang. Dan meskipun Kono menyatakan keyakinan ia dapat menjangkau para pekerja garis depan dan warga lansia, ia mengakui bahwa ia perlu merumuskan suatu rencana agar berhasil menjangkau orang-orang berusia lebih muda dan mendorong mereka untuk mau divaksinasi.

Selain dengan Pfizer-BioNTech, Jepang juga telah menandatangani kontrak pengadaan jutaan dosis vaksin dari AstraZeneca dan Moderna, yang jumlahnya cukup untuk seluruh 157 juta warganya. Negara itu berharap telah cukup banyak orang divaksinasi pada waktu berlangsungnya Olimpiade musim panas yang telah ditunda dan dijadwalkan berlangsung pada Juli mendatang.

Jepang adalah anggota terakhir dari kelompok negara industri maju G7 yang memulai program vaksinasi.

Sementara itu, sekitar 80 ribu dosis vaksin baru COVID-19 yang dikembangkan perusahaan farmasi Johnson & Johnson tiba di Johannesburg, Afrika Selatan, Selasa larut malam. Pemerintah akan mulai melakukan imunisasi dengan vaksin tersebut kepada para pekerja layanan kesehatan akhir pekan ini sebagai bagian dari studi observasi. Seluruhnya ada 500 ribu dosis yang diharapkan akan dikirim ke Afrika Selatan dalam beberapa pekan mendatang, selain 20 juta dosis vaksin Pfizer-BioNTech.

Afrika Selatan telah membeli 1 juta dosis vaksin yang dikembangkan AstraZeneca dan Oxford University, tetapi membatalkan rencana untuk membelinya setelah suatu studi mengungkapkan vaksin itu kurang efektif dalam menghadapi varian virus corona yang ditemukan di negara itu.

Menteri Kesehatan Zweli Mkhize mengatakan kepada parlemen hari Rabu (17/2) bahwa Afrika Selatan akan berbagi vaksin AstraZeneca-Oxford dengan Uni Afrika yang akan mendistribusikannya ke berbagai penjuru benua itu.

Vaksin berdosis tunggal buatan Johnson & Johnson vaccine belum resmi disetujui penggunaannya di negara manapun, tetapi perusahaan itu menyatakan hasil uji klinis tahap akhir menunjukkan vaksin itu 85 persen efektif dalam mencegah penyakit yang serius atau kematian akibat COVID-19, bahkan terhadap varian Afrika Selatan.

Di AS, Presiden Joe Biden, Selasa malam (16/2) mengatakan negara itu akan memiliki lebih dari 600 juta dosis vaksin virus corona, cukup banyak untuk mengimunisasi “setiap orang Amerika” pada akhir Juli mendatang. Biden mengemukakan tekad itu dalam acara tanya-jawab di Milwaukee, Wisconsin, yang ditayangkan oleh CNN.

Anderson Cooper (kanan) mendengarkan Presiden Joe Biden saat menjawab pertanyaan dalam siaran langsung yang disiarkan melalui televisi di Pabst Theatre, Milwaukee, Selasa, 16 Februari 2021. (Foto AP / Evan Vucci)

Anderson Cooper (kanan) mendengarkan Presiden Joe Biden saat menjawab pertanyaan dalam siaran langsung yang disiarkan melalui televisi di Pabst Theatre, Milwaukee, Selasa, 16 Februari 2021. (Foto AP / Evan Vucci)

Ketika ditanya oleh moderator, Anderson Cooper, kapan AS akan kembali normal, Biden mengatakan pada Natal mendatang “kita akan berada dalam situasi yang sangat berbeda, atas kehendak Tuhan, daripada sekarang ini.” Gedung Putih sebelumnya mengumumkan bahwa pemerintah federal akan meningkatkan jumlah vaksin COVID-19 yang diterima negara bagian setiap pekan dari 11 juta dosis menjadi 13,5 juta dosis.

Biden juga mengatakan bahwa negara bagian harus memprioritaskan guru-guru sekolah negeri dalam program vaksinasi mereka sebagai bagian dari strategi membuka kembali sekolah-sekolah menjadi kelas-kelas tatap muka sepenuhnya. [uh/ab]



Source link

the authoradmin

Tinggalkan Balasan

Lewat ke baris perkakas