Prioritas Gaya Hidup

Ibu-Anak Sama-sama Bertugas di Militer Afghanistan


Lepas dari semua rintangan yang ada, Laila Sadat dan putrinya yang berusia 19 tahun, Amina, dengan bangga berdinas di Tentara Nasional Afghanistan. Keduanya berdinas di 207th Zavar Corps di Provinsi Herat, di mana mereka juga menjalani latihan di pangkalan militer di sana.

Amina memulai kariernya di militer empat bulan lalu. “Kami berharap dapat mencapai perdamaian di negara ini, di mana hak-hak perempuan dihormati dan kami dapat melanjutkan tugas kami seperti saudara-saudara laki-laki kami.

Namun, ia kini khawatir jika perjanjian damai yang mungkin tercapai antara Taliban dan pemerintah Afghanistan tidak dapat membuatnya berdinas di militer lagi.

Rezim Taliban yang melindungi pemimpin Al Qaeda Osama bin Laden, memimpin Afghanistan sebelum invasi Amerika pada 2001. Namun, sejak Amerika dan Taliban pada awal tahun ini menandatangani perjanjian untuk mengakhiri perang terlama dalam sejarah Amerika, para perempuan di Afghanistan mulai khawatir tentang kehilangan sebagian hak dan kebebasan yang telah mereka raih dua puluh tahun terakhir ini.

Perjanjian tersebut juga mempertimbangkan pembicaraan damai antara Taliban dan pemerintah Ashraf Ghani.

Tentara perempuan Angkatan Bersenjata Afghanistan yang baru lulus mengikuti upacara wisuda di Akademi Militer Afghanistan, di Kabul, 5 Januari 2020. (Foto: Tamana Srawary/AP)

Tentara perempuan Angkatan Bersenjata Afghanistan yang baru lulus mengikuti upacara wisuda di Akademi Militer Afghanistan, di Kabul, 5 Januari 2020. (Foto: Tamana Srawary/AP)

Ibu Amina, Laila Sadat, sudah menjadi bagian dari Angkatan Bersenjata Afghanistan selama sembilan tahun. Laila memiliki lima putri dan tiga putra. Pada 2001 mereka pindah dari kampung halaman mereka di Provinsi Bamyan ke Provinsi Herat.

Taliban menghancurkan patung-patung Budha di Provinsi Bamyan. Meskipun khawatir dengan keselamatan putrinya, Laila mengatakan ia menghormati keputusan Amina dan senang melihat Amina mengenakan seragam tentara.

“Afghanistan adalah tempat yang berbahaya untuk setiap orang, tetapi lebih berbahaya lagi bagi mereka yang berdinas di militer. Dengan menerima seluruh risiko, saya mendaftarkan putri saya di militer karena ia sangat tertarik pada dunia militer dan saya bangga kepadanya,” ujar Laila.

Demi alasan keamanan, Korps 207 tidak mengungkapkan jumlah perempuan yang direkrut. Namun, sebagian besar tentara bekerja sebagai tenaga administrasi, meskipun sesekali mereka turun ke lapangan jika diperlukan.

“Kehadiran perempun di Tentara Nasional sangat efektif dan penting, dan perempuan Afghanistan telah membuktikan bahwa mereka dapat memainkan peran penting bersama mitra laki-laki mereka dalam melawan terorisme,” kata Mayor Sayed Agha, pejabat urusan hubungan masyarakat di Korps 207.

Tentara perempuan Angkatan Bersenjata Afghanistan yang baru lulus mengikuti upacara wisuda di Akademi Militer Afghanistan, di Kabul, 5 Januari 2020. (Foto: Rahmat Gul/AP)

Tentara perempuan Angkatan Bersenjata Afghanistan yang baru lulus mengikuti upacara wisuda di Akademi Militer Afghanistan, di Kabul, 5 Januari 2020. (Foto: Rahmat Gul/AP)

Pada usia 12 tahun Amina terbiasa mengenakan seragam ibunya, dan menjadi bagian dari dinas militer merupakan impian masa kecilnya.

“Ketika sekarang saya bisa mewujudkan mimpi, saya sangat bahagia. Tentu saja kapan pun diperlukan saya siap pergi ke garis depan bersama mitra laki-laki untuk membela negara kami,” kata Amina.

Dari 180.000 tentara laki-laki di Tentara Nasional Afghanistan, hanya sekitar 3.000 orang perempuan yang bertugas di seluruh negara itu.

Kantor berita Associated Press melaporkan juru bicara Kementerian Pertahanan Afghanistan Fawad Aman mengatakan 20 persen posisi di dinas militer dialokasikan bagi tentara perempuan dan mereka berharap dapat merekrut lebih banyak perempuan untuk memenuhi target itu. [em/jm]



Source link

the authoradmin

Tinggalkan Balasan

Lewat ke baris perkakas