Prioritas Gaya Hidup

Dunia Hiburan Bernuansa Politik Saat Politik Dijadikan Hiburan


Batasan yang jelas antara politik dan hiburan semakin kabur di Amerika, di mana mantan bintang realitas TV baru-baru ini bisa menjabat sebagai presiden dan kini dunia hiburan lebih bernuansa politik. Konten yang dipilih baik untuk ditonton maupun untuk didengar warga AS mencerminkan sebuah negara yang politiknya terpecah. Wartawan VOA Elizabeth Lee menunjukkan perpecahan itu sering kali terjadi di antara anggota keluarga.

Nate Padgett. (Foto: VOA)

Nate Padgett. (Foto: VOA)

Nate Padgett tinggal lebih dari 2.000 kilometer jauhnya dari adik laki-lakinya Hayden. Dan pandangan politik mereka juga sangat berjauhan. Nate adalah seorang Demokrat yang memiliki bisnis UKM di New York dan dia mengemukakan, “Kami jarang sepakat mengenai sebuah kebijakan tertentu.”

Hayden Padgett. (Foto: VOA)

Hayden Padgett. (Foto: VOA)

Kedua kakak-adik itu dibesarkan di keluarga Republikan. Akan tetapi ketika Nate pulang ke rumah pada suatu musim liburan dari perguruan tingginya, Hayden Padgett mengungkapkan bahwa saudaranya punya pandangan politik yang berbeda.

“Kami beradu pendapat tentang politik. Dan saat itulah, kami semua menyadari oh, dia pandangannya tidak sama seperti kami lainnya,” jelas Hayden Padgett.

Pendapat kakak-adik itu terkait hiburan juga mencerminkan pandangan politik mereka.

Sementara itu Hollywood juga memuat lebih banyak komentar sosial di dalam show-shownya dan sifatnya lebih politis, kata profesor dari University of Southern California, Christina Bellantoni.

“Terlihat suatu upaya nyata untuk mengikutsertakan kebhinekaan dalam alur cerita dan itu mempengaruhi show-show serta lebih disukai oleh kalangan progresif,” jelasnya.

Acara-acara pertandingan olahraga juga kita saksikan terpengaruh oleh politik.

Pada tahun 2016, pemain sepak bola Amerika Colin Kaepernick berlutut saat lagu kebangsaan dikumandangkan sebagai protes atas kebrutalan polisi terhadap kelompok minoritas. Banyak pemain profesional lainnya mengikuti jejaknya.

Dari kiri: Anggota Klub 49ers dari San Francisco Eli Harold, Colin Kaepernick, dan Eric Reid berlutut saat lagu kebangsaan AS berkumandang sebelum dimulainya pertandingan sepak bola NFL melawan Dallas Cowboys di Santa Clara, California, 2 Oktober 2016.

Dari kiri: Anggota Klub 49ers dari San Francisco Eli Harold, Colin Kaepernick, dan Eric Reid berlutut saat lagu kebangsaan AS berkumandang sebelum dimulainya pertandingan sepak bola NFL melawan Dallas Cowboys di Santa Clara, California, 2 Oktober 2016.

Hayden seorang Republikan yang bekerja sebagai manajer produk pada perusahaan Texas Technology berpandangan lebih jauh.

“Masalah saya dengan Colin Kaepernick itu, bukan karena ia berlutut. Namun ketika mulai berlutut, permainannya menjadi kurang bagus,” imbuh Hayden Padgett.

Profesor Bellantoni menyatakan memiliki presiden baru bukan berarti dunia hiburan akan mengurangi retorika pecah belahnya, apalagi kini dimana tersedia lebih banyak platform untuk mengkonsumsi konten dibandingkan di masa lalu. [mg/jm]



Source link

the authoradmin

Tinggalkan Balasan

Lewat ke baris perkakas