Prioritas Gaya Hidup

PPKM Jawa Bali Jilid I Belum Mampu Tekan Kasus Covid-19


Juru Bicara Satuan Tugas (Satgas) Penanganan Covid-19 Prof Wiku Adisasmito mengungkapkan hasil evaluasi PPKM di Jawa dan Bali yang berlangsung mulai 11-25 Januari 2021 yang tidak sesuai dengan yang diharapkan

Wiku menjelaskan, berdasarkan indikator untuk kasus aktif Covid-19, sebanyak 46 kabupaten/kota mengalami peningkatan, 24 kabupaten/kota menurun, dan tiga kabupaten/kota tidak berubah. Berdasarkan indikator kasus kematian, tercatat 44 kabupaten/kota mengalami peningkatan, dan 29 kabupaten/kota mengalami penurunan. Sementara itu, berdasarkan indikator kesembuhan, sebanyak 37 kabupaten/kota mengalami penurunan dan 36 kabupaten/kota meningkat.

Yang tak kalah memprihatinkan,jika dilihat dari tingkat keterisian tempat tidur (bed occupancy ratio/BOR) di ruang isolasi dan ICU untuk pasien Covid-19, enam dari tujuh provinsi persentasenya mencapai 66,32 persen. Angka BOR ini, ujar Wiku, masih di atas parameter nasional.

Juru Bicara Satgas Penanganan Covid-19 Prof Wiku Adisasmito dalam telekonferensi pers di Graha BNPB, Jakarta, Kamis (21/1) mengatakan PPKM di Jawa dan Bali Belum Bisa Tekan Kasus Positif Covid-19 (Foto: VOA/Ghita)

Juru Bicara Satgas Penanganan Covid-19 Prof Wiku Adisasmito dalam telekonferensi pers di Graha BNPB, Jakarta, Kamis (21/1) mengatakan PPKM di Jawa dan Bali Belum Bisa Tekan Kasus Positif Covid-19 (Foto: VOA/Ghita)

“Meskipun terlihat adanya peningkatan, namun hasilnya belum maksimal. Sehingga pemerintah memutuskan melakukan perpanjangan PPKM selama dua minggu ke depan,” ungkap Wiku dalam telekonferensi pers, di Graha BNPB, Jakarta, Kamis (21/1).

Dari sisi kepatuhan masyarakat dalam menerapkan protokol kesehatan, menurut Wiku,ada sedikit peningkatan. persentase masyarakat yang memakai masker naik 12 persen menjadi 62,46 persen, sementara kepatuhan dalam menjaga jarak naik 20 persen menjadi 53,09 persen.

“Meski demikian, jumlah ini masih jauh di bawah apabila dibandingkan tingkat kepatuhan pada awal dilakukan pemantauan yaitu pada bulan September 2020,” paparnya.

Wiku mengimbau pemerintah daerah untuk lebih aktif dalam menggerakkan posko-posko di daerah untuk mendukung upaya preventif. Seiring dengan kasus aktif Covid-19 yang terus naik, pemerintah ujarnya menghadapi tantangan terkait dengan perawatan pasien Covid-19.

Guna mengatasi permasalahan ini, pihak Kementerian Kesehatan sudah melakukan beberapa intervensi, termasuk memerintahkan rumah sakit untuk menambah kapasitas tempat tidur untuk pasien Covid-19 hingga 40 persen.

Selain itu, pihaknya juga sudah menambah 8.572 tenaga kesehatan untuk 148 fasilitas kesehatan. Hal ini menurutnya akan terus bertambah karena pihak Kemenkes telah merelaksasi aturan kerja dokter dan perawat.

Belum Ditemukan Varian Baru Virus Corona dari Inggris di Indonesia

Wiku juga menegaskan bahwa penambahan signifikan kasus positif Covid-19 di tanah air yang terjadi akhir-akhir ini bukan berasal dari mutasi virus corona baru yang muncul di Inggris, yakni B117.

“Hasil pelacakan genome sequencing oleh Lembaga Biologi Molekular Eijkman, menyatakan bahwa jumlah whole genome sequencing yang telah dikumpulkan kepada Bank Data Influenza Dunia sebanyak 244, dan tidak ditemukan mutasi B117 sampai saat ini,” ungkap Wiku.

Hingga saat ini, jenis mutasi virus corona yang sudah banyak ditemukan di Indonesia adalah yang berjenis D614G. Untuk menekan peluang terjadinya mutasi virus SarsCov 2 ini, ujar Wiku, semua pihak harus bahu membahu menekan replikasi atau infeksi virus dengan menekan laju perebakan virus ini.

“Jika kita lengah atas kedisiplinan menjalankan protokol kesehatan, maka cepat atau lambat kita sendirilah yang akan menjadi bagian dari angka penambahan kasus positif maupun berada di ruang perawatan Covid-19.Jangan sampai hal ini terjadi. Maka dari itu, mohon berhati-hati dan waspada di manapun anda berada,” pungkasnya. [gi/ab]





Source link

the authoradmin

Tinggalkan Balasan

Lewat ke baris perkakas