Prioritas Gaya Hidup

Satgas Waspadai Peningkatan Kasus Covid-19 di Wilayah Bencana Alam


Juru Bicara Satuan Tugas (Satgas) Penanganan Covid-19 Prof Wiku Adisasmito mengatakan berdasarkan data dari Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) dalam rentang waktu 1-18 Januari telah terjadi 154 bencana alam di tanah air. Ia menjelaskan bencana yang terjadi kebanyakan adalah banjir, angin ribut dan longsor dan telah mengakibatkan 140 orang tewas dan hampir 800 orang luka-luka.

Dengan total kumulatif kasus Covid-19 sebanyak 927.380, Wiku mengatakan peristiwa bencana alam akan meningkatkan laju perebakan virus corona, terutama di area pengungsian karena sulitnya menerapkan protokol kesehatan.

“Keadaan yang berdesakan saat berada di tempat evakuasi bisa menyebabkan tempat tersebut menjadi pusat infeksi virus corona. Ancaman ini menjadi beban ganda di mana umumnya di pengungsian akan meningkat penyakit-penyakit umum lain, seperti gangguan pencernaan diare atau stres,” ungkap Wiku dalam telekonferensi pers, di Graha BNPB, Jakarta, Selasa (19/1).

Guna mencegah terjadinya penularan Covid-19, ujar Wiku, pihaknya telah menggelar tes swab antigen secara massal di wilayah-wilayah terdampak bencana, salah satunya di Majene, Sulawesi Barat. Nantinya, pengungsi yang reaktif akan dirujuk ke dinas kesehatan setempat untuk dirawat lebih lanjut.

Jubir Satgas Penanganan Covid-19 Prof Wiku Adisasmito dalam telekonferensi pers di Graha BNPB , Jakarta, Selasa, 19 Januari 2021. (Foto: VOA/Ghita)

Jubir Satgas Penanganan Covid-19 Prof Wiku Adisasmito dalam telekonferensi pers di Graha BNPB , Jakarta, Selasa, 19 Januari 2021. (Foto: VOA/Ghita)

Satgas, katanya juga,akan memisahkan lokasi pengungsian antara kelompok rentan yakni usia lanjut dan penderita komorbid dengan kelompok usia muda.

“Dan paling penting, melakukan evakuasi berdasarkan penggolongan orang terdampak Covid-19. Sebaiknya pasien Covid1-9 tidak dirawat di daerah dengan risiko bencana tinggi agar tidak perlu dilakukan mobilisasi pasien pada saat bencana terjadi. BPBD dan pemda perlu menyiapkan protokol evakuasi khusus untuk melakukan evakuasi pasien dan pekerja medisnya. BPBD perlu berkoordinasi dengan dinkes agar memiliki data dan mengetahui lokasi-lokasi kasus positif yang tinggal di area terdampak bencana,” jelasnya.

Ia juga mengimbau kepada pemda terdampak bencana untuk membuat tempat evakuasi sementara (TES) dan tempat evakuasi akhir (TEA) khusus bagi penderita Covid-19 secara terpisah dengan warga yang sehat.

Lonjakan Kasus Covid-19 Disinyalir Akibat Delay Data

Dalam kesempatan ini, Wiku menjelaskan per 17 Januari 2021 terjadi kenaikan kasus sebesar 27,5 persen dibandingkan minggu lalu. Angka ini menunjukkan kenaikan kasus yang paling tinggi selama terjadinya pandemi di Indonesia, mengingat lonjakan kasus sebelumnya berkisar antara 10-15 persen per minggu.

Seorang tentara sedang disuntik vaksin Covid-19 di sebuah puskesmas di Lambaro, Aceh, Senin, 18 Januari 2021. (Foto: Chaideer Mahyuddin/AFP)

Seorang tentara sedang disuntik vaksin Covid-19 di sebuah puskesmas di Lambaro, Aceh, Senin, 18 Januari 2021. (Foto: Chaideer Mahyuddin/AFP)

“Dengan demikian angka ini mencatatkan tren kasus positif mingguan yang sudah meningkat selama 12 minggu berturut-turut. Pada minggu sebelumnya saya menyampaikan kasus harian 9.000-10.000 kasus adalah angka yang sangat tinggi namun ternyata di minggu ini kita mengalami penambahan angka harian mencapai 14 ribu kasus, hal ini tidak boleh dan tidak dapat ditoleransi,” ungkap Wiku.

Wiku mengklaim bahwa kenaikan kasus terjadi akibat verifikasi data yang terlambat sehingga mengakibatkan penumpukan pada pelaporan data di beberapa daerah.

“Saya minta ke depannya tidak ada lagi toleransi terhadap delay atau keterlambatan data karena ini sangat krusial dalam pengambilan keputusan. Dengan data yang tidak real time maka kebijakan yang dikeluarkan tidak tepat waktu sehingga menjadi tidak efektif,” paparnya.

Adapun kenaikan kasus paling tinggi pada pekan ini terjadi di Jawa Barat, DKI Jakarta, Jawa Tengah, Bali, dan Sulawesi Selatan.

Kasus kematian pada pekan ini juga meningkat secara drastis, yakni sebesar 37,4 persen dibandingkan pekan lalu. Tercatat ada 306 kematian dalam kurun 24 jam pada pekan ini. Lima provinsi dengan tingkat kematian tertinggi yakni Jawa Tengah, DKI Jakarta, Jawa Barat, Yogyakarta, dan Nusa Tenggara Timur.

Sementara itu, angka kesembuhan naik 8,2 persen dibandingkan minggu lalu. Meskipun naik, kata Wiku, angka ini tidak sebanding dengan kenaikan kasus positif dan kasus kematian yang meningkat secara signifikan.

Adapun, lima provinsi yang mencatatkan angka kesembuhan tertinggi adalah DKI Jakarta, Jawa Barat, Jawa Tenga, Kalimantan Timur dan Sulawesi Utara.

Zona Risiko Covid-19

Perkembangan zona risiko Covid-19 di Indonesia bergerak ke arah yang memburuk. Wiku mencatat daerah dengan risiko tinggi atau zona merah naik drastis menjadi 108 dari semula 70 kabupaten/kota. Kemudian daerah dengan risiko sedang atau zona oranye turun dari pekan lalu menjadi 437 kabupaten/kota. Sedangkan zona kuning juga turun menjadi 45 kabupaten/kota.

“Namun, penurunan zona oranye-kuning tidak sepadan dengan peningkatan pada zona merah yang sangat drastis. Hal ini berarti perkembangan Covid-19 terus mengalami perkembangan ke arah yang tidak diharapkan,” jelasnya.

Jumlah Testing Capai Standar WHO

Kapasitas tes Swab PCR di Indonesia, ujar Wiku, kini sudah melebihi standar yang ditetapkan oleh Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), yakni 267.000 orang per minggu atau 38.000 orang per hari secara nasional.

Tes PCR bagi ASN Pemkot Solo di Kompleks Balaikota Solo, Sabtu, 18 Juli 2020. (Foto : Pemkot Surakarta)

Tes PCR bagi ASN Pemkot Solo di Kompleks Balaikota Solo, Sabtu, 18 Juli 2020. (Foto : Pemkot Surakarta)

Meski begitu, hal tersebut harus terus ditingkatkan karena angka testing ini tidak merata di seluruh Indonesia. Ia pun berharap kepada daerah-daerah untuk terus memasifkan testing untuk deteksi dini, agar laju penularan bisa ditekan.

“Saya pun mengimbau kedepannya, kesuksesan upaya testing kita ini memiliki indikator yang lebih maju yaitu pemerataan, sekaligus memperkuat pemeriksaan pada kontak erat, hal ini dimaksudkan untuk dapat tepat menjaring populasi yang berpotensi terpapar dengan pendeteksian dini sehingga dapat dilakukan penanganan sesegera mungkin,” tuturnya. [gi//ab]





Source link

the authoradmin

Tinggalkan Balasan

Lewat ke baris perkakas