Prioritas Internasional

Pandemi Covid-19 Perparah Beban Diabetes di Kamerun



Hari Diabetes Sedunia PBB diperingati pada bulan November. Di Kamerun, para staf medis di seluruh negara di Afrika tengah itu menganjurkan para pengidap diabetes untuk kembali ke rumah sakit guna menjalani perawatan. Para pekerja kesehatan mengatakan para pasien yang khawatir tertular COVID-19, enggan datang ke rumah sakit untuk mengontrol gula darah mereka. Reporter VOA Moki Edwin Kindzeka melaporkan dari Yaoundé bahwa meskipun penyakit itu tersebar luas karena gaya hidup warga Kamerun, para petugas kesehatan mengeluh 80% pasien mereka tidak tahu kalau mereka mengidap diabetes.

Seorang dokter memberitahu beberapa orang di Rumah Sakit Umum di ibu kota Kamerun, Yaoundé, untuk pergi ke rumah sakit terdekat apabila mereka sering mengalami letih dan haus, dan minum air dan buang air kecil terus menerus. Dia mengatakan, ketika berada di RS, mereka dianjurkan untuk meminta agar gula darah mereka diperiksa.

Pendidik diabetes Agnes Koki mengatakan kampanye itu adalah bagian dari aktivitas Hari Diabetes Sedunia. Dia mengatakan para anggota staf medis ingin menganjurkan orang-orang untuk mencari tahu apakah mereka mengidap diabetes atau tidak.

“Ada begitu banyak orang di luar sana yang tak punya pengetahuan soal diabetes. Kami mendidik mereka tentang apa itu diabetes, bagaimana pilih makanan yang benar dan banyak lagi. Kami menawarkan konsultasi dan pemeriksaan gratis.”

Tukang kayu berusia 60 tahun, Hilary Lingalia, mengatakan dia didiagnosis mengidap diabetes setelah isterinya memaksanya untuk memeriksakan diri ke rumah sakit. Dia mengatakan tabib tradisional Afrika yang biasanya dia andalkan untuk mengobati sakit saraf, kondisi terkait diabetes, menyebut dia diguna-guna.

“Itu merupakan penyakit yang aneh bagi saya karena ayah ibu saya tidak pernah menderita diabetes. Pada 2014, saya mengalami komplikasi di bagian kaki sampai harus diamputasi. Saya menerima kenyataan itu.”

Program Diabetes dan Hipertensi Nasional Kamerun melaporkan bahwa prevalensi diabetes telah meningkat dari kurang dari 1 juta kasus pada 2010 menjadi lebih dari 3 juta kasus pada 2020. Laporan itu mengatakan 80% orang yang mengidap diabetes, tidak pernah didiagnosis sehingga tidak menyadari bahwa mereka mengidap penyakit itu. Kamerun juga menyalahkan gaya hidup warga Kamerun yang kurang bergerak dan berolahraga sehingga meningkatkan penyakit itu.

Solange Essunge memimpin asosiasi pasien diabetes di Yaoundé. Dia mengatakan banyak orang takut menjalani pemeriksaan diabetes karena mereka yakin penyakit itu membunuh perlahan-lahan dan tidak bisa diobati.

Dia mengatakan Asosiasi Pasien Diabetes yang dipimpinnya ingin pemerintah segera menyediakan pengobatan gratis kepada setiap orang yang gula darahnya sangat tinggi. Dia mengatakan pemerintah dan lembaga bantuan harus menunjukkan komitmen lebih besar bagi kesejahteraan pasien, dengan menyediakan perawatan di semua rumah sakit dan memberi pasien alat pengukur gula darah supaya mereka bisa mengukurnya secara mandiri.

Essunge mengatakan sejak Kamerun melaporkan kasus virus corona pertama pada Maret, banyak pasien diabetes menghindar untuk pergi ke rumah sakit karena khawatir tertular Covid. Dia mengatakan sebagian besar dari lebih dari 500 orang yang meninggal karena COVID-19 di Kamerun, merupakan pasien diabetes.

Vincent de Paul Djientcheu, direktur Rumah Sakit Umum di Yaounde dan pejabat kementerian kesehatan Kamerun mengatakan orang-orang harus mewaspadai penyakit diabetes dengan memperhatikan makanan yang mereka konsumsi serta olahraga rutin.

PBB mengatakan secara global, 422 juta orang dewasa hidup dengan diabetes pada 2014, dibandingkan dengan 108 juta pada 1980, dan bahwa prevalensi diabetes telah naik lebih cepat di negara-negara menengah dan miskin, dibandingkan di negara-negara kaya. [vm/lt]



Source link

the authoradmin

Tinggalkan Balasan

Lewat ke baris perkakas