Prioritas Internasional

Pelantang dan Kelas Outdoor, Cara Kreatif Desa India Atasi Kendala PJJ


Ketika bunyi bel dari pengeras suara atau pelantang yang dipasang di sebuah mobil van berdering sebagai tanda dimulainya kelas di Desa Kanwarsika, para murid langsung bersiap untuk belajar dari dalam rumah ataupun di sejumlah lapangan.

Setelah doa bersama, sang guru lantas mengajar plejaran kimia dengan menggunakan mikrofon dari jalan.

Kelas itu diselenggarakan untuk memastikan para siswa tidak tertinggal dalam pembelajaran setelah berbulan-bulan tidak bersekolah akibat pandemi virus corona.

Sania Ahmed, siswi kelas sembilan, mengakui kelas itu membantunya mengikuti pelajaran pelajaran. Belajar dari rumah juga membuatnya merasa aman dari ancaman virus corona.

Seorang ibu memeriksa pekerjaan rumah anaknya setelah belajar di kelas yang dibuat pasangan suami-istri Veena dan Virendra Gupta, di pinggiran jalan Kota New Delhi, di India, 3 September 2020. (Foto: AP)

Seorang ibu memeriksa pekerjaan rumah anaknya setelah belajar di kelas yang dibuat pasangan suami-istri Veena dan Virendra Gupta, di pinggiran jalan Kota New Delhi, di India, 3 September 2020. (Foto: AP)

Distrik Nuh di India bagian utara telah menemukan sejumlah cara kreatif untuk mengajar para siswa. Mulai dari menggelar kelas di alun-alun desa sebagai bagian inisiatif “sekolah komunitas” hingga mobil van yang menyuarakan bahan ajar dengan pengeras suara ke rumah-rumah warga. Para relawan dan guru setempat kini memiliki 7.000 ‘murid’ di banyak desa.

Inisiatif itu diluncurkan setelah pemerintah setempat mendapati bahwa sebagian besar siswa dari distrik-distrik berpenghasilan rendah tidak bisa mengikuti kelas daring (online) akibat ketiadaan akses komputer dan telepon pintar.

Jamshed Khan, guru SD yang mengajar di desa Righer, menjelaskan bahwa pendidikan secara digital tidak bisa dilaksanakan di distriknya, karena kebanyakan keluarga di sana hanya memiliki satu telepon genggam untuk satu keluarga besar.

Saista, yang duduk di kelas delapan, berasal dari keluarga dengan kondisi seperti itu.

Para pelajar di Kashmir belajar di luar ruang kelas di Srinagara, di wilayah Kashmir yang dikuasai India, 21 September 2020. (Foto: AP)

Para pelajar di Kashmir belajar di luar ruang kelas di Srinagara, di wilayah Kashmir yang dikuasai India, 21 September 2020. (Foto: AP)

Ia mengatakan bahwa ia punya tiga saudara laki-laki dan perempuan.Namun, hanya saudara laki-lakinyalah yang mendapat telepon, sehingga dirinya tidak bisa belajar. Itu sebabnya kelas-kelas tersebut sangat membantunya.

Di Righer, jumlah kelas komunitas bertambah menjadi 15 kelas dari hanya lima.

Para murid yang lebih muda belajar berhitung dan menulis, sedangkan murid-murid yang lebih dewasa diajari bahasa Inggris dan matematika selama dua jam kelas berlangsung. Di tengah ruangan terbuka, mereka duduk berjauhan, mengikuti protokol kesehatan terkait Covid-19.

Para relawan pengajar yang disebut “duta pendidikan” itu memiliki latar belakang beragam, dari guru hingga doktor, seperti Khushi Mohammad.

Mohammad mengatakan ia bergabung dengan inisiatif itu setelah kehilangan pekerjaannya di sebuah sekolah swasta. Kelas itu membantu dirinya dan para murid, yang kini mencoba menguasai silabus yang ada.

Anak-anak belajar di kelas yang digelar di pinggir jalan oleh pasangan suami-istri, Virendra dan Veena Gupta, di New Delhi, India, 3 September 2020 .(Foto: AP)

Anak-anak belajar di kelas yang digelar di pinggir jalan oleh pasangan suami-istri, Virendra dan Veena Gupta, di New Delhi, India, 3 September 2020 .(Foto: AP)

Bagi para siswa yang memiliki ambisi tertentu, kelas-kelas itu sangatlah penting. Faizan Khan, siswa kelas delapan, mengatakan bahwa hasil ujiannya akan menentukan apakah dirinya bisa masuk kelasilmu pengetahuan alam (IPA).

Khan mengaku bercita-cita menjadi dokter. Dia mengatakan kela-kelas itu memberinya kepercayaan diri bahwa ia bisa mendapatkan nilai yang bagus ketika sekolah nantinya kembali dibuka.

Dan seperti anak-anak lainnya, ia mengaku rindu dengan hari-hari di sekolah.

Khan mengatakan sekolah terasa lebih hidup. Kini ia bisa pulang setelah mengikuti kelas selama dua jam. Sebelum pandemi, ia baru akan pulang sekitar pukul 15.00, lalu pergi ke masjid, dan ia merindukan masa-masa itu. [rd/ft]



Source link

the authoradmin

Tinggalkan Balasan

Lewat ke baris perkakas