Prioritas Gaya Hidup

Minat Belajar Bahasa Jawa di Amerika


Keinginan orang untuk mempelajari atau menggunakan bahasa Jawa di Amerika memang jauh lebih kecil dibanding minat terhadap bahasa Indonesia yang ditawarkan di berbagai universitas sebagai salah satu bahasa-bahasa modern. Minat yang lebih kecil ini tentu bisa dimaklumi mengingat Bahasa Jawa merupakan salah satu dari banyak bahasa daerah di Indonesia. Namun demikian, di negara Paman Sam ini sering dijumpai orang-orang yang berminat besar belajar bahasa Jawa dengan berbagai alasan, mulai dari penelitian ilmiah sampai upaya melestarikan warisan yang leluhur.

Bahasa Jawa adalah salah satu dari begitu banyak bahasa daerah di Indonesia. Di Amerika ada sekelompok orang yang sangat berminat mempelajari bahasa daerah yang satu ini. Kalangan yang tertarik pada umumnya berasal dari lembaga pendidikan tinggi dengan tujuan penelitian ilmiah secara linguistik dari bahasa itu sendiri maupun dari kelompok yang berminat mempelajari karya sastra dan seni budaya Jawa. Selain itu, warga keturunan Jawa yang tinggal di Amerika juga ingin mempertahankan bahasa ibu mereka dengan alasan ingin melestarikan warisan leluhur.

Dr. Thomas Conners (foto: courtesy)

Dr. Thomas Conners (foto: courtesy)

Dr. Thomas Conners adalah warga Amerika yang pernah mendalami bahasa Jawa. Dia kini menjabat sebagai direktur studi bahasa-bahasa dan budaya Timur Dekat, Asia Tengah dan Asia Selatan di Departemen Luar Negeri Amerika. Linguis bergelar Ph.D. dari Universitas Yale dengan disertasi tentang bahasa Jawa, khususnya bahasa Jawa Tengger, ini pernah menetap di Jawa Timur dan Jakarta selama sekitar 10 tahun. Di Jawa Timur, dia tinggal di desa Ngadas di kawasan antara Gunung Bromo dan Gunung Semeru untuk benar-benar mendalami bahasa Jawa dan budaya orang Tengger. Dia bahkan tidak segan-segan untuk ikut belajar sebagai siswa di sekolah dasar setempat.

Dr. Conners mengatakan bahwa dia sangat tertarik dengan bahasa Jawa karena bahasa ini merupakan salah satu bahasa dengan jumlah penutur terbesar dari rumpun bahasa-bahasa Austronesia yang meliputi semua bahasa yang ada di Indonesia, Filipina, pulau-pulau di Pasifik, sampai ke Madagaskar. Dia mencatat persebaran bahasa Astronesia itu luar biasa, dan di antara kira-kira 1000 bahasa dalam rumpun itu, Bahasa Jawa memiliki jumlah penutur paling banyak dengan sejarah tertulis paling tua.

“Indonesia adalah negara dengan jumlah bahasa yang kedua paling besar di dunia. Di Indonesia ada berbagai macam bahasa tetapi yang terbesar adalah bahasa Jawa dengan mungkin 80/90 juta penutur. Indonesia itu seperti Laboratorium bahasa. Apa saja yang kita ingin teliti atau ingin kita ketahui tentang bahasa itu ada di kepulauan Indonesia. Bahasa Jawa khususnya memiliki beberapa keunggulan, keunikan yang hampir tidak dapat dijumpai dalam bahasa yang lain di mana pun di seluruh dunia, di mana ada sekitar tujuh ribu bahasa. Misalnya, hanya bahasa Jawa yang memiliki tingkatan dengan sopan santun, dengan unggah-ungguh sampai sedetilnya seperti ngoko, madya, krama, tapi juga ada krama inggil, krama andap dan juga berbagai variasinya,” katanya.

Selagi menjadi mahasiswa S3, Thomas Conners belajar bahasa Indonesia di alma maternya, Universitas Yale, tetapi dia kemudian semakin tertarik untuk mempelajari bahasa Jawa setelah mengunjungi Indonesia dan tinggal bersama penduduk setempat di kawasan Bromo, Jawa Timur selama satu minggu. Dia mengaku sangat terkesan dengan keramah-tamahan penduduk setempat.

“Waktu saya di Tengger, di Bromo kebetulan belum ada banyak turis dan saya sendirian mungkin satu minggu dan sempat bergabung sama warga sana yang ramah sekali. Mereka baik sekali diajak ngomong dan ternyata di situ masih ada beberapa orang yang masih belum bisa pakai bahasa Indonesia, tapi bahasa Jawa di situ juga berbeda dengan semua yang saya baca dalam buku. Semua tata bahasa, semua kamusnya yang bilang bahasa Jawa seperti ini, sebetulnya itu bahasa Jawa yang ada di Jogja, Solo, daerah Jawa Tengah. Jadi, saya mulai berpikir bahwa bahasa Jawa sebetulnya ada banyak variasi yang sama sekali belum diteliti, belum didalami. Jadi, saya tertarik dengan sesuatu yang masih belum begitu didalami,” tambahnya.

Dr. Conners mengatakan, lebih dari sekedar sebagai alat komunikasi, semua bahasa penting karena semua bahasa mencerminkan sejarah, budaya, kebiasaan, adat istiadat kelompok penggunanya, yang juga dipengaruhi oleh ruang, waktu, lingkungan termasuk flora dan fauna yang berbeda-beda dari satu kelompok satu ke kelompok lainnya. Seperti bahasa apa pun, bahasa Jawa sangat penting karena ada berbagai ungkapan dalam bahasa Jawa yang hilang makna dan nuansanya jika dinyatakan dalam bahasa lain.

Untuk pelestarian bahasa, Dr. Conners berpendapat perlu adanya upaya untuk membangkitkan rasa bangga dalam masyarakat Jawa sendiri untuk melestarikan bahasa Jawa. “Orang Jawa juga bisa menggunakan bahasa Jawa dalam media sosial yang kini sangat luas dipakai di Indonesia, dan para pemangku kepentingan dalam pendidikan di Jawa Tengah, Yogyakarta, dan Jawa Timur juga bisa memasukkannya sebagai muatan lokal dalam kurikulum pendidikan,” ujarnya.

“Coba untuk membangkitkan dalam rakyat sendiri biar mereka bisa bangga dan mereka bisa melihat sendiri seberapa penting bahasa itu, bahasa ibunya, bahasa nenek moyangnya untuk dilestarikan. Jadi, sangat, sangat penting,” tukasnya.

Nona Kurniani (foto: courtesy)

Nona Kurniani (foto: courtesy)

Nona Kurniani adalah penggiat pelajaran bahasa Indonesia dan bahasa Jawa di Amerika yang berprofesi sebagai dosen bahasa Indonesia di Universitas Johns Hopkins. Dia juga mengajar bahasa Indonesia di Kedutaan Besar Republik Indonesia, Washington, D.C., serta menjadi kepala sekolah bahasa Indonesia di Rumah Indonesia di ibu kota Amerika itu.

Di samping mengajar bahasa Indonesia, Nona juga giat menggalakkan penggunaan bahasa Jawa dan mengajar mahasiswa yang berminat. Diwawancarai VOA, dia mengatakan bahwa ada ketertarikan untuk belajar bahasa Jawa di Amerika, walaupun tidak banyak. Sejak tahun 2002 dia mengajar 12 mahasiswa Amerika yang menempuh area studi atau penelitian tentang atau di Jawa Tengah dan Jawa Timur. Bidang penelitian para mahasiswa itu beraneka ragam, termasuk etnomusikologi, antropologi, dan studi agama.

Selain itu, ada orang-orang yang belajar bahasa Jawa karena hubungan keturunan. “Ada juga mahasiswa yang belajar bahasa Jawa karena orang tuanya orang Jawa yang sudah lama menetap di Amerika. Biasanya mereka sudah lancar berbahasa Indonesia. Semua mahasiswa yang belajar bahasa Jawa juga sangat tertarik untuk belajar aksara Jawa.”

Di sela-sela kesibukannya, Nona juga menjadi relawan untuk kelas menulis aksara Jawa bagi para anggota Paguyuban Tiyang Jawi (PTJ) di Washington, D.C., dan sekitarnya.

“Pelajaran menulis aksara Jawa untuk Paguyuban Tiyang Jawi itu saya berikan karena ada sejumlah anggota yang tertarik dan merasakan keinginan untuk bernostalgia belajar aksara Jawa,” jelasnya.

Nona mengatakan, dalam kelas aksara Jawa itu ada beberapa peserta yang belum bisa berbahasa Jawa, salah seorang di antaranya orang Amerika.

Maria Rosarioningrum (foto: courtesy)

Maria Rosarioningrum (foto: courtesy)

Ditemui secara terpisah, Maria Rosarioningrum yang berprofesi sebagai instruktur bahasa dan budaya Indonesia di Lembaga Dinas Luar Negeri, Departemen Luar Negeri Amerika, dan sekaligus menjadi relawan guru bahasa Indonesia di Rumah Indonesia di Washington, D.C. mengaku senantiasa menggunakan bahasa Jawa di rumah.

Dia sependapat dengan Dr. Conners bahwa bahasa Jawa memiliki keunikan dan kekhasan yang sedapat mungkin dilestarikan. “Bahasa Jawa itu adiluhung. Itu warisan leluhur yang mesti dibanggakan dan sangat perlu dilestarikan. Kami selalu berbahasa Jawa di rumah, karena bahasa Jawa perlu “diuri-uri,” sekaligus untuk memberi contoh kepada anak-anak. Siapa tahu, hal itu akan memberikan semangat kepada mereka. Memang, sekarang mereka hanya mengerti secara pasif, tetapi siapa tahu kelak bahasa nenek moyang mereka ini, bisa menjadi sesuatu yang dirindukan.”

Sebagai instruktur bahasa Inggris dan bahasa Indonesia, Maria mengatakan betapa bahasa Jawa memiliki keunggulan dan kelebihan tersendiri. Sebagai penutur bahasa Jawa yang merupakan bahasa ibunya, dia mengaku seringkali ada ungkapan yang rasanya tidak pas jika tidak dinyatakan dalam bahasa Jawa.

“Yang saya rasakan, sering kali ada nuansa dan nilai rasa yang tidak bisa diungkapkan dalam bahasa lain, kecuali dalam bahasa Jawa,” tambah Maria.

Dr. Jozina Vander Klok (foto: courtesy)

Dr. Jozina Vander Klok (foto: courtesy)

Dr. Jozina Vander Klok adalah warga Amerika yang kini menjadi peneliti pascadoktoral di Departemen Linguistik dan Studi Skandinavia di University of Oslo, Norwegia. Sebagai seorang ahli bahasa dan pekerja lapangan, dia pernah melakukan penelitian tentang artikulasi lintas linguistik dari segi sintaksis dan semantik, dengan wawasan empiris dari bahasa Jawa. Dia melakukan penelitian lapangan di Indonesia sejak 2010, dengan fokus pada keragaman bahasa yang digunakan di Yogyakarta, Semarang, dan Paciran di Jawa Timur.

Seperti dikatakan oleh Nona Kurniani tentang motivasi mahasiswa mempelajari bahasa Jawa, Dr. Jozina Vander Klok merasa tertarik untuk belajar bahasa Jawa 14 tahun yang lalu ketika dia mulai menempuh studi program doktor dalam linguistik di Universitas McGill di Montreal, Di kampus itu pula dia mulai belajar Bahasa Jawa dari Dr. Lathiful Khuluq, orang Jawa Timur yang sedang menempuh studi di Universitas McGill dalam bidang sosiologi. “Saya t ertarik banyak dengan bahasa Jawa. Jadi, saya ingin pergi ke Indonesia, dan belajar terus di pulau Jawa,” ujar Jozina.

Bagaikan “pucuk dicinta ulam tiba,” Jozina akhirnya mendapat beasiswa tahun 2010-2011 untuk belajar bahasa Indonesia dan bahasa Jawa di Universitas Negeri Yogyakarta (UNY). Setelah kuliah di UNY, dia melanjutkan penelitian lapangan di desa Paciran, Lamongan, Jawa Timur. Ketika VOA menanyakan alasan mengapa Paciran, dia mengaku bahwa itu adalah kampung halaman Dr. Lathiful Khuluq.

“Saya bisa ketemu keluarga dia, orang tua dia, di sana. Saya tinggal di desa Paciran hampir delapan bulan, belajar bahasa Jawa. Itu pengalaman yang luar biasa dan menyenangkan. Saya ketemu orang-orang yang terhormat, murah hati, ramah. Banyak orang di Paciran seperti keluargaku sekarang. Sejak itu, saya bolak-balik ke Indonesia, meniliti bahasa Jawa dialek Paciran,” ujarnya.

Dr. Jozina Vander Klok bersama sebuah keluarga di Paciran, Lamongan, Jawa Timur (foto: courtesy).

Dr. Jozina Vander Klok bersama sebuah keluarga di Paciran, Lamongan, Jawa Timur (foto: courtesy).

Sekembalinya dari Paciran, Jozina melanjutkan belajar Bahasa Jawa dari orang Jawa lainnya, Dr. Al Makin yang ketika itu menempuh studi lanjut di Universitas McGill. Baik Dr. Lathiful Khuluq maupun Dr. Al Makin kini menjadi dosen di UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta.

Sebagai linguis yang berspesialisasi pada studi sintaksis dan semantik, Jozina menganggap khasanah Bahasa Jawa sangat kaya dan luas sehingga sangat menarik dipelajari.

“Bahasa Jawa itu sangat penting untuk linguistik karena, pertama, ada sejarah tertulis sejak abad ke-9. Ada bahasa Jawa kuno, yang paling tua, terus sejak abad ke-16 bahasa Jawa baru atau modern. Kami bisa mengerti bagaimana bahasa Jawa berkembang dalam keluarga bahasa Austronesia,” tukas Jozina.

Alasan lainnya, kata Jozina, “Bahasa Jawa itu kaya dalam perbedaan dialek-dialek. Kami bisa mengerti tata bahasa dengan mempelajari perbedaan dialek-dialek.”

Seperti kata Dr. Thomas Conners dan Dr. Jozina Vander Klok serta para pakar bahasa umumnya, walaupun hanya sebagai bahasa daerah, bahasa Jawa pantas dipelajari dan dilestarikan karena bahasa ini memiliki jumlah penutur terbesar di Indonesia. Selain itu, bahasa Jawa diakui sebagai satu-satunya bahasa di Indonesia yang memiliki sejarah sastra selama 12 abad terus menerus. [lt/em]



Source link

the authoradmin

Tinggalkan Balasan

Lewat ke baris perkakas