Prioritas Gaya Hidup

Radio Lokal Raih Untung di Tengah Pandemi


Manajer Ganie Radio yang berlokasi di Kabupaten Simalungun, Sumatera Utara, Meli Supiyati mengatakan pendapatan perusahaan medianya meningkat pada masa pandemi Corona dibandingkan dengan sebelum pandemi. Terutama mulai Mei hingga Oktober 2020. Menurut Meli, pandemi hanya berdampak pada Maret dan April saat awal Corona menyebar di Indonesia.

Namun, kata Meli, radio Ganie berhasil beradaptasi dengan cara membuat konten baru pada masa pandemi ini untuk mendapatkan tambahan pendapatan. Salah satunya dengan membuat konten suara untuk promosi UMKM.

“Sebelum masa pandemi, omset Ganie Radio paling besar itu sekitar Rp30-35 juta sebulan. Kalau sekarang, alhamdulillah kita sampai di angka Rp50 juta,” jelas Meli kepada VOA, Selasa (20/10).

Meli menuturkan konten UMKM tersebut diminati pelaku usaha di Kabupaten Simalungun karena dapat mendongkrak pendapatan mereka. Ditambah lagi, sejumlah usaha baru juga bermunculan pada masa pandemi ini seperti usaha kuliner, masker, jamu dan tanaman. Para pelaku usaha juga dapat mempublikasikan konten suara yang dibuat radio Ganie di media sosial masing-masing untuk menguatkan promosi.

“Kita belajar dari pandemi ini, bagaimana kita menjadi radio lokal yang solutif. Membuatkan paket promo untuk pelaku UMKM. Sehingga kita bisa menjadi radio lokal yang solutif, bukan hanya untuk keberlangsungan kita tapi juga UMKM,” tambah Meli.

Pelaku UMKM di tengah pandemi di Jakarta (ilustrasi). Menjadi radio lokal yang solutif bisa dilakukan dengan membuat paket promo untuk pelaku UMKM.

Pelaku UMKM di tengah pandemi di Jakarta (ilustrasi). Menjadi radio lokal yang solutif bisa dilakukan dengan membuat paket promo untuk pelaku UMKM.

Total ada 11 orang yang bekerja di Ganie Radio. Menurut Meli, tidak ada pemotongan gaji pekerja di perusahaannya selama masa pandemi Corona ini. Mereka juga masih bekerja di kantor dengan menerapkan protokol kesehatan seperti menggunakan masker dan menjaga jarak.

Hanya, ia berharap pemerintah memberikan keringanan atau penghapusan terhadap biaya Izin Penyelenggaraan Penyiaran (IPP) dan Izin Siaran Radio (ISR) yang berkisar Rp 6 juta setiap tahun.

Pola Kerja Berubah

Direktur Radio Max Fm Waingapu, Heinrich Dominggus Dengi mengatakan pendapatan radionya juga tidak terdampak pandemi Corona. Menurutnya, sejumlah perusahaan dan kantor pemerintah di Sumba Timur, Nusa Tenggara Timur masih membutuhkan distribusi informasi melalui radio ke masyarakat. Antara lain penyelenggara Pilkada dan Dinas Kesehatan.

“Kami sebenarnya tidak terlalu dampak iklan nasional. Kalau lokal juga tidak mengalami penurunan karena ada saja yang membutuhkan penyampaian informasi kepada masyarakat,” jelas Heinrich kepada VOA, Jumat (16/10).

Direktur Radio Max Fm Waingapu Heinrich Dominggus Dengi (dok. pribadi).

Direktur Radio Max Fm Waingapu Heinrich Dominggus Dengi (dok. pribadi).

Kendati demikian, Heinrich menuturkan pandemi Corona ini membuat pola kerja tujuh orang di Max FM Waingapu menjadi berubah. Mereka harus siaran dari rumah masing-masing melalui sambungan telepon agar tidak tertular Corona. Perubahan tersebut membuat biaya produksi bertambah sekitar Rp2 jutaan per bulan dan kualitas siaran sedikit menurun.

“Kualitas sudah pasti tidak sebagus di studio karena pakai telepon kadang-kadang macet, beberapa kali terjadi,” imbuhnya.

Heinrich berupaya memberikan edukasi dan informasi yang akurat kepada masyarakat pada masa pandemi. Selain itu, ia juga membuat terobosan baru untuk anak-anak sekolah dan masyarakat melalui program “Sekolah di Radio”. Program ini diharapkan dapat menjadi cara belajar yang baru pada masa pandemi Corona ini.

Pemerintah Kerjasama dengan Media Saat Pandemi

Sekretaris Jenderal Kementerian Komunikasi dan Informatika Rosarita Niken Widiastuti mengatakan pemerintah telah menggandeng perusahaan media dalam pelayanan informasi dan produksi konten terkait Corona. Total ada Rp298 miliar yang disiapkan pemerintah yang sebagian di antaranya bisa menjadi sumber pendapatan media dari kebijakan ini. Ia menegaskan kebijakan ini bukan untuk tujuan politik melainkan terkait penanganan Corona.

“Ada 6.120 slot iklan layanan masyarakat dan dialog interaktif di televisi. Dan ada 13 ribu lebih iklan di radio dan dialog interaktif,” kata Niken Widiastuti dalam diskusi daring “Mempertahankan Eksistensi Media Akibat Dampak Pandemi Covid-19”, Kamis (15/10).

Niken menjelaskan kerjasama ini diperuntukkan untuk semua jenis media yakni media cetak, siber, radio dan televisi. Menurutnya, perusahaan media dapat menghubungi asosiasi-asosiasi perusahaan media untuk dapat bekerjasama dengan kementeriannya dalam kebijakan ini.

Selain itu, pemerintah juga telah berkomitmen untuk memberikan sejumlah insentif guna mengatasi ancaman penutupan perusahaan pers dan PHK pekerja media akibat pandemi Corona. Antara lain menghapus pajak pertambahan nilai (PPN) bagi kertas koran dan mengupayakan mekanisme penundaan atau penangguhan beban listrik bagi industri media.

Namun demikian, program dari Kementerian Kominfo ini tidak sampai ke radio lokal yang kecil seperti Ganie Radio di Kabupaten Simalungun dan Radio Max Fm Waingapu di Sumba Timur. [sm/em]



Source link

the authoradmin

Tinggalkan Balasan

Lewat ke baris perkakas