Peran Orang Tua Lindungi Anak Dari Penyalahgunaan Narkotika - Koran Prioritas
Standart Prioritas

Peran Orang Tua Lindungi Anak Dari Penyalahgunaan Narkotika

Oleh: Anang Iskandar

17KViews
Koran Prioritas
Orang tua penyalah guna tidak perlu nerves kalau anaknya ditangkap oleh penyidik narkotika. Karena kepemilikan narkotika untuk dikonsumsi, indikasinya jumlah kepemilikannya terbatas untuk pemakaian sehari.

KORAN PRIORITAS.com —  Peran orang tua berdasarkan UU narkotika tidak hanya sebatas melindungi, tetapi mencakup mencegah, jangan sampai anaknya menggunakan atau mengkonsumsi narkotika.

Merehabilitasi dengan segera bila mengetahui anaknya menggunakan atau  mengkonsumsi narkotika, jangan menunggu sampai dalam keadaan ketergantungan atau kecanduan.

Melindungi anak dari penegakan hukum yang mengakibatkan anak kehilangan hak sembuh dan menyelamatkan anak dari dampat buruk akibat penyalahgunaan narkotika.

Penyalahgunaan narkotika seperti mata uang, satu sisi adalah masalah kesehatan dan sisi lain adalah masalah pelanggaran hukum pidana.

Masalah kesehatan karena penyalah guna adalah penderita sakit kecanduan atau ketergantungan narkotika dan mental kejiwaan.

Masalah pelanggaran hukum pidana karena penyalah guna adalah pelaku tindak pidana, diancam dengan pidana maksimal 4 tahun.

Bagaimana peran orang tua penyalah guna narkotika ? Ketika mengetahui anaknya menderita sakit kecanduan atau ketergantungan narkotika yang sekaligus pelanggar hukum pidana narkotika tersebut.

Yang perlu difahami orang tua penyalah guna bahwa masalah penyalahgunaan narkotika adalah masalah kesehatan dengan indikasi sakit kecanduan narkotika, yang harus disembuhkan, daripada masalah pemidanaannya dan masalah moralitasnya.

Dalam kondisi demikian, orang tua ditutut memahami masalah anaknya yang menjadi penyalah guna narkotika baik secara ilmu kesehatan maupun secara hukum pidana.

Orang tua perlu mengetahui bahwa kejahatan kepemilikan narkotika untuk dikonsumsi yang dilakukan anaknya adalah kejahatan yang tidak akan diulangi kalau anaknya sembuh dan pulih melalui proses rehabilitasi.

Kepemilikan tersebut biasanya didapat dari membeli di pasar gelap narkotika dengan jumlah terbatas, berbeda kalau membeli kemudian dijual lagi untuk diedarkan guna mendapatkan keuntungan.

Kepemilikannya narkotika untuk dikonsumsi tersebut diancam dengan hukuman pidana tetapi karena pelakunya dalam keadaan sakit kecanduan atau ketergantungan akan narkotika dan gangguan mental kejiwaan maka hukuman bagi penyalah guna “tidak” menggunakan hukuman penjara.

 

 

Oleh itu orang tua penyalah guna tidak perlu nerves kalau anaknya ditangkap oleh penyidik narkotika karena kepemilikan narkotika untuk dikonsumsi, indikasinya jumlah kepemilikannya terbatas untuk pemakaian sehari.

Kenapa tidak perlu nerves?

Karena berdasarkan UU  no 35 tahun 2009 tentang Narkotika, bahwa solusi terhadap masalah penyalahgunaan narkotika, baik secara ilmu kesehatan maupun secara hukum pidana, adalah rehabilitasi.

Rehabilitasi dapat dilakukan baik atas kemauan sendiri, atas kemauan orangtua dan atas keputusan atau ketetapan hakim.

 

 

Rehabilitasi Solusi Multi Fungsi

Rehabilitasi adalah atas bentuk hukuman yang menjadi tujuan UU, atas kejahatan yang dilakukan oleh penyalah guna dalam keadaan kecanduan atau pecandu (pasal 103/2).

Rehabilitasi adalah solusi atas permasalahan penyalahgunaan secara ilmu kesehatan. Rehabilitasi secara medis adalah proses penyembuhan (pasal 1/15) dan pemulihan (pasal 1/16)  atas sakit ketergantungan dan ganguan mental kejiwaan yang diderita penyalah guna narkotika

UU juga menyatakan dengan jelas bahwa penyalah guna dan dalam keadaan ketergantungan atau pecandu wajib menjalani rehabilitasi.

Jadi, rehabilitasi menurut UU Narkotika berfungsi ganda sebagai bentuk hukuman bagi penyalah guna dalam proses penegakan hukum dan sebagai bentuk penyembuhan atau pemulihan, sekaligus proses pencegahan agar tidak mengkonsumsi atau menggunakan narkotika lagi.

Orang tua harus faham kalau anaknya membeli narkotika untuk dikonsumsi, bukan berarti anaknya jahat, tetapi lebih karena anaknya berusaha menyembuhkan sendiri dari sakit kecanduan narkotika dan gangguan mental kejiwaan yang dideritanya.

Anak yang menjadi penyalah guna, pasti membeli narkotika secara terus menerus, dan tidak peduli kalau membeli narkotika atau memiliki narkotika itu perbuatan kriminal melanggar UU Narkotika.

Hal tersebut dilakukan oleh penyalah guna karena kondisi fisiknya sakit kecanduan, kalau tidak mengkonsumsi narkotika akan lebih menderita karena sakau.

Ini yang menyebabkan harta penyalah guna ludes, demikian pula harta orang tuanya bisa terkuras untuk membeli narkotika yang harganya sangat mahal.

Apabila hartanya sudah habis maka penyalah guna akan tetap mengkonsumsi narkotika. Pertanyaannya dari mana uang untuk membeli narkotika ?

Oleh karena itu orang tua harus merangkul anaknya yang menjadi penyalah guna dan menyembuhkannya,  jangan memberi stigma  “jahat” atau “nakal” kepada anaknya yang menjadi penyalah guna meskipun diancam pidana.

Anaknya tersebut sedang menderita ketergantungan narkotika dan gangguan mental kejiwaan yang memerlukan penyembuhan dan pemulihan agar bisa melakukan reintegrasi sosial.

Posisi penyalah guna sebagai kriminal dan penderita sakit kecanduan atau ketergantungan narkotika dan ketidak fahaman orang tua tentang bagaimana solusinya, membuat orang tua banyak yang nerves dan tidak mengerti apa yang harus diperbuat untuk melindungi anaknya dari masalah penyahgunaan narkotika ?

Ada beberapa tip yang diperlukan orang tua untuk melindungi anaknya dari penyalahgunaan narkotika adalah :

1. Memberi pengetahuan kepada anaknya bahwa narkotika adalah obat kalau disalahgunakan menjadi sangat berbahaya, karena dapat menyebabkan anaknya menderita sakit ketagihan atau ketergantungan narkotika dan gangguan mental kejiwaan.

Penderita sakit ketagihan atau ketergantungan narkotika dan gangguan mental kejiwaan ini sifatnya kronis mudah sekali relaps atau kambuh.

Penyalah guna narkotika, perbuatanya mengkonsumsi diancam dengan hukuman pidana maksimal 4 tahun penjara (pasal 127/1)

2. Agar mengingatkan anaknya, meskipun anaknya  sudah  memahami bahaya penyalahgunaan dan faham kalau penyalah guna diancam dengan hukuman penjara.

Pesan orang tua yang terpenting adalah  jangan sampai anaknya tertipu, dibujuk, dirayu dan diperdaya oleh siapapun, karena sekali tertipu, terbujuk, mempan dirayu dan terperdaya untuk menggunakan narkotika maka cenderung akan menderita sakit ketagihan / ketergantungan narkotika, lama kelamaan akan mendapatkan gangguan mental kejiwaan.

3. Orang tua berkewajiban secara sosial dan moral untuk menyembuhkan anaknya yang menjadi penyalah guna narkotika, layaknya bila anaknya ada yang sakit, agar sembuh dari sakit ketagihan atau ketergantungan narkotika dan pulih dari gangguan mental kejiwaannya.

4. Orang tua juga berkewajiban secara hukum untuk melakukan wajib lapor kepada Institusi Penerima wajib Lapor (IPWL) agar anaknya mendapatkan perawatan untuk kesembuhan dan pemulihan kondisi psykis dari sakit yang dideritanya.

Apabila orang tua sengaja tidak melaporkan anaknya yang menjadi penyalah guna dalam keadaan ketergantungan maka orang tua diancam dengan 6 bulan pidana kurungan (pasal 128)

Artinya orang tua penyalah guna dikriminalkan oleh UU Narkotika bila tidak melaporkan anaknya menjadi penyalah guna dan dalam keadaan ketergantungan narkotika untuk mendapatkan penyembuhan dan pemulihan.

Karena negara menaruh perhatian agar orang tua yang anaknya menderita sakit kecantuan atau ketergantungan narkotika diwajibkan membantu pemerintah untuk menanggulangi penyalahgunaan narkotika.

5. Orang tua yang mengetahui anaknya menjadi penyalah guna dalam keadaan ketergantungan narkotika, dan tidak melakukan wajib lapor maka anaknya yang menjadi penyalah guna tersebut dapat ditangkap oleh penyidik narkotika untuk selanjut ditempatkan dilembaga rehabilitasi selama proses penegakan hukum.

Penempatan kedalam lembaga rehabilitasi adalah kewenangan penyidik, penuntut dan hakim pada semua tingkat pemeriksaan.

6. Orang tua yang mengetahui anaknya menjadi penyalah guna dalam keadaan ketergantungan narkotika yang ditangkap oleh penyidik narkotika kemudian oleh penyidik narkotika dilakukan “penahanan” maka orang tua atau pengacaranya dapat melakukan koreksi atas penahanannya melalui praperadilan tentang sah atau tidaknya penahanan.

Bila orang tua mengetahui anaknya menjadi penyalah guna, penahanannya dilanjutkan oleh jaksa penuntut umum, orang tua atau pengacaranya juga dapat melakukan pra peradilan tentang sah atau tidaknya penahanan yang dilakukan oleh jaksa karena salah dalam penerapan pasal dakwaannya.

Demikian pula bila orang tua yang mengetahui anaknya yang menjadi penyalah guna dan dalam keadaan ketergantungan narkotika dijatuhi hukuman penjara oleh hakim, dapat langsung melakukan kasasi kepada Mahkamah Agung karena itu adalah pelanggaran atas tujuan dibuatnya UU dan pelanggaran terhadap Hak Asasi Manusia.

7. Karena orang tua penyalah guna diancam pidana, bila tidak melapor ke IPWL untuk mendapatkan penyembuhan anaknya maka orang tua juga dapat menuntut kemudahan pelayanan kepada pemerintah, karena sekarang ini sulit menemukan rumah sakit dikabupaten/kota yang membuka layanan rehabilitasi bagi penderita kecanduan atau ketergantungan narkotika.

Adalah tugas pemerintah untuk menyiapkan atau membuka layanan rehabilitasi bagi penderita sakit kecanduan atau ketergantungan narkotika dan gangguan mental, pada rumah sakit milik pemerintah tergelar kabupaten /kota diseluruh Indonesia.

Karena politik hukum negara (DPR dan Pemerintah) menyatakan ; memberikan perhatian khusus kepada penyalahgunaan narkotika dengan melakukan tindakan mencegah, mengidentifikasi dini, pendidikan, after care, rehabilitasi dan rehabilitasi sosial bagi penyalah guna narkotika.

Dan memberikan alternatif hukuman bagi penyalah guna narkotika yang menjalani proses hukum berupa rehabilitasi.

Politik hukum negara selama ini tidak terealisasi dengan baik dalam program Kementrian Kesehatan, karena terkendala pada praktek penegakan hukum yang melakukan penahanan terhadap penyalah guna dan menghukum dengan hukuman penjara.

Penulis adalah Aktivis Anti Narkoba Yang Kreatif dan Rajin Menjadi Penulis buku. Mantan Kepala Badan Reserse Kriminal Polri dan Kepala Badan Narkotika Nasional Indonesia. Jenderal bintang tiga yang humanis.
****

 Anang Iskandar lahir di Mojokerto, pada tanggal 18 Mei 1958 tepatnya di Jl. Empu Nala No. 351, Kelurahan Kedundung, Kecamatan Kota, Mojokerto.

Ibu saya bernama Raunah, Asli Mojokerto tidak sekolah sehingga tidak dapat membaca.

Beliau membimbing saya, dan saudara – saudara saya dengan menggunakan bahasa jawa, dengan tradisi budaya religius jawa kuno yang cenderung mengajarkan tradisi – tradisi leluhur, tanpa mengajarkan latar belakang maupun tujuannya.

Sedangkan Ayah saya bernama Suyitno Kamari Jaya seorang tukang cukur dahulu di Jl. Residen Padmudji, didepan losmen Merdeka Mojokerto, selama hidupnya berprofesi sebagai tukang potong rambut sampai ahirnya meninggal dunia tahun 1983, ketika anak saya yang pertama masih dalam kandungan.

Saya mewarisi darah seni dari ayah sebagai tukang potong rambut. Ketika saya kelas 4 SD sudah mulai dikenalkan alat – alat potong rambut dan pertama kali saya mencukur, saya lupa persisnya berapa, tetapi yang saya ingat ketika itu bapak saya memperbaiki kamar mandi di rumah, saya dan teman saya yang bernama Tukiman Pedet ikut membantu.

Setelah selesai memperbaiki kamar mandi teman saya dihadiahi cukur rambut, tetapi bapak saya meminta yang memotong rambut teman saya tersebut saya. Mulai saat itulah saya gandrung mempelajari seni potong rambut.

Ketika masuk SMA TNH Mojokerto, kalau pagi, saya nyukur di sekolahan saya, yang menjadi pelanggan adalah anak – anak SD TNH. Hal ini bisa terjadi karena difasilitasi oleh seorang Guru (GC) bernama ibu Yulia, dimana sampai saat ini kurang lebih 30 tahun saya belum pernah bertemu dengan beliau dan ibu Sutidjab yang mendorong murid – muridnya untuk cukur ditempat saya yang ada di lingkungan kompleks Sekolah TNH.

Setelah memasuki kelas 3 SMA saya memutuskan untuk belajar fotografi, pada seorang guru fotografi yang bernama Jacob Frehadi, yang juga guru saya ketika saya duduk di SMP Negeri 2 Mojokerto. Kepada beliau saya mulai belajar dari tingkat dasar, sampai dengan mampu mencetak, pada saat itu masih menggunakan system manual.

Saya juga belajar melukis secara formal di Sekolah Dasar kepada bu Yatmi, ketika Sekolah Menengah Pertama saya belajar melukis secara mandiri dan pada waktu SMA saya dibimbing melukis oleh Pak Gatuk, walapun tidak banyak orang yang mengagumi hasil lukisan saya

Kemampuan Mencukur rambut dan fotografi, dan melukis inilah yang sengaja saya siapkan untuk menjadi bekal dalam berjuang menjalani kehidupan setelah lulus SMA.

Dalam suatu pembicaraan dengan ayah saya, Bapak menjelaskan secara gamblang bahwa beliau tidak mampu menyekolahkan saya ke perguruan tinggi, dan hanya sanggup menyekolahkan saya sampai dengan lulus SMA, sama dengan kakak perempuanmu apalagi adik – adik mu banyak jelasnya. Namun saya punya tekad dan keyakinan yang kuat ingin menjadi Sarjana, dengan berbekal tukang cukur dan tukang foto.

Setelah lulus SMA saya mendaftar untuk mengikuti tes masuk perguruan tinggi, dan jurusan yang saya pilih fakultas Peternakan, karena menurut saya jurusan tersebut dapat mendukung cita – cita saya sebagai Lurah di kampung halaman saya.

Di samping saya mengikuti tes seleksi Perguruan Tinggi, saya juga mengikuti tes seleksi masuk AKABRI. Karena pada saat itu ada pengumuman seleksi masuk AKABRI dan saya diajak teman saya yang bernama Ali Suyono, walaupun akhirnya dia membatalkan untuk Masuk AKABRI.

Pada saat itu juga sudah terjadi polemik : “anang gak mungkin masuk akabri karena yang masuk akabri itu anaknya Jendral atau anaknya penggede yang banyak uangnya.” Sedangkan saya hanyalah anak tukang cukur dibawah pohon asem, sehingga pada saat itu miris juga waktu menjalani tes masuk AKABRI. Namun pada saat pengumuman hasil seleksi, saya dinyatakan lulus AKABRI dengan nomer urut 43 dari 203 peserta yang dinyatakan lulus.

Latihan dasar keprajuritan Chandradimuka dilaksanakan selama 4 Bulan di kaki gunung Tidar sampai dengan Bukit Menoreh saya, di gembleng olah Keprajuritan untuk menjadi prajurit yang tangguh, karena diberi tantangan kehidupan, godaan lingkungan, hambatan dan rintangan alam, ditunjukan tujuan kehidupan menjadi seorang Prajurit, termasuk bagaimana mencapainya agar kita menyenangkan dan sukses sebagai seorang Prajurit.

Karena ketika itu untuk menjadi seorang Perwira Polisi lulusan AKPOL harus mengikuti olah keprajuritan tersebut. Ya harap maklum waktu itu pendidikan Polisi dibawah kendali ABRI. Pada saat latihan Chandradimuka ini saya mendapatkan penghargaan dari Gubernur AKABRI Umum dan Darat Mayor Jendral TNI Gunawan Wibisono sebagai peserta terbaik no 3.

Sedangkan peserta terbaik 2 diraih oleh Dipo, dan peserta terbaik 1 oleh Sunaryo, yang akhirnya mereka berdua masuk AKABRI Udara,

Ketika menjadi Taruna Akpol rasanya hanya menyenangkan saja, pada saat teman – teman Apel antara Flat A dan B yang biasanya diisi dengan pembinaan, “ ya dikerpam, dapat kipas cindrawasih, kadang – kadang dapat buto – buto galak , kalau lagi beruntung dapat minyak – minyak”, pada saat demikian saya biasanya dipanggil senior untuk mencukur, sehingga bebas dari intrik – intrik selama di AKPOL.

Pada waktu saya menjadi senior, saya berkesempatan latihan kepemimpinan dengan menjadi DANKIE KORPS Taruna Batalion Jagratara untuk mengasuh adik – adik Taruna AKPOL agar menjadi Polisi yang mempunyai karakter pejuang.

Harus menegakan hukum yang penuh dengan godaan rupiah, karakter pelayan yang harus melayani masyarakat yang benar – benar perlu mendapatkan berbagai variasi pelayanan, karakter yang tangguh karena harus menjaga keamanan secara terus menerus, karena menurut saya tidak semua taruna AKPOL menemukan semangat menjadi pemimpin, bahkan banyak diantara TARUNA yang tidak menemukan keyakinan bahwa bekal kehidupan ada di Akademi Kepolisian.

Pada tanggal 15 Maret 1982 saya dilantik menjadi Perwira Muda dengan Upacara MIliter dimana Inspektur Upacaranya adalah Presiden Republik Indonesia, Jendral Soeharto di Bumi Moro Krembangan Surabaya, dihadiri oleh Ibu dan Bapak, dan saudara – saudara saya. Rasanya bangga dapat menjadi Perwira Muda Polri, setelah pelantikan, orang tua saya mengadakan syukuran Ya Sekedar Tumpengan dengan panggang ayam yang cukup meriah ala tradisi Keluarga.

Saat Pertama Menjadi seorang Pemimpin Muda Polisi

Saya untuk pertama kali ditempatkan di Polda Bali, ketika itu namanya Polda Nusa Tenggara gabungan Polda Bali, Polda NTB, Polda NTT dan Polda Tim – Tim.

Pada saat itu yang menjadi Kapoldanya adalah Mayor Jendral Soedarmadji. Pertama kali datang ke Polda NUSRA saya bersama teman saya, Letda. Pol Sabar Rahardjo dan Letda. Pol Widyo Sunaryo.

Selanjutnya saya ditempatkan menjadi Pa Polsek Kota Denpasar, sedangkan Widyo Sunaryo menjadi Pa Polsek Sanur dan Sabar menjadi Dankie Sabhara Polda Nusra.

Setelah selesai mengikuti pendidikan dasar Reserse di Ciputat selama 4 Bulan, kalau ada yang bertanya mengapa pendidikan Reserse di Ciputat ?

Karena Pusdik Serse di Megamendung sedang dipakai untuk mendidik peserta pengembangan Reserse lainnya. Setelah selesai pendidikan saya kembali ke Polda NUSRA dan ditugaskan menjadi KAPOLSEK Denpasar Selatan, lokasi kantor saya di Sanur.

Saya bertugas lebih 1 tahun 4 Bulan, kemudian saya dipindahkan menjadi Kapolsek KUTA, disini saya hanya menjabat kurang lebih 6 bulan, setelah itu saya diberi tanggung jawab sebagai Komandan KP3 Bali International Airport Ngurah Rai.

Ketika menjadi Kapolsek saya mendapatkan banyak masalah yang tidak dapat saya pecahkan dengan bekal pendidikan yang saya miliki, ketika terjadi kerusuhan yang mengakibatkan terbakarnya rumah warga yang dilakukan oleh kelompok masyarakat.

Pengarahan pimpinan waktu itu bukan menangkap seluruh pelakunya namun memfokuskan diri menjaga agar kerusuhan tidak meluas, padahal saat itu saya berpikir pelaku dapat ditangkap, namun kenyataanya tidak.

Hal ini membuat saya bertanya – tanya “mengapa pelakunya tidak ditangkap, tapi justru petugas Polisi hanya mengamankan saja ? ” .

Ketika mengikuti pendidikan PTIK di Kebayoran Baru permasalahan semacam ini menjadi topik diskusi, dari diskusi tersebut saya mendapatkan jawaban mengapa ketika itu saya diperintahkan untuk mengamankan tidak menangkap pelakunya langsung.

Dalam hati saya berpendapat bahwa tidak cukup hanya lulusan AKABRI untuk memecahkan problematika Kepolisian.

Lulus PTIK saya ditempatkan di Polda Metro menjadi Kasat Serse di Polres Tangerang, setelah itu Kapolsek Metro Pancoran, dan kembali ke Reserse Polda Metro sebagai Ka. Unit Vice Control, Kapolsek Taman Sari Polres Jakarta Barat, setelah itu pindah menjadi Paban muda Binkar Spers ABRI.

Kemudian saya berkesempatan mengikuti pendidikan Sespim POLRI, lulus tahun 1997.

Selanjutnya saya ditempatkan di Polda Bengkulu sebagai Sesdit Bimmas dan kembali lagi menjadi Paban Madya Binkar Spers ABRI di Cilangkap. Ini jabatan kedua selama bertugas di Mabes ABRI

Saat menjadi Pemimpin

Pertama kali memegang Tongkat Komando Kepolisian pada acara serah terima Jabatan Kapolres Blitar dari Letkol. Pol Drs. Sulityo Iskhak, banyak masalah besar terjadi dapat diselesaikan secara tuntas, diataranya Kasus Branggah Banaran yaitu masalah sengketa perkebunan dengan masyarakat sekitarnya.

Di Polres Blitar saya menerapkan contoh ajaran Hasta Brata konsep kepemimpinan yang diajarakan oleh Begawan Kesowosidi kepada calon pemimpin sebelum resmi menjadi pemimpin. ajaran ini tidak saya dapatkan di pendidikan formal Kepolisian manapun. Setelah itu saya dimutasi menjadi Kapolres Kediri.

Setelah setahun menjabat sebagai Kapolres Kediri saya mendapatkan tugas menjadi Kepala sekola Polisi Negara Bangsal, yang berkedudukan di tempat kelahiran saya Mojokerto. Pada awal saya menjadi Kepala SPN Bangsal, kondisi SPN tidak ada proses belajar mengajar kurang lebih setengah tahun.

Karena tidak mempunyai murid, saya mengajarkan kepemimpinan dengan metode Outbond kepada para Instruktur, yang berfokus pada kepedulian terhadap lingkungan dan membangun semangat berjuang.

Karena tidak mempunyai siswa dalam kurun waktu yang cukup lama, tentu kondisi lingkungan SPN Mojokerto ketika itu terlihat kumuh. Rumput, gedung, dan fasilitas lainnya tidak terawat.

Oleh karena itu saya memimpin sendiri gerakan membersihkan lingkungan dan tiap hari melaksankan apel membawa alat – alat kebersihan seperti, sabit, sapu, pengki.

Karena seringnya Apel Pagi membawa alat – alat kebersihan, sampai – sampai saya mendengar ada pertanyaan seorang anak kepada bapaknya: “ Kenapa setiap apel sekarang ini membawa sabit ? Apa Polisi sudah jadi tukang ngarit ? “ .

Setiap hari saya juga apel membawa sabit dan ikut menyabit rumput, di luar dugaan, di hari – hari berikutnya semangat anggota saya terbakar…. Mereka tidak kenal lelah dalam membersihkan lingkungan SPN.

Setelah menjabat Ka SPN kurang lebih 1 Tahun 4 Bulan saya dipromosikan menjadi Ka SPN LIDO Polda Metro Jaya, disini saya bertemu tutor outbond Suherman yang juga senior di AKPOL dan ibu Erna yang akhirnya menjadi satu tim untuk mengajar outbond di SPN Lido, dan berhasil membawa Mahasiswa PTIK, Taruna Akademi Pemasyarakatan, Sat Pol PP Pemda DKI serta beberapa kementrian melaksanakan outbond di Lido.

Di SPN Lido inilah saya mengajarkan materi Adult Learning, dan outbond dari negeri asalnya Inggris, dengan muatan keteladanan yang berisi keserdahanaan dan kepedulian terhadap lingkungan, Capacity Building, Team Building, dan jujur dalam pelaksanaan tugas.

Kembali ke Kota Besar

Di Jakarta saya dipercaya menjadi Kapolres Metropolitan Jakarta Timur setelah menyelesaikan tugas sebagai Ka SPN Lido, disitu saya mempraktekan teori dan menguji kembali praktek merubah budaya Polisi Metropolitan dalam kehidupan sehari – hari, saya mempraktekan teori keteladanan dan menguji kembali praktek merubah budaya Polisi Metropolitan dalam kehidupan sehari – hari, saya ajarkan mereka untuk meningkatkan kemampuan melalui evaluasi dan feed back setiap malam Jumat dalam acara gelar oprasional.

Saya tunjukan bagaimana membangun tim yang solid melalui kesederhanaan, kepedulian terhadap sesama, lingkungan kehidupan dan jujur dalam melaksanakan tugas serta konsistensinya dalam menjalankan nilai – nilai Kepolisian dalam kehidupan sehari – hari.

11 Januari 2006 saya dilantik menjadi Kapolwiltabes Surabaya, dengan tugas khusus ketika itu memberantas perjudian, Narkotika, dan illegal Loging. Disini saya mempraktekan terus budaya Polisi dengan membangun Performance Polisi seperti Polisi sesungguhnya persis Polisi ideal, walaupun tantangannya sangat berat, bahkan ada masyarakat abu – abu yang menjelek – jelekan dan membuat scenario cerita bohong yang nadanya memfitnah saya dan Polisi senior yang tidak mau tau tentang hasil praktek Polisi ideal, lebih – lebih ada pimpinan yang menjuluki saya sebagai Polisi yang tidak bisa diatur.

Setelah saya menyelesaikan tugas sebagai Kapolwiltabes Surabaya selama 2 setengah tahun, saya diberi tugas untuk mengimunisasi masyarakat agar tidak terkontaminasi Narkoba, sebagai Kapus Cegah Lakhar BNN.

Di sini saya mendapatkan anugrah Jendral Bintang Satu, yang merupakan impian ayah saya ketika masih hidup, impian saya dan impian keluarga besar saya. Oleh karena itu ketika saya dilantik menjadi Jendral, sebagai wujud syukur, saya membeli 1000 butir Onde – onde yang merupakan produk unggulan Kota Mojkerto untuk dibagikan kepada masyarakat.

Di BNN ini, saya mendapatkan pelajaran baru tentang Indonesia dengan tugas membangun investasi masa depan sumber daya manusia Indonesia agar terhindar dari masalah narkoba dan dampak buruknya, dimana sebelumnya penugasan saya hanya berkecimpung pada masalah penegakan hukum khususnya khususnya tugas diwilayah “Jakarta – Surabaya PP”.

Karena tugas saya membangun masyarakat anti narkoba, melalui pembentukan kader seluruh Propinsi di Indonesia, maka ibarat sambil menyelam minum air, saya manfaatkan perjalanan dinas ini untuk mengetahui Kehidupan sosial, budaya, alam, perekonomian di Propinsi seluruh Indonesia. Saya menyimpulkan Indonesia itu indah dan berpotensi menjadi besar.

Teriring dengan perkembangan serta dinamika Orgnanisasi BNN, saya di tugaskan sebagai Direktur Advokasi Deputi Pencegahan BNN. Setelah 3 Tahun menempati pos di BNN, pada tanggal 28 oktober 2011 saya diangkat menjadi Kapolda Jambi, yang berarti diberi kesempatan untuk memimpin Satuan kerja di lingkungan Polri.Anang 4

Ada 32 Satker yang saya pimpin baik di tingkat Polda maupun kewilayahan. Disini saya dapat mempraktekan management sumber daya manusia secara BETAH (Bersih Transparan Akuntable dan Humanis), dari proses seleksi sampai dengan mendapatkan calon peserta pendidikan, dan dampak dari proses rekruitmen tersebut diketahui hasilnya sangat membanggakan.

Bayangkan anak tukang ayam bisa diterima menjadi Polisi, anak penjaga kebun berhasil lulus tes menjadi Polisi. Saya juga dapat mempraktekan operasi multi sasaran tingkat Polda dan salah satu hasil yang menonjol adalah menangkap ganja 1,1 Ton yang dimuat truck tronton ketika melintas di wilayah hukum Polda Jambi.

Setelah 8 Bulan menjadi Kapolda Jambi, saya tepatnya tanggal 2 juli 2012 dipercaya DSC_0750menjadi Kadiv Humas Polri, rasanya agak kaget karena tidak pernah punya pengalaman sebelumnya mengenai kehumasan.

Tugas ini saya rasakan paling berat namun menyenangkan karena harus melayanai  para wartawan yang jumlahnya banyak, semuanya ingin mendapatkan pelayanan dengan segera, sedangkan untuk mendapatkan informasi yang diminta sangat sulit, menjadi Kadiv Humas  ini merupakan tugas yang paling sukses, karena saya laksanankan paling singkat yaitu 2 bulan.

Setelah itu saya dipercaya menjadi Gubernur Akademi Kepolisian di Semarang dimana jabatan ini menjadi jabatan ke 3 kalinya saya menjadi Kepala Sekolah di lingkungan Kepolisian.

photo

Saya sangat menikmati menjadi Guru sekaligus Kepala Sekolah yang menghasilkan Perwira calon Pemimpin Polri dimasa yang akan datang. Disini saya teringat kembali ketika menjadi tutor Outbond yang harus memeberikan feedback – feedback tentang leadership, yang menyangkut tentang keteladanan, team building, peningkatan kemampuan, keberhasilan dalam pelaksanaan tugas.

Ketika sedang upacara wisuda dasar Bhayangkara taruna batalion Satrio Pambudi Luhur Angkatan 47 saya mendapatkan kabar bahwa Presiden telah menunjuk saya menjadi Kepala Badan Narkotika Nasional, yang berarti saya kembali lagi ke BNN setalah 1 Tahun 2 Bulan meninggalkan BNN.

AE9W719711 Desember 2012 saya dilantik menjadi Kepala BNN yang ke 2 oleh Kapolri, dengan tugas mencegah masyarakat agar tidak menggunakan narkoba, menyetop pengguna untuk tidak mengkonsumsi narkoba dan merehabilitasi 4 Juta yang sudah terlanjur  terkontaminasi narkoba, memberdayakan masyarakat,  individu maupun kelompok, untuk melibatkan diri menjadi Subjek P4GN, dan memberantas jaringan peredaran gelap narkoba.

Langkah pertama ketika saya menjabat sebagai Kepala BNN adalah menyampaikan arah kebijakan BNN melalui Commander Wish yang saya sampaikan kepada seluruh jajaran BNN, dimana dalam commander wish tersebut berisi mengenai arahan untuk membangun kepemimpnan diri pada setiap strata organisasi BNN untuk menyeimbangkan antara unsur – unsur keteladanan, peningkatan kemampuan, team building dan keberhasilan setiap pelaksanaan tugas.

Hal ini menjadi penting bagi seluruh keluarga besar BNN dalam menjalankan tugas dan amanat yang diberikan oleh negara.

Melihat banyaknya beban yang dipikul oleh Kementerian Hukum dan Ham khusunya Lapas yang overload dan prevalensi pengguna narkoba tidak pernah menunjukan kecenderungan penurunIMG_6950an sejak diberlakukan undang – undang narkotika tahun 1976, saya melihat persoalan tersebut disebabkan oleh fakta empiris dimana pengguna narkoba illegal selalu diposisikan sebagai penjahat yang dihukum dengan hukuman penjara.

Setelah saya memplajari dan melakukan penelitian secara mendalam, saya yakini bahwa situasi ini harus dirubah.

Dipertengahan tahun 2013, hal ini saya laporkan kepada Presiden RI dalam acara peringatan HANI di Istana Merdeka, beliau menyambut baik bahkan beliau mendorong agar masyarakat dapat menepatakan pengguna narkkoba sebagai korban, mereka sudah kehilangan masa kini dan masa lalunya, jangan sampai kehilangan masa depannya.

Pada bulan Oktober, 2013 saya menyelesaikan penelitian desertasi  saya mengenai Dekriminalisasi Pengguna Narkoba dalam konstruksi hukum positif. Dalam sidang yang saya lakukan ada hal yang cukup penting yang disampaikan oleh salah penguji dalam sidang tersebutAE9W5402 “Desertasi Saudara Menjungkirbalikan Tatanan Berpikir Para Ahli dan Penegak Hukum Yang saat ini sudah mapan, apa yang menjadi latar belakang desertasi saudara promovedeus”.

Hal ini menjadi tantangan bagi saya untuk merealisasi kebijakan Dekriminalisasi  bagi pengguna Narkoba.

Pada awal tahun 2014, Kebijakan Dekriminalisasi pengguna narkoba saya luncurkan melalui program penyelamatan pengguna narkoba, dengan tema pengguna narkoba lebih baik direhabilitasi daripada dipenjara, sebagai realisasi dari dekriminalisasi dan depenalisasi pengguna narkoba menurut hukum positif.

2 Ternyata, kebijakan ini menimbulakn pro dan kontra dikalangan penegak hukum dan masyarakat  ketika saya menghadiri Sidang High Level Segment dan CND – 57 tahun 2014, saya merasa lebih  bersemangat, karena dunia saat ini tren-nya adalah mendekriminalisasi pengguna narkoba yang diyakini lebih efektif dalam menyelesaikan masalah narkoba.

Pada tahun 2013, saya memperkenalkan sebuah trobosan kebijakan dalam menangai penyalah guna narkoba dalam kosepsi Dekriminalisation of drug use ; yang berarti removal sanction under criminal law.

Konsepsi ini diartikan bahwa penyalah guna narkoba, yang membawa, memiliki, menguaasai narkoba dalam jumlah tertentu (sedikit untuk pemakain satu hari) bagi dirinya sendiri diberikan sanksi tindakan berupa pemulihan melalui rehabilitasi, tidak dilakukan penahanan selama pemeriksaan baik tingkat penyidikan, penuntutan, maupun pemeriksaan di pengadilan.

Di awal tahun 2014 saya sebagai Kepala BNN mensosialisasi konsepsi tersebut, dengan isu  pengguna narkoba lebih baik direhabilitasi daripada dipenjara. walaupun mendapat tanggapan yang beraneka ragam namun akhirnya pemerintah mengeluarkan Peraturan Bersama Mahkumjakpol plus Mensos, Menkes, dan Ka BNN untuk bagaimana menangani penyala guna yang bermasalah dengan hukum  (tidak mau melapor, dan tertangkap oleh penyidik).

Apabila di resume pengalaman penugasan dan pendidikan saya sebagai berikut :

  1. Wakapolsek Denpasar Kota
  2. Kapolsek Denpasar Selatan
  3. Kapolsek Kuta Bali
  4. Dan KP3 BIA Ngurah Rai Bali
  5. Perwira Siswa PTIK
  6. Kasat Serse Tangerang Polda Metro Jaya
  7. Kapolsek Pancoran Jakarta Selatan
  8. KA Unit VC Sat Serse Umum Dit Serse Polda Metro Jaya
  9. Kapolsek Taman Sari Polres Metro Jakarta Barat
  10. Paban Muda Binkar Spers ABRI
  11. Perwira Siswa Sespim Polri
  12. Sesdit Bimas Polda Bengkulu
  13. Paban Madya Binkar Spers ABRI
  14. Kapolres Blitar Polda Jawa Timur
  15. Kapolres Kediri Polda Jawa Timur
  16. Kepala Sekolah Polisi Negara Mojokerto Polda Jawa Timur
  17. Kepala Sekolah Polisi Negara Lido Polda Metro Jaya
  18. Kapolres Metropolitan Jakrta Timur
  19. Peserta Sespati Angkatan IX
  20. Kapolwiltabes Surabaya Polda Jawa Timur
  21. Kapus Cegah Lakhar BNN
  22. Dir Advokasi Deputi Cegah BNN
  23. Kapolda jambi
  24. Kadiv Humas Polri
  25. Gubernur Akademi Kepolisian
  26. Kepala Badan Narkotika Nasional – sampai sekarang
  27. Kepala Badan Reserse Republik Indonesia

Pendidikan Polisi :

  • Lulus AKABRI Kepolisian Tahun 1982
  • Lulus PTIK Tahun 1987
  • Lulus Sespim Tahun 1997
  • Lulus Sespati Tahun 2005
  • Susjab Kapolres Tahun 1999
  • Dikjurpa Serse Tahun 1983
  • Lat Penyidikan Narkotika Tahun 1989
  • Lat Penyidik Tahun 1999
  • Management Course Tahun 2000
  • ESQ Leadership Training 2010
  • Out Bound Leadership Training Tahun 1993
  • Kursus Intensif bahasa Inggris Angkatan 32 Elemntary dan angkatan 33 Intermediate.
  • Pelatihan menembak Senjata Genggam, lulus tahun 1997.
  • Pendidikan umum :
  • Lulus SD Negri 6 Balonggari Mojokerto
  • Lulus SMP Negri 2 Mojokerto
  • Lulus SMA TNH Mojokerto
  • Lulus S1 FH Pancasila, Jakarta
  • Lulus S2 Pasca Sarjana Universitas 17 Agustus Surabaya.
  • Lulus  S3 Program Doktor Ilmu Hukum Universitas Trisakti.

Pengalaman Luar Negeri :

  • Peace Keeping Operation Course Australia
  • Police Comperative Study at France.
  • Delegasi Indonesia Sidang ASOD DI Brunei Darussalam
  • Delegasi Indonesia Sidang ASOD Di Kamboja
  • Delegasi Indonesia Sidang ASOD Di Indonesia
  • Delegasi Indonesia Sidang ASOD Di Laos
  • Delegasi Indonesia pada The 2ND Colombo Plan Drug Advasory Programe (CPDAP) Di Jakarta, Indonesia.
  • Delegasi BNN Dalam Rangka Comperasi Study Alternative Development Program Di Chiang Rai, Thailand.
  • Delegasi BNN Dalam Rangka Comperasi Study ke Iran Dan Belanda
  • Delegasi BNN Kunjungan ke San Patignano, Italy
  • Delegasi BNN Dalam Rangka Comperasi Study Harm and Demand Reduction ke Cina
  • Delegasi Indonesia dalam Kunjungan Kerja Presiden RI ke Nigeria
  • Pimpinan Delegasi Indonesi pada Sidang CND ke 56 di Wina, Austria
  • Pimpinan Delegasi RI dalam  kunjungan kerja ke Kolombia dan Peru.
  • Pimpinan Delegasi RI dalam Sidang IDEC XXX, Moscow, Rusia.
  • Pimpinan Delegasi RI dalam  Sidang  AMMDM Ke II, Brunei.
  • Pimpinan Delegasi RI dalam Sidang CND ke 57 di Wina, Austria.
  • Chairman Asean Ministrial Meeting on Drugs Matters, Jakarta 2014.

Pengalaman Lain-lain :

  • Tutor Outboud
  • Narasumber Nasional Pencegahan Narkotika
  • Project Officer Community Development Kampung Permata
  • Proyek Oficer Lomba Kampung Bersih Narkoba, Surabya, DKI, DIY.
  • Pameran Lukisan bersama Cak Kandar, di Sheraton Hotel Surabya,
  • Ketua Senat Sespati angkatan IX
  • Ketua Keluarga Alumni Universitas Pancasila Jakarta 2014 – 2016
  • Dosen Perbandingan Ilmu Hukum Universitas Trisakti Jakarta
  • Dosen Program Pasca Sarjana STIK-PTIK
  • Penghargaan masyarakat :
  • Penghargaan dari Gubernur AKABRI UDARAT sebagai Peserta terbaik 3 Chandradimuka th. 1978.
  • Man of the Year Th. 2007 dari Yayasan Penghargaan Indonesia.
  • Penghargaan sebagai Insan penggerak Pembangunan Indonesia Berprestasi Tahun 2007 dan 2008
  • Borgol Award JTV th. 2007 dan 2008
  • Penghargaan sebagai Citra Insan Informasi Indonesia,
  • Peraih Mesin Jahit Emas, 100 Tahun Singer.
  • Penghargaan dari Gubernur BI, Atas Prestasi mengungkap peredaran Uang Palsu
  • Penghargaan dari Gubernur PTIK, Atas Pengabdian dalam pelaksanaan Outbond Mahasiswa PTIK.
  • Bintang Emas 2014 vrsi majalah MATRA
  • Tokoh Nasional bidang Pemerintahan tahun 2015 dari PWI Jatim
  • Penghargaan dari Negara
  • Satya Lencana, kesetian 8 Tahun
  • Satya Lencana, kesetian 16 Tahun
  • Satya Lencana, kesetian 24 Tahun
  • Satya Lencana, Dwijasista.
  • Satya Lencana, Yanautama
  • Bintang Bhayangkara Nararya.
  • Bintang Bhayangkara Pratama.
  • Satya Lencana pengabdian 32 Tahun
  • Satya Lencana Bhaktin Purna.

Karya yang telah diterbitkan

  • Surabaya Kinclong
  • Outboud Polwiltabes Surabaya Menuju Budaya Baru (ed)
  • Paradigma baru pencegahan Narkoba
  • Dari kampung untuk Indonesia
  • Perjalanan menuju Indonesia bebas narkoba (ed)
  • Catatan Kapolda Jambi ; POLISI DITANTANG KRINGETAN
  • Jalan Lurus penanganan penyalah guna narkoba.

Kemampuan Lain

  • Dan – 1 Wadokai Karatedo Indonesi
  • Dan – 1 LEMKARI
  • Tukang Potong rambut
  • Fotografer

Pelukis.

 

Koran Prioritas
admin
the authoradmin

Leave a Reply