Akhir Episode Memakai Jas - Koran Prioritas
Prioritas Gaya Hidup

Akhir Episode Memakai Jas

39Views
Koran Prioritas
KORAN PRIORITAS —  Beberapa teman, atau kenalan wartawan, kalau menulis saya belakangan ini, sering memakai kalimat “lelaki yang sekarang usianya mendekati senja ini…”
Atau banyak juga yang memakai kalimat “lelaki yang mulai memasuki senja,” atau “lelaki yang telah mulai sepuh.”
Memang Oktober tahun ini usia saya bakal 61 tahun. Tentu banyak jejak sejarah dan memori kehidupan dan penghidupan yang melekat pada diri saya. Salah satu busana jas.
Sebenarnya, sejak kecil saya sudah senang memakai jas. Bukan apa-apa, kala itu sebagai anak kecil saya melihat busana jas menampilkan banyak sisi kerapian lelaki dilihat dari berbagai aspeknya.
Lagi pula kala itu memakai jas masih langka.
Berdasarkan pengalaman tersebut, manakala saya jadi wartawan, timbul gagasan dalam diri saya: untuk menghindari suap, sogok dan gratifikasi, sebaiknya saya kalau tugas pakai jas (setidaknya pakai dasi).
Jadi bukan untuk “sombong-sombongan” atau “sok kebarat-baratan.”
Lantas jelasnya kenapa?
Kala itu, dengan berbagai alasan, pemberian uang bensin, uang transpotasi, tanda persahabatan dan lain sebagainya, sudah lumrah buat wartawan terima duit dari narasumber atau lembaga yang mengadakan konprensi pers.
“Kalau diberikan sukarela, dan sepanjang tidak mempengaruhi penulisan, gak apa-apa,” begitu alasan sebagian besar sobat wartawan.
Dari sana lantas berkembang lagi, banyak wartawan menganut prinsip, para narasumber atau instansi yang terkait dengan pemberitaan pers, menjadi setengah wajib memberikan uang kepada wartawan.
Muncullah istilah “wartawan amplop” lantaran duitnya yang diberikan kepada wartawan diberikan dalam amplop.
Belakangan, lebih hebat lagi, banyak wartawan atau mereka yang mengaku wartawan datang berbondong-bondong ke narasumber atau lembaga untuk “meminta” atau “memeras” duit.
Muncullah istilah wartawan “bodrex.” Istilah ini diambil dari iklan obat bodrex yang memperlihatkan rombongan kuman yang menyerang dan dipukul balik.
Tentu saya menghormati pendapat itu. Setidaknya saya tidak mengomenteri soal itu, kecuali yang melakukan pemerasan.
Tapi saya sendiri punya pandangan “garis sangat keras.” Saya pribadi sebagai wartawan menghindari hal semacam itu.
Bagaimana caranya?
Nah itu tadi, pake jas itulah!
Dengan melihat ada wartawan memakai jas waktu bertugas, para narasumber dan humas bakal berpikir, wah ini wartawan pasti orang kaya.
Jarang wartawan lapangan memakai jas, kecuali untuk acara-acara resmi. Kalau wartawan itu kaya, pikir mereka, berapa nanyak saya harus beri amplop  ke dia?
Kalo dari standar perusahaan untuk wartawan, pasti gak cukup. Lagi pula, kalau kesedikatan kasih duitnya, jangan-jangan dianggap menghina. Ya, kalau begitu, sudahlah wartawan itu gak usah dikasih.
Dan itulah yang terjadi.
Sepanjang saya bertugas di lapangan tak ada satu pun narasumber atau lembaga pun yang “berani” memberikan saya amplop, duit suap dan yang sejenisnya, bahkan juga group-group konglomerat besar yang saat itu masih berjaya.
Soal sebenarnya saya sedang gak punya duit atau sedang “cekak,” itu urusan lain.
Kala itu bagi saya martabat dan independensi wartawan harus ditegakkan lebih dahulu. Soal rezeki biarlah Gusti Allah yang mengatur.
Saya ingat kakek dan Ayah saya sebagai wartawan. Saya tidak mau menodai darah daging darimana saya berasal.
Sebagai keturunannya, saya harus menjaga harkat dan martabat mereka, dan juga harkat martabat saya sendiri.
Kebiasaan memakai jas juga beranjut ketika menjadi penasehat hukum dan menjadi pengurus (direksi atau komisaris) korporasi.
Ke pesta pernikahan atau jadi pembicara juga pake jas. Mungkin itulah sebabnya ketika pelukis Hardi melukis profil saya, otomatis menampilkan saya memakai jas!
Boleh dibilang jas saya cukup lengkap.
Dari zaman penjahit di Glodok, Pasar baru, Isardas 24 jam selesai, Sriwisnu Taylor sampai zaman jas branded yang sudah jadi dan dijual di mall-mall, seperti Hugo Boss, Versase, Salvator dan sebagai, sempat saya miliki.
Tentu bersamaan dengan itu melekat juga dasi-dasi untuk stelan jas.
Kini tak terasa sudah setidak-tidaknya 45 tahunan saya memakai jas.
Dalam sekitar 10 tahun terakhir trend mulai berubah. Baju batik dan kain tradisional mulai menjadi pakaian formal. Ke kantor pun orang tak lagi memakai jas, kecuali acara tertentu.
“Sudah gak zaman lagi kemana-mana pakai jas,” tandas isteri saya. Anak-anak saya pun mengiyakan.
Demikianlah. Saya sedikit demi sedikit mulai koleksi batik ATBM (alat tenun bukan mesin), sehingga akhirnya baik dalam acara sehari-hari maupun acara resmi, saya sudah lebih banyak pakai batik.
Sebagai orang Parahiangan, salah satu motif batik yang saya gandrungi “ maung” atau macan. Ternyata tanpa sengaja dan tanpa janjian, sobat saya yang kini jadi ketua MPR, Bambang Soesatyo, juga menyukai motif tersebut.
Kini tak terasa di lemari pakian pribadi saya, susunan batik mulai mendesak jas. Padahal koleksi jas sebagian besar sudah saya pindahkan.
Memasuki usia 61 tahun pada tahun ini, saya memutuskan “mempensiunkan” sebagian besar jas saya. Jas-jas itu saya simpan ke dalam koper-koper.
Hanya beberapa jas yang saya tetap tinggalkan di lemari, kalau-kalau diperlukan. Karena ukuran badan saya naik turun, dua anak lelaki saya juga cuma mengambil satu dua jas yang cocok dengan ukuran badan mereka.
Selebihnya saya simpan di beberapa koper. Suatu saat kalau waktu sudah luang, bakal saya “lungsurkan” jas-jas itu kepada masyarakat yang lebih membutuhkan.
Selesai sudah satu episode lagi dalam hidup saya. Satu  episode rutin memakai jas.
Dan umurpun terus berjalan….
Koran Prioritas

Leave a Reply